Kalau engineer minta bantuan ini sih resikonya masih kecil, tapi kalau dokter ?
Harus ditindak secara hukum pidana nih On 10/1/10, Mohammad Andri Budiman <[email protected]> wrote: > Bagaimana caranya beberapa oknum petinggi yang lazimnya "supersibuk" > sehingga "tidak sempat belajar" apalagi "mengerjakan tesis" bisa cepat > meraih dan memperbanyak gelar? > > Artikel ini mungkin bisa membeberkan salah satu caranya. ;-) > > Salam, > CA > > Source: http://bit.ly/bEjGNL > > --begins-- > Tesis dan Disertasi Aspal Kian Meluas... > > KOMPAS.com — Di ruang berukuran sekitar 2 x 4 meter di sebuah gang di > Rawamangun, Jakarta Timur, dua laki-laki masing-masing menghadap layar > komputer, salah satunya berisi permainan kartu. ”Kalau tesis, kami > yang mengerjakan, tetapi disertasi nanti bos yang bikin, kami semua > membantu,” tutur Oni, salah satu dari ketiganya. > > Itulah praktik yang tersebar setidaknya di Jakarta, Bandung, > Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar: membuatkan skripsi, tesis, dan > disertasi sesuai pesanan. Ada yang jelas-jelas merupakan transaksi > jual-beli biasa—sediakan judul penelitian dan uang, tesis, dan > disertasi akan kami buatkan sesuai waktu—hingga praktik yang abu-abu > karena masih melibatkan mahasiswa dalam pengerjaan. > > Praktik seperti itu tidak sulit ditemui. Mereka beriklan di internet > dan media cetak, lengkap dengan alamat dan nomor telepon serta nama > yang bisa dikontak. Penelusuran di internet membawa ke lokasi seperti > di atas. Isi ruangan hanya dua perangkat komputer dan beberapa kursi. > > Untuk meyakinkan calon klien, ketiganya yang tampak santai dengan > bersandal dan salah satunya memakai kaos oblong tanpa lengan mengklaim > beberapa mahasiswa perguruan tinggi negeri di Yogyakarta dan Jakarta > pernah meminta jasa mereka. > > Tak jauh dari situ, di kawasan Jalan Pramuka, terselip di gang becek > dan gelap di antara toko-toko pembuat stempel dan spanduk, di kios > berukuran 2 meter x 2 meter, juga ditawarkan jasa pembuatan skripsi > dan tesis. > > ”Saya hanya bisa beberapa bidang, hukum perdata tidak bisa; hukum yang > ada hubungan dengan otonomi bisa. Saya tidak bisa bikin disertasi,” > kata Igar (62) yang mengaku pensiunan guru SMA di Medan dan sarjana > teknik mesin lulusan universitas swasta di kota yang sama. > > Dia menunjukkan tesis yang baru dia selesaikan, topiknya otonomi di > Papua untuk mahasiswa sebuah universitas swasta. ”Kalau sedang tidak > banyak pesanan, tak sampai sebulan tesis selesai. Saya hanya perlu > judul dan informasi tentang daerah yang diteliti, semua saya yang > kerjakan. Pustaka bisa dari saya atau dari mahasiswa,” janjinya dan > mengatakan dia hanya memahami buku berbahasa Indonesia. > > Merata > > Praktik subkontrak pembuatan skripsi, tesis, dan disertasi bukan > barang baru. Yang memprihatinkan, praktik yang menghasilkan skripsi, > tesis, dan disertasi asli tapi palsu (aspal) ini meluas. > > Menurut klaim para pemberi jasa, jasa mereka juga dimanfaatkan oleh > mahasiswa PTN terkemuka. Pemesannya, terutama untuk tesis dan > disertasi, adalah profesional, politisi, petinggi di BUMN, dan > birokrat di lembaga strategis perencanaan nasional. > > Tono (36), pengajar di PTN terkemuka di Jakarta, mengaku pernah > menghubungkan temannya, calon notaris, yang butuh bantuan membuat > tesis, dengan temannya yang dosen di PTN terkenal di Jakarta. Aan > (31), magister komunikasi dari PTN ternama di Jakarta, mengaku > ”mengampu” temannya dalam menyelesaikan disertasi di sebuah PTN di > Jakarta. > > Di Surabaya, Tria, yang mengaku magister manajemen dari PTN terkenal > di kota itu, bersedia melayani konsultasi melalui internet menjelang > mahasiswa ujian tesis atau disertasi. Dia dan teman-temannya sanggup > membuatkan tesis dan disertasi dari bidang keilmuan apa saja, termasuk > kedokteran bidang tertentu, kecuali psikologi, arsitektur, dan teknik > mesin. > > ”Konsultan untuk teknik mesin sudah berhenti, dapat kerja lebih baik,” > paparnya. > > Motivasi kedua belah pihak beragam. Dari pembuat, ada yang beralasan > untuk menyambung hidup, seperti pengakuan Igar. Ada yang untuk > mobilisasi sosial vertikal. > > ”Saya mendapat jaringan teman-teman orang yang saya bantu. Dari > kontak-kontak itu saya dapat pekerjaan sampai sekarang,” kata Wid, > sarjana tata negara, yang tutup mulut tentang orang yang dia bantu. > > Motif dari pihak pemesan juga macam-macam, mulai dari agar diangkat > jadi PNS, naik pangkat, gengsi, hingga mobilisasi sosial vertikal. > Ira, yang pernah menjadi peneliti biologi di PTN di Bandung, menyebut, > ada dokter klinik ”menyeberang” ke bidang riset laboratorium minta > dibuatkan penelitian. > > Selain ingin gelar mentereng, doktor, juga untuk membuat makalah yang > dibawa ke seminar di luar negeri dan agar usia kerja sebagai PNS lebih > panjang. ”Untuk makalah ilmiah, nama saya dicantumkan sebagai penulis > kedua karena si dokter memotong DNA saja tidak bisa, tetapi dia pesan > penelitian menyangkut biologi molekuler,” tutur Ira. > > Ira dan beberapa teman bersedia melakukan penelitian pesanan itu > karena semangat mengembangkan ilmu sebagai peneliti tidak difasilitasi > memadai. ”Bahan kimia untuk penelitian mahal sekali dan penelitian > selalu berisiko gagal sehingga harus diulang,” papar Ira. > > Biaya bervariasi > > ”Biro jasa” menawarkan dari Rp 1,5 juta untuk skripsi, Rp 3,5 juta > untuk tesis, hingga Rp 35 juta untuk disertasi. ”Biaya ini murah > dibandingkan dengan tempat lain,” kata Oni. > > ”Biaya bikin disertasi mahal soalnya harus ada yang baru.” Mahasiswa > cukup menyerahkan judul yang disetujui pembimbing atau promotor, > menyebut atau memberi judul buku bacaan sesuai keinginan dosen > pembimbing atau tak terlibat apa pun. > > ”Jurnal gampang dicari di intenet,” kata Irman, teman Oni, yang > mengaku adalah magister hukum PTN di Jakarta. Soal mahasiswa paham > atau tidak paham isi tesis atau disertasi bukan urusan pembuat. > > ”Nanti kalau baca, kan, ngerti sendiri,” ujar Irman. ”Kalau mau ada > diskusi, latihan tanya-jawab sebelum ujian, saya carikan > orang-orangnya, tetapi tidak termasuk paket.” > > Ira menyebut angka hingga Rp 150 juta untuk penelitian biologi > molekuler, sementara Aan menyebut sekitar Rp 60 juta untuk pekerjaan > membaca buku dan mencari jurnal, menyusun proposal dan metodologi, > hingga membuatkan kesimpulan disertasi temannya. > > ”Saya libatkan teman yang saya bantu itu ikut baca buku, meneliti ke > lapangan, dan ambil kesimpulan penelitian,” tutur Aan, magister > komunikasi PTN di Jakarta. ”Terus terang, saya mulanya hanya membantu, > tapi belakangan merasa kok (tindakan) ini salah.” (NMP/MH) > --ends-- > > -- > Sent from my mobile device > > -- > Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta > kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan > akhirat. > > Info pengelolaan milis Indonesia next better : > http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt > -- - Irwan - -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
