Rekans yth,
cerita semacam ini memang sering kita dengar di republik ini
trimakasih Rekan Dodiek EL yg mengangkat ceritanya.
saya hanya ingin mengingatkan kita bersama dengan pernyataan dari beliau
sbb:

"*Saya pikir kalau potensi lahan kritis jutaan Ha *dioptimalkan memproduksi
BBN dari beragam tanaman produktif (a.l. sorgum, nipah, aren, etc), maka
kita tidak perlu import BB*M*, bahkan bisa eksport BB*N* ke manca negara.
Surplus devisanya bisa buat bayar utang negara, sekaligus peningkatan
pendapatan petani pendukung BBN dan membuka lapangan kerja skala pedesaan
sesuai kemampuan tenaga kerja lokal. Anda punya komentar ? "

ketika kita bertani selalu menghitung dengan tanah yg subur, ketika kita
promosi menggunakan istilah lahan kritis,
ketika kami membantu perusahaan besar melakukan penanaman singkong utk
bioetanol, perlu upaya lebih utk
dihasilkan rendemen yg tinggi, sehingga jargon lahan kritis akan sangat
membutuhkan energi lebih daripada
asumsi lahan biasa
terimakasih

Rum D Mutiara


2010/6/21 Dodiek EL <[email protected]>

> Rekans,
>
> Minggu 20 Juni 2010 jam 9 malam di kanal TVRI dengan *host* Slamet
> Rahardjo, sempat saya ikuti, membahas BioEtanol oleh narasumber Kurtubi
> pengamat energi, Ir. Ismiyatun anggota DPR komisi VII, dan DR. Adi Brata
> wakil petani singkong & produsen BioEtanol. Kurtubi mengatakan ada anggaran
> APBN untuk subsidi Bahan Bakar Nabati BBN (Biodiesel dan Bioetanol) sebesar
> *+* Rp. 2000,- per liter. Bu Ismiyatun mengatakan bahwa subsidi dikaitkan
> dengan harga BBN global (basis harga import). Yang menarik adalah pendapat
> DR. Adi Brata, bahwa secara umum biaya produksi BioEtanol basis singkong
> mencapai Rp. 3400,-/liter atas dasar rendemen bahan baku 6kg (@ Rp.
> 400,-/kg) singkong menjadi 1 liter BioEtanol 96%. Dan pencapaian optimal
> produksi panen singkong 180 Ton/ha, maka harga bahan baku singkong bisa Rp.
> 100,-/kg dan biaya produksi BioEtanol 96% dapat mencapai Rp. 1600,-/liter.
> Pada akhir tahun 2010 Belanda akan memproduksi BioEtanol 8,2 juta liter per
> tahun basis bahan singkong yg diimport dari Filipina dan Vietnam, padahal 3
> tahun lalu mereka belajar dari petani Bogor. Referensi produksi BioEtanol
> terbesar dunia adalah Brazil dengan 11 juta liter /tahun berbasis tanaman
> tebu, dan aplikasi BioEtanol di Brazil untuk campuran 85% + 15% bensin pada
> mobil dan 100% bahan bakar pesawat ringan “Embraer –  Ipanema model”
> produksi nasional Brazil.
>
> Jadi pertanyaan adalah untuk siapa besaran anggaran subsidi Bahan Bakar
> Nabati BBN pd APBN, padahal biaya produksi BBN BioEtanol lokal lebih rendah
> dari BBM subsidi. Dan mengapa pencapaian produksi BioEtanol tsb diabaikan
> oleh pejabat publik pemegang kebijakan energi nasional, bahkan cenderung
> mempertahankan kebijakan import BBM ! Yang menyedihkan beberapa produsen
> BioEthanol lokal ditangkap aparat karena dituduh memproduksi bahan minuman
> beralkohol ilegal, padahal struktur kimia BBN 99,9% (*denaturated*)
> berbeda dengan minuman beralkohol. Kesannya kok : siapa lawan siapa . . .
>
> Kita punya Inpres Nomor 1 tahun 2006, Dewan Energi Nasional, Komite Ekonomi
> Nasional, Komite Inovasi Nasional, program KIB II ‘*de-bottlenecking*’ . .
> “mana janjimu” (= lagu band Nidji) . .
>
> Saya pikir kalau potensi lahan kritis jutaan Ha dioptimalkan memproduksi
> BBN dari beragam tanaman produktif (a.l. sorgum, nipah, aren, etc), maka
> kita tidak perlu import BB*M*, bahkan bisa eksport BB*N* ke manca negara.
> Surplus devisanya bisa buat bayar utang negara, sekaligus peningkatan
> pendapatan petani pendukung BBN dan membuka lapangan kerja skala pedesaan
> sesuai kemampuan tenaga kerja lokal. Anda punya komentar ?
>
> Salam,
>
> Dodiek
>
> NB : Masyarakat tradisional biasa membuat minuman beralkohol (= saguer,
> sofi, tuak, arak, etc), dengan kadar alkohol 30~ 40% dengan teknologi
> pedesaan.
>
>
>
>

Kirim email ke