Saya gak tau mas.. Yg sy tau Man Arafa nafsahu qad arafa rabahu, baru kemudian kita tau bahwa kita tidak berdaya upaya (maaf kalau ada typo/missed spell).
Jadi suarakan yg benar, karena Li ayat li ulil albab.. Sehingga Ya ayuhanafs mutmainah... Saya gak pernah kenal suntzu, cuma tau bukunya. Kalau suzuki, ya saya tau. Aniway, kalo takut sama inggris, buka saja rahasia bretton woods dan green hilton.. Suruh mereka bayar hutang atau dicap sbg negara miskin yg kalah perang. Demikian mungkin dg banyak kekurangan.. Salam Tribas -----Original Message----- From: "Sumitro Roestam" <[email protected]> Sender: [email protected]: Tue, 7 Sep 2010 05:08:31 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [indonesia] Re: Ganyang-Mengganyang bukan Eranya kini. Pakailah Strategi yang jituuntuk Menguasai Wilayah Perbatasan Indonesia-Malysia Pak Tri yth, Mengikuti strategi perang Panglima Sun Tzu, sudahkah Anda mengukur kekuatan kita maupun lawan kita? Menurut beliau, "If you don't know your enemy or yourself, you are bound to perish in all battles". Wassalam, S Roestam http://presidenku.com Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! -----Original Message----- From: "Tri Basoeki Soelisvichyanto" <[email protected]> Sender: [email protected]: Tue, 7 Sep 2010 04:43:34 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [indonesia] Re: Ganyang-Mengganyang bukan Eranya kini. Pakailah Strategi yang jituuntuk Menguasai Wilayah Perbatasan Indonesia-Malysia Bukankah itu yg dimaukan oleh malaysia? Tidak berperang tetapi mengulur2 waktu. Bagaimana kalau kita pakai kebalikannya? Secepat kilat kita berangus mereka? Jadi tidak mengulur2 waktu? Wah.... Saya mungkin bodoh, sy juga mungkin tak pandai strategi. Yang sy tau, hanya pengkhianat bangsa yg menghapuskan opsi (sekali lagi masih opsi) perang ketika negara diobok-obok... Amerika dan inggris saja yg katanya civilized masih melakukan (bukan cuma sebagai opsi) perang...? Piye? Salam, Tribas -----Original Message----- From: "Anis Hariri" <[email protected]> Sender: [email protected]: Tue, 7 Sep 2010 04:01:09 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [indonesia] Re: Ganyang-Mengganyang bukan Eranya kini. Pakailah Strategi yang jituuntuk Menguasai Wilayah Perbatasan Indonesia-Malysia Penentuan perbatasan itu menganut hukum internasional, bukan karepe dewe. Sejak tahun 1982 indonesia meratifikasi UNCLOS. Ya tinggal pakar-pakar hukum, kelautan, geodesi, dsb melakukan argumentasi secara ilmiah bahwa batas yang kita buat itu sesuai hukum internasional. Bukan karena karepe dewe. Sama halnya ketika kita hidup bertetangga, ada aturan-aturan dalam membuat batas tanah kita. Sent from my XL BlackBerry® -----Original Message----- From: [email protected] Sender: [email protected]: Tue, 7 Sep 2010 03:42:39 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [indonesia] Re: Ganyang-Mengganyang bukan Eranya kini. Pakailah Strategi yang jituuntuk Menguasai Wilayah Perbatasan Indonesia-Malysia Kalo kita sdh menetapkan batas wilayah kita, sesuai aturan yg ada, ya jgn berubah2, tetap kekeh dan pertahankan. Gak perlu tuh perundingan2 lg ttg perbatasan. Tdk ada manfaatnya. Batas wilayah tdk perlu lg drundingkan. Yg drundingkan, mereka mau ikutan apa gak invest d wilayah indonesia. Usulan makmurkan daerah perbatasan, boleh2 aja. Yg paling penting sikap tegas dan keras kita thdp pelanggar perbatasan. Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -----Original Message----- From: S Roestam <[email protected]> Sender: [email protected]: Tue, 7 Sep 2010 10:12:38 To: <[email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]>; <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [indonesia] Ganyang-Mengganyang bukan Eranya kini. Pakailah Strategi yang jitu untuk Menguasai Wilayah Perbatasan Indonesia-Malysia Kawan2 Anggota Milis Yth, Era Ganyang-Mengganyang bukan eranya lagi kini. Yang kita perlukan adalah kehebatan Strategi Kita dalam menghadapi Malaysia dalam memperebutkan penentuan wilayah2 perbatasan Indonesia-Malaysia. Diperlukan kecerdasan otak untuk dapat memenangkan persaingan, keunggulan strategi Indonesia. Saat ini Malaysia sudah punya strategi jitu, yang pernah ia gunakan untuk memenangkan persaingan di tingkat Mahkamah Arbitrasi Internasional beberapa tahun yang lalu, karena kekalahan kita dalam persiapan strateginya, yaitu terlepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Karena pada akhirnya pihak Arbitrator melihat kenyataan dilapangan, yaitu di pulau2 itu secara de-fakto sudah dikuasai oleh Malaysia secara sosial, budaya, bisnis dan perekonomiannya. Rakyat di pulau2 itu sudah memamakai uang Ringgit Malaysia sebagai alat perdagangan mereka, bahasa melayu logat Malaysia, administrasi wilayah sudah ada secara de-fakto, layanan biro-biro wisata Internasional untuk mengunjungi wilayah2 itu juga sudah dipromosikan oleh Biro2 Perjalanan di Malaysia ke luar negeri..... jadi praktis kedua pulau itu adalah wilayah Malaysia. Perundingan dua-pihak Indonesia-Malaysia yang sekarang sedang berlangsung hanyalah bagian dari taktik Malaysia untuk mengulur-ulur waktu, sebab dipastikan tidak akan ada kesepakatan pembagian wilayah diperbatasan kedua negara itu, sebab wilayah yang di-klaim Indonesia adalah berdasarkan kesepakan PBB tentang ZEE, sedangkan Malysia tidak mengakuinya, sebab ia tidak ikut tandatangan kesepakatan PBB itu. Malaysia memakai perbatasan wilayahnya berdasarkan aturan yg ada sebelumnya, yang sangat menguntungkannya. Karena pada akhirnya perundingan yang hanya melibatkan dua-pihak Indonesia-Malaysia akan menemui jalan buntu. Akhirnyaperistiwa Sipadan-Ligitan akan terulang lagi. Kedua negara akan meminta bantuan Arbitator Internasional untuk memecahkan jalan buntu itu, yang akan memenangkan Malaysia lagi, bilamana kita tidak mau belajar dari pengalaman masa lalu, tidak punya strategi dan taktik yang lebih jitu dar pada Malaysia! Strategi dan Taktik kita untuk memenangkan penguasaan wilayah2 perbatasan harus lebih baik dari paad Malaysia. Kita dapat mengerahkan pemuda-pemudi Indonesia sebagai pionir2 untuk membangun wilayah2 perbatasn itu secara cepat dengan dukungan dana dan semanagt membangun dari para Pengusaha Indonesia danm segenap 250-juta Rakyat Indonesia. Kita ciptakan wilayah2 perbatasan itu menjadi lebih makmur dari pada wilayah Malaysia diseberangnya, dengan fasilitas2 telekomunikasi, TV, Radio, transportasi yg baik, wisata, hiburan dan sarana2 penunjang lainnya. Dengan demikian, bukannya para TKI yang akan mencari kerja ke Malaysia, malah sebaliknya para TK Malaysia yang akan mencari kerja di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia itu yg sudah makmur. Lalu siapakah para pemuda-pemudi Indonesia yang akan jadi pionir pembangunan Wilayah Perbatasan itu? Yang petama adalah para TKI yang sekarang sedang bekerja di Malaysia yg sudah punya pengalaman dilapangan ber-tahun2 untuk membangun negeri Malaysia (contoh: Twin Tower di Kuala Lumpur adalah karya para TKI Indonesia). Para TKI itu tentu akan lebih memilih bekerja di wilayah perbatasan, dari pada di Malaysia, sebab mereka sekarang diperlakukan sebagai Warga Kelas Tiga, diperlaukuakn kasar, bekerja tanpa jam kerja, digaji sangat minim, dibentak, dicambuk, disetrika, disiksa sampai cacad, atau sampai meninggal dunia (sudah banyak kasus2nya). Tentu para pionir2 pemuda-pemudi Indonesia akan mendapatkan imbalan jauh lebih baik dari pada kalau bekerja sebagai TKI di Malaysia, ditambah merekja sangat bangga sebagai pionir yang dihormati oleh segenap Rakyat Indonesia! Perundingan bilateral yang ada tetap saja dijalankan, tetapi bukan lagi menjadi tujuan utama atau harapan utama. Ini hanya seperti yang dilakukan oleh Malaysia, sebagai taktik untuk mengulur-ulur waktu saja! Silahkan saran saya ini segera diteruskan ke Bapak Presiden SBY untuk segra di-implementasikan, sehingga kita bisa mantap dan tenang, sebab sudah ada Strategi dan Taktik yg jitu untuk memenagkan persainagn perbatasan Indonesia-Malaysia. Tidak perlu lagi demo2 yang hanya menghabiskan tenaga, pikiran, dan waktu, serta dapat merugikan perekonomian Indonesia. Semoga bermanfat bagi kemajuan bangas dan negara. Wassalam, S Roestam http://presidenku.com
