Bagaimana caranya beberapa oknum petinggi yang lazimnya "supersibuk"
sehingga "tidak sempat belajar" apalagi "mengerjakan tesis" bisa cepat
meraih dan memperbanyak gelar?

Artikel ini mungkin bisa membeberkan salah satu caranya. ;-)

Salam,
CA

Source: http://bit.ly/bEjGNL

--begins--
Tesis dan Disertasi Aspal Kian Meluas...

KOMPAS.com — Di ruang berukuran sekitar 2 x 4 meter di sebuah gang di
Rawamangun, Jakarta Timur, dua laki-laki masing-masing menghadap layar
komputer, salah satunya berisi permainan kartu. ”Kalau tesis, kami
yang mengerjakan, tetapi disertasi nanti bos yang bikin, kami semua
membantu,” tutur Oni, salah satu dari ketiganya.

Itulah praktik yang tersebar setidaknya di Jakarta, Bandung,
Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar: membuatkan skripsi, tesis, dan
disertasi sesuai pesanan. Ada yang jelas-jelas merupakan transaksi
jual-beli biasa—sediakan judul penelitian dan uang, tesis, dan
disertasi akan kami buatkan sesuai waktu—hingga praktik yang abu-abu
karena masih melibatkan mahasiswa dalam pengerjaan.

Praktik seperti itu tidak sulit ditemui. Mereka beriklan di internet
dan media cetak, lengkap dengan alamat dan nomor telepon serta nama
yang bisa dikontak. Penelusuran di internet membawa ke lokasi seperti
di atas. Isi ruangan hanya dua perangkat komputer dan beberapa kursi.

Untuk meyakinkan calon klien, ketiganya yang tampak santai dengan
bersandal dan salah satunya memakai kaos oblong tanpa lengan mengklaim
beberapa mahasiswa perguruan tinggi negeri di Yogyakarta dan Jakarta
pernah meminta jasa mereka.

Tak jauh dari situ, di kawasan Jalan Pramuka, terselip di gang becek
dan gelap di antara toko-toko pembuat stempel dan spanduk, di kios
berukuran 2 meter x 2 meter, juga ditawarkan jasa pembuatan skripsi
dan tesis.

”Saya hanya bisa beberapa bidang, hukum perdata tidak bisa; hukum yang
ada hubungan dengan otonomi bisa. Saya tidak bisa bikin disertasi,”
kata Igar (62) yang mengaku pensiunan guru SMA di Medan dan sarjana
teknik mesin lulusan universitas swasta di kota yang sama.

Dia menunjukkan tesis yang baru dia selesaikan, topiknya otonomi di
Papua untuk mahasiswa sebuah universitas swasta. ”Kalau sedang tidak
banyak pesanan, tak sampai sebulan tesis selesai. Saya hanya perlu
judul dan informasi tentang daerah yang diteliti, semua saya yang
kerjakan. Pustaka bisa dari saya atau dari mahasiswa,” janjinya dan
mengatakan dia hanya memahami buku berbahasa Indonesia.

Merata

Praktik subkontrak pembuatan skripsi, tesis, dan disertasi bukan
barang baru. Yang memprihatinkan, praktik yang menghasilkan skripsi,
tesis, dan disertasi asli tapi palsu (aspal) ini meluas.

Menurut klaim para pemberi jasa, jasa mereka juga dimanfaatkan oleh
mahasiswa PTN terkemuka. Pemesannya, terutama untuk tesis dan
disertasi, adalah profesional, politisi, petinggi di BUMN, dan
birokrat di lembaga strategis perencanaan nasional.

Tono (36), pengajar di PTN terkemuka di Jakarta, mengaku pernah
menghubungkan temannya, calon notaris, yang butuh bantuan membuat
tesis, dengan temannya yang dosen di PTN terkenal di Jakarta. Aan
(31), magister komunikasi dari PTN ternama di Jakarta, mengaku
”mengampu” temannya dalam menyelesaikan disertasi di sebuah PTN di
Jakarta.

Di Surabaya, Tria, yang mengaku magister manajemen dari PTN terkenal
di kota itu, bersedia melayani konsultasi melalui internet menjelang
mahasiswa ujian tesis atau disertasi. Dia dan teman-temannya sanggup
membuatkan tesis dan disertasi dari bidang keilmuan apa saja, termasuk
kedokteran bidang tertentu, kecuali psikologi, arsitektur, dan teknik
mesin.

”Konsultan untuk teknik mesin sudah berhenti, dapat kerja lebih baik,” paparnya.

Motivasi kedua belah pihak beragam. Dari pembuat, ada yang beralasan
untuk menyambung hidup, seperti pengakuan Igar. Ada yang untuk
mobilisasi sosial vertikal.

”Saya mendapat jaringan teman-teman orang yang saya bantu. Dari
kontak-kontak itu saya dapat pekerjaan sampai sekarang,” kata Wid,
sarjana tata negara, yang tutup mulut tentang orang yang dia bantu.

Motif dari pihak pemesan juga macam-macam, mulai dari agar diangkat
jadi PNS, naik pangkat, gengsi, hingga mobilisasi sosial vertikal.
Ira, yang pernah menjadi peneliti biologi di PTN di Bandung, menyebut,
ada dokter klinik ”menyeberang” ke bidang riset laboratorium minta
dibuatkan penelitian.

Selain ingin gelar mentereng, doktor, juga untuk membuat makalah yang
dibawa ke seminar di luar negeri dan agar usia kerja sebagai PNS lebih
panjang. ”Untuk makalah ilmiah, nama saya dicantumkan sebagai penulis
kedua karena si dokter memotong DNA saja tidak bisa, tetapi dia pesan
penelitian menyangkut biologi molekuler,” tutur Ira.

Ira dan beberapa teman bersedia melakukan penelitian pesanan itu
karena semangat mengembangkan ilmu sebagai peneliti tidak difasilitasi
memadai. ”Bahan kimia untuk penelitian mahal sekali dan penelitian
selalu berisiko gagal sehingga harus diulang,” papar Ira.

Biaya bervariasi

”Biro jasa” menawarkan dari Rp 1,5 juta untuk skripsi, Rp 3,5 juta
untuk tesis, hingga Rp 35 juta untuk disertasi. ”Biaya ini murah
dibandingkan dengan tempat lain,” kata Oni.

”Biaya bikin disertasi mahal soalnya harus ada yang baru.” Mahasiswa
cukup menyerahkan judul yang disetujui pembimbing atau promotor,
menyebut atau memberi judul buku bacaan sesuai keinginan dosen
pembimbing atau tak terlibat apa pun.

”Jurnal gampang dicari di intenet,” kata Irman, teman Oni, yang
mengaku adalah magister hukum PTN di Jakarta. Soal mahasiswa paham
atau tidak paham isi tesis atau disertasi bukan urusan pembuat.

”Nanti kalau baca, kan, ngerti sendiri,” ujar Irman. ”Kalau mau ada
diskusi, latihan tanya-jawab sebelum ujian, saya carikan
orang-orangnya, tetapi tidak termasuk paket.”

Ira menyebut angka hingga Rp 150 juta untuk penelitian biologi
molekuler, sementara Aan menyebut sekitar Rp 60 juta untuk pekerjaan
membaca buku dan mencari jurnal, menyusun proposal dan metodologi,
hingga membuatkan kesimpulan disertasi temannya.

”Saya libatkan teman yang saya bantu itu ikut baca buku, meneliti ke
lapangan, dan ambil kesimpulan penelitian,” tutur Aan, magister
komunikasi PTN di Jakarta. ”Terus terang, saya mulanya hanya membantu,
tapi belakangan merasa kok (tindakan) ini salah.” (NMP/MH)
--ends--

-- 
Sent from my mobile device

--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke