Indonesia Taklukkan Korea Selatan 3-0

Oleh Cardiyan HIS 

Arogansi
Huh Jung Moo kena batunya dihadapan Ronny Pattinasarany. Pemain terbaik
turnamen Marah Halim Cup 1981 di Medan (Sumatra Utara)  ini tak berkutik dan 
gagal mengulang sukses
tim Korea Selatan yang menjuarai Marah Halim Cup 1981 karena kalah telak 0-3 
dari Ronny
Patti dkk di stadion Senayan, Jakarta. Sebuah “Pelajaran Sepakbola Indonesia”
lagi yang berhasil dipetik hikmahnya oleh negara lain yang kemudian jauh
meninggalkan Indonesia sekarang ini. 

 

Huh Jung Moo adalah pahlawan Korea
Selatan. Pelatih tim nasional Korea Selatan ini telah membawa timnas Korea
Selatan ke babak dua Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan dengan status runner-up
grup  B, di bawah  Argentina. Huh Jung Moo akan memutar lebih
keras lagi otaknya karena hari Sabtu, 26 Juni 2010 jam 21.00 WIB ini,  Korea 
Selatan akan berhadapan melawan tim
kuat Amerika Latin yakni timnas Uruguay, yang berhasil menjuarai grup A secara
meyakinkan. 

Bagi
Huh Jung Moo hal ini menjadi lebih bermakna, karena ini yang pertama bagi Korea
Selatan lolos ke babak kedua di luar kandangnya dalam sejarah keikutsertaannya
sebagai pelanggan wakil Asia ke Piala Dunia. Pencapaiannya sebagai asisten
pelatih Guus Hiddink yang meloloskan Korea Selatan ke semifinal Piala Dunia
2002 sering “disinisi” karena berlangsung di kandangnya sendiri, Seoul.

Huh
Jung Moo, termasuk salah seorang dari sedikit orang di dunia yang meraih sukses
cemerlang sebagai mantan pemain tim nasional maupun sebagai pelatih tim
nasional. Siapa sangka Huh Jung Moo adalah pemain yang pernah meraih sukses
sebagai “The Most Valuable Player” pada turnamen bergengsi di Asia yang
masuk dalam kalender FIFA, Marah Halim Cup, Medan, 1981. Timnas Korea Selatan
berhasil menjuarai turnamen Marah Halim Cup setelah mengalahkan tim nasional
Jepang 3-2 dan sekaligus menobatkan Huh Jung Moo sebagai pemain terbaik. 

Pencapaian
Huh Jung Moo ini mengalahkan seniornya, Cha
Bum Keun. Cha adalahpemain tim nasional Korea
Selatan pertama yang merumput di luar negeri yakni di Bundesliga Jerman Barat
pada klub Bayer Leverkusen. Kehebatan
Cha Bum Keun diturunkan kepada Cha Doori, anak
kandungnya sendiri yang bermain sebagai bek kanan Korea Selatan di Piala Dunia
2010 Afrika Selatan ini. Mengapa?  Karena
meskipun Cha Bum Keun terpilih sebagai pemain terbaik turnamen Marah Halim Cup
1975, tetapi ia gagal membawa tim nasional Korea Selatan juara; kalah 0-2 dari
kesebelasan Australia. Nah, kemudian selepas turnamen Marah Halim Cup ini, Huh
Jung Moo mengikuti jejak seniornya Cha  Bum Keun yang sudah pensiun, dan 
diterima
sebagai pemain pada klub yang sama, Bayer Leverkusen.

Sebagai
tim yang menjuarai Marah Halim Cup, sebelum pulang ke negerinya tim nasional
Korea Selatan ini diundang oleh PSSI untuk bertanding di stadion utama Senayan.
PSSI secara resmi menunjuk klub juara Galatama Indonesia pertama 1979; Warna
Agung, untuk mengusung nama baik Indonesia. Disinilah pertaruhan nama baik Huh
Jung Moo ternoda. Ini gara-gara ulahnya sendiri yang terlalu arogan. Yang
memandang sebelah mata kesebelasan Warna Agung juara kompetisi Galatama
Indonesia ini meskipun di Korea Selatan sendiri K-League belum ada seperti
sekarang ini.

Dan
arogansi Huh Jung Moo kena batunya. Karena tim Korea Selatan ini menemui lawan
yak tak bisa dibilang enteng. Huh Jung Moo yang bertindak sebagai kapten
ternyata bermain sangat emosional. Sedikit saja ada pelanggaran terhadap
pemain-pemain Korea Selatan, ia memprotes sangat keras kepada wasit. Malah
dilakukan dengan sangat tidak sopan yakni sambil berkacak pinggang dan bahkan
dengan sedikit meludah.

Maka
pertandingan menjadi benar-benar milik Indonesia. Ronny Patti sebagai libero
terbaik Indonesia memimpin orchestra sepakbola Indonesia dengan indahnya. Di
bawah mistar kiper Endang Tirtana tampil sangat prima dan berhasil melakukan
beberapa kali safety gemilang. Warta Kusumah, stopper,  yang dikader Ronny 
Patti sebagai cikal bakal
penerusnya, bersama seniornya bek kanan Simson Rumahpasal dan bek kiri Marcelly
Tambayong, sangat taktis dalam merebut bola dan kemudian mengalirkannya ke
barisan gelandang. Ada Budi Riva disini, seorang gelandang genius menurut
penilaian pelatih tim nasional Indonesia ke Piala Kaisar Jepang 1977 dan juga
pelatih Persija Jakarta; Marek Janota. Di barisan gelandang Budi Riva bahu
membahu dengan Gusnul Yakin dan gelandang muda cemerlang Rully Nere plus
gelandang sayap gantung; Robby Binur. Seperti mutiara-mutiara hitam asal
Persipura, Robby Binur ini sangat luar biasa dalam melakukan dribble bola
melewati satu-dua pemain  lawan.
Sedangkan duo penyerang Warna Agung adalah sang senior striker
Risdianto yang sangat tajam menjadi semakin tajam lagi dengan kehadiran yunior 
striker asal
Persipura pula; Stevanus Sirey.

Stevanus
Sirey inilah yang memporak-porandakan barisan belakang lawan karena kecepatan 
sprint pendeknya
dalam menembus tembok Korea Selatan. Ini tak bisa dilepaskan atas kejelian
Risdianto dalam mengelabui bek Korea Selatan untuk melakukan tik-tak dengan
Sirey. Dua gol yang dicetak Sirey berasal dari pola serangan seperti itu,
karena pelatih Drg. Endang Witarsa sudah
sangat hapal tipikal Korea Selatan. Endang Witarsa memang menjadi pelatih
timnas Indonesia sejak jaman melatih Soetjipto Soentoro dkk dalam menggunduli
Korea Selatan dan Jepang di turnamen-turnamen bergengsi di Asia seperti Merdeka
Games, Kuala Lumpur (Malaysia); King’s Cup, Bangkok (Thailand); Aga Khan Gold
Cup, Dhaka (Pakistan Timur ketika itu); Piala Sukan (Singapura). Kelemahan para
pemain belakang Korea Selatan  yang
tinggi besar adalah kekakuan dalam membalikkan badan. Dan bermain tik-tak cepat
adalah keunggulan para pemain Indonesia seperti Risdianto dan Sirey yang
dimanfaatkan betul  kemampuan keduanya
oleh pelatih Endang Witarsa, untuk menjebol tembok Korea Selatan. 

Namun
Indonesia tak hanya bermain tik-tak di kotak penalti lawan. Satu gol yang
mengukuhkan kemenangan Indonesia 3-0 atas Korea Selatan disarangkan begitu
cantik dan telak. Bermula dari serangan melalui sayap gantung Robby Binur begitu
cantiknya. Setelah melewati dua pemain Korea Selatan, Robby memberikan umpan
tarik sangat cantik ke Risdianto. Si “Gayeng” (julukan khas untuk Risdianto)
ini tak menendang ke gawang Korea Selatan tetapi meloloskan di sela kedua
kakinya.  Karena Risdianto melihat
Stevanus Sirey coming from behind lebih pas untuk
mengeksekusinya sebagai gol. Gol luar biasa, bersarang begitu telak di gawang
Korea Selatan; Stevanus Sirey membuat hattrick!!!  

Dan
Huh Jung Moo sebagai kapten Korea Selatan semakin frustasi memimpin
rekan-rekannya. Puncaknya adalah ketika seorang pemain belakang Korea Selatan
melakukan pelanggaran di kotak penalti dan wasit memberikan hadiah penalti
untuk Indonesia. Huh Jung Moo protes sangat keras sambil meludah dan wasit 
mengganjar
kartu kuning untuknya. 

Ronny
Patti mengambil tendangan penalti. Penonton di Senayan bersorak gembira dan 
berharap
Indonesia mencukur Korea Selatan dengan 4-0. Maklum kemenangan terakhir
Indonesia atas Korea Selatan terjadi pada tahun 1972 ketika Iswadi Idris dkk 
mengalahkan
timnas Korea Selatan 4-2 di final turnamen Jakarta Anniversary Cup. Ronny Patti
dengan tenang dan percaya diri ancang-ancang untuk menendang. Dan ternyata ……..
Ronny Patti dengan sengaja melakukan tendangan jauh melebar ke samping kanan! 

Rupanya
Ronny Patti tak ingin Korea Selatan, juara Marah Halim Cup 1981 dipermalukan
demikian dalam. Ronny masih punya cara menundukkan arogansi Huh Jung Moo,
dengan cara Ronny Patti sendiri yakni bermain elegan dan sportif. Ronny Patti
pemain paling cerdas yang pernah dimiliki oleh Indonesia versi kapten timnas
Soetjipto Soentoro telah memberikan “pelajaran sepakbola Indonesia” kepada Huh
Jung Moo. Ronny Patti telah meninggalkan kita selamanya yang bersama 
senior-seniornya
almarhum Soetjipto Soentoro, Iswadi Idris dkk telah berhasil menempatkan
Indonesia secara terhormat di Peta Sepakbola Asia,  meskipun mereka tak 
berhasil meloloskan
Indonesia ke Piala Dunia karena jatah Asia di jamannya hanya 1 (satu) Negara 
saja.
Sementara Huh Jung Moo yang merasakan “Pelajaran
Sepakbola Indonesia” telah menikmati ajang Piala Dunia dua kali sebagai
pemain nasional maupun kemudian sebagai asisten pelatih kepala Guus Hiddink dan
sekarang sebagai pelatih kepala tim nasional Korea Selatan ke Piala Dunia 2010
di Afrika Selatan. Semoga kiprah Huh Jung Moo berlanjut dengan meloloskan Korea
Selatan ke tahap lebih terhormat lagi, mewakili kehormatan benua Asia bersama
timnas Jepang.

 www.cardiyanhis.blogspot.com



Kirim email ke