Salam, sangat mendukung usulan dari bapak Rustam , mungkin bisa disampaikan 
sampai presiden melalui ketua alumni ITB Bpk. Hatta Rajasa, demonstrasi yang 
dimotori LSM, Bendera, berupa kesiasiaan saja, kalau ingin berperang 
,mempelajari sejarah perang dunia kedua, Hitler dengan jajaran Nazinya dan 
dendam kesumat atas kekalahan dari sekutu ( al/ Prancis) pada perang dunia1 dg 
.perjanjian Versaillies yang sangat memalukan bagi Jerman, mencoba dg sembunyi2 
membangun angkatan perangnya terutama dg Bapak Pnazer Jerman " GUDERIAN" 
persiapannya demikian matang untuk berperang sehingga sejarah perang dunia 1 
tidak terulang, Perang dunia ke 2 dimulai dg mencoba doktrin perang yang baru " 
Blitzkrieg" dg percobaan melalap Polandia dalm waktu hitungan hari , Perancis 
yang masih memakai doktrin lama dg dibantu Inggris dihabisi dalam waktu sekejap 
dg Blitzkrignya, Inggris ter-birit 2 

lintang pukang meng evakuasi melalui Dunkirk, Maaf kalau kita ber kaok2 ingin 
perang, wah akan terjadi penyengsaraan rakyat yang luar biasa, hati2 dg bahaya 
laten komunis, ini yang perlu diwaspadai. Salam LZ





________________________________
From: S Roestam <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]; 
[email protected]; [email protected]
Sent: Tue, September 7, 2010 10:12:38 AM
Subject: [indonesia] Ganyang-Mengganyang bukan Eranya kini. Pakailah Strategi 
yang jitu untuk Menguasai Wilayah Perbatasan Indonesia-Malysia

Kawan2 Anggota Milis Yth,

Era Ganyang-Mengganyang bukan eranya lagi kini.

Yang kita perlukan adalah kehebatan Strategi Kita dalam menghadapi Malaysia 
dalam memperebutkan penentuan wilayah2 perbatasan Indonesia-Malaysia.

Diperlukan kecerdasan otak untuk dapat memenangkan persaingan, keunggulan 
strategi Indonesia.

Saat ini Malaysia sudah punya strategi jitu, yang pernah ia gunakan untuk 
memenangkan persaingan di tingkat Mahkamah Arbitrasi Internasional beberapa 
tahun yang lalu, karena kekalahan kita dalam persiapan strateginya, yaitu 
terlepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan.

Bagaimana hal itu bisa terjadi? Karena pada akhirnya pihak Arbitrator melihat 
kenyataan dilapangan, yaitu di pulau2 itu secara de-fakto sudah dikuasai oleh 
Malaysia secara sosial, budaya, bisnis dan perekonomiannya. Rakyat di pulau2 
itu 
sudah memamakai uang Ringgit Malaysia sebagai alat perdagangan mereka, bahasa 
melayu logat Malaysia, administrasi wilayah sudah ada secara de-fakto, layanan 
biro-biro wisata Internasional untuk mengunjungi wilayah2 itu juga sudah 
dipromosikan oleh Biro2 Perjalanan di Malaysia ke luar negeri..... jadi praktis 
kedua pulau itu adalah wilayah Malaysia.

Perundingan dua-pihak Indonesia-Malaysia yang sekarang sedang berlangsung 
hanyalah bagian dari taktik Malaysia untuk mengulur-ulur waktu, sebab 
dipastikan 
tidak akan ada kesepakatan pembagian wilayah diperbatasan kedua negara itu, 
sebab wilayah yang di-klaim Indonesia adalah berdasarkan kesepakan PBB tentang 
ZEE, sedangkan Malysia tidak mengakuinya, sebab ia tidak ikut tandatangan 
kesepakatan PBB itu. Malaysia memakai perbatasan wilayahnya berdasarkan aturan 
yg ada sebelumnya, yang sangat menguntungkannya.

Karena pada akhirnya perundingan yang hanya melibatkan dua-pihak 
Indonesia-Malaysia akan menemui jalan buntu. Akhirnyaperistiwa Sipadan-Ligitan 
akan terulang lagi. Kedua negara akan meminta bantuanArbitator Internasional 
untuk memecahkan jalan buntu itu, yang akan memenangkan Malaysia lagi, bilamana 
kita tidak mau belajar dari pengalaman masa lalu, tidak punya strategi dan 
taktik yang lebih jitu dar pada Malaysia!

Strategi dan Taktik kita untuk memenangkan penguasaan wilayah2 perbatasan harus 
lebih baik dari paad Malaysia. Kita dapat mengerahkan pemuda-pemudi Indonesia 
sebagai pionir2 untuk membangun wilayah2 perbatasn itu secara cepat dengan 
dukungan dana dan semanagt membangun dari para Pengusaha Indonesia danm segenap 
250-juta Rakyat Indonesia.

Kita ciptakan wilayah2 perbatasan itu menjadi lebih makmur dari pada wilayah 
Malaysia diseberangnya, dengan fasilitas2 telekomunikasi, TV, Radio, 
transportasi yg baik, wisata, hiburan dan sarana2 penunjang lainnya.

Dengan demikian, bukannya para TKI yang akan mencari kerja ke Malaysia, malah 
sebaliknya para TK Malaysia yang akan mencari kerja di wilayah perbatasan 
Indonesia-Malaysia itu yg sudah makmur.

Lalu siapakah para pemuda-pemudi Indonesia yang akan jadi pionir pembangunan 
Wilayah Perbatasan itu? Yang petama adalah para TKI yang sekarang sedang 
bekerja 
di Malaysia yg sudah punya pengalaman dilapangan ber-tahun2 untuk membangun 
negeri Malaysia (contoh: Twin Tower di Kuala Lumpur adalah karya para TKI 
Indonesia).

Para TKI itu tentu akan lebih memilih bekerja di wilayah perbatasan, dari pada 
di Malaysia, sebab mereka sekarang diperlakukan sebagai Warga Kelas Tiga, 
diperlaukuakn kasar, bekerja tanpa jam kerja, digaji sangat minim, dibentak, 
dicambuk, disetrika, disiksa sampai cacad, atau sampai meninggal dunia (sudah 
banyak kasus2nya).

Tentu para pionir2 pemuda-pemudi Indonesia akan mendapatkan imbalan jauh lebih 
baik dari pada kalau bekerja sebagai TKI di Malaysia, ditambah merekja sangat 
bangga sebagai pionir yang dihormati oleh segenap Rakyat Indonesia!

Perundingan bilateral yang ada tetap saja dijalankan, tetapi bukan lagi menjadi 
tujuan utama atau harapan utama. Ini hanya seperti yang dilakukan oleh 
Malaysia, 
sebagaitaktik untuk mengulur-ulur waktu saja!

Silahkan saran saya ini segera diteruskan ke Bapak Presiden SBY untuk segra 
di-implementasikan, sehingga kita bisa mantap dan tenang, sebab sudah ada 
Strategi dan Taktik yg jitu untuk memenagkan persainagn perbatasan 
Indonesia-Malaysia. Tidak perlu lagi demo2 yang hanya menghabiskan tenaga, 
pikiran, dan waktu, serta dapat merugikan perekonomian Indonesia.

Semoga bermanfat bagi kemajuan bangas dan negara.

Wassalam,
S Roestam
http://presidenku.com


      

Kirim email ke