Istriku dulu waktu S1 di UI sudah ada pilihan seperti itu kok, boleh pakai skripsi boleh tidak. Yang gak skripsi gantinya project akhir sama compre. Itu sudah sejak lama, lebih dari 10 tahun yll.
Sent from my XL BlackBerry® -----Original Message----- From: Joko Julianto <[email protected]> Sender: [email protected]: Mon, 4 Oct 2010 13:48:37 To: [email protected]<[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [indonesia] Re: Skripsi, Tesis, dan Disertasi Aspal untuk Oknum Petinggi Mungkin ini bisa dijadikan refleksi bagaimana high degree education diselenggarakan di Indonesia. Perlu dievaluasi: wajib tidak nya siswa S1 membuat skripsi. bagaimana kalau jenjang s1 bebas skripsi. cukup 3-4 tahun tanpa skripsi. Kalau si pelajar s1 melakukan skripsi, cukup diberi tambahan gelar, atau langsung saja diberi gelasr s2. jenjang s2 diberi dua pilihan, full course work atau full research. Jadi si pelajar s2 tidak ada alasan untuk tidak bisa, karena sbelum menempuh s2, mereka diwajibkan memilih. Salam, Joko Date: Sun, 3 Oct 2010 16:06:25 -0700 From: [email protected] Subject: [indonesia] Re: Skripsi, Tesis, dan Disertasi Aspal untuk Oknum Petinggi To: [email protected] Hehe, jangan lupa pula bahwa banyak dosen di perguruan tinggi dan peneliti di lembaga penelitian pemerintah mengincar, mengejar dan memburu gelar profesor dengan 'paradigma' bahwa gelar (padahal bukan : jabatan) itu bak Kangjeng Raden Tumenggung (KRT) atau bahkan Gusti Pangeran Haryo (GPH), yang menempel pada dirinya sampai kapan pun (bahkan sampai ditulis di batu nisan). Banyak di antara mereka 'menggunakan' gelar itu untuk kemudianmendapat jabatan struktural di pemerintahan, status (kosong) dalam masyarakat, dan lupa apa makna dan tupoksi yang menempel pada gelar profesor tersebut. --- On Sat, 2/10/10, [email protected] <[email protected]> wrote: From: [email protected] <[email protected]> Subject: [indonesia] Re: Skripsi, Tesis, dan Disertasi Aspal untuk Oknum Petinggi To: "Indonesia nextbetter" <[email protected]> Date: Saturday, 2 October, 2010, 10:48 PM Celakanya, Gelar akademik zaman skrg itu ibarat sama dgn gelar kebangsawanan (Raden, Roro, dll) yg dberikan penjajah belanda zaman dulu. Repotnya di Pegawai Negeri Sipil dan pejabatnya, ternyata gelar akademik tsb sgt berperan thdp penampilan luar/gengsi. Tp blm tentu kualitas sesuai gelar tsb. Kebiasaan ini mirip zaman penjajahan belanda dulu, dmana para ningrat-ningrat antek2 penjajah yg bergelar bangsawan td yg duduk sbg pejabat atau pegawai d pemerintahan kolonial. Jadi, gak ada bedanya toh secara hakekat? Zaman skrg dg zaman kolonial. Cuma kemasan dan aktornya yg berubah..hahaha. Tp, bukankah skrg msh juga zaman kolonial jenis baru? Zaman neo imperialisme. Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -----Original Message----- From: Pekik Dahono <[email protected]> Sender: [email protected]: Fri, 1 Oct 2010 19:12:27 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [indonesia] Re: Skripsi, Tesis, dan Disertasi Aspal untuk Oknum Petinggi Kalau pembimbing bekerja dengan baik, sebenarnya kasus semacam ini tidak akan terjadi. Selain itu, kita harus membiasakan diri untuk tidak mendewakan gelar akademik dan menjadikan gelar akademik sebagai syarat untuk suatu jabatan atau kedudukan ----- Original Message ---- From: M. Irwan Hrp <[email protected]> To: [email protected]; [email protected] Sent: Sat, October 2, 2010 7:40:57 AM Subject: [indonesia] Re: Skripsi, Tesis, dan Disertasi Aspal untuk Oknum Petinggi Kalau engineer minta bantuan ini sih resikonya masih kecil, tapi kalau dokter ? Harus ditindak secara hukum pidana nih On 10/1/10, Mohammad Andri Budiman <[email protected]> wrote: > Bagaimana caranya beberapa oknum petinggi yang lazimnya "supersibuk" > sehingga "tidak sempat belajar" apalagi "mengerjakan tesis" bisa cepat > meraih dan memperbanyak gelar? > > Artikel ini mungkin bisa membeberkan salah satu caranya. ;-) > > Salam, > CA > > Source: http://bit.ly/bEjGNL > > --begins-- > Tesis dan Disertasi Aspal Kian Meluas... > > KOMPAS.com — Di ruang berukuran sekitar 2 x 4 meter di sebuah gang di > Rawamangun, Jakarta Timur, dua laki-laki masing-masing menghadap layar > komputer, salah satunya berisi permainan kartu. â€�Kalau tesis, kami > yang mengerjakan, tetapi disertasi nanti bos yang bikin, kami semua > membantu,â€� tutur Oni, salah satu dari ketiganya. > > Itulah praktik yang tersebar setidaknya di Jakarta, Bandung, > Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar: membuatkan skripsi, tesis, dan > disertasi sesuai pesanan. Ada yang jelas-jelas merupakan transaksi > jual-beli biasa—sediakan judul penelitian dan uang, tesis, dan > disertasi akan kami buatkan sesuai waktu—hingga praktik yang abu-abu > karena masih melibatkan mahasiswa dalam pengerjaan. > > Praktik seperti itu tidak sulit ditemui. Mereka beriklan di internet > dan media cetak, lengkap dengan alamat dan nomor telepon serta nama > yang bisa dikontak. Penelusuran di internet membawa ke lokasi seperti > di atas. Isi ruangan hanya dua perangkat komputer dan beberapa kursi. > > Untuk meyakinkan calon klien, ketiganya yang tampak santai dengan > bersandal dan salah satunya memakai kaos oblong tanpa lengan mengklaim > beberapa mahasiswa perguruan tinggi negeri di Yogyakarta dan Jakarta > pernah meminta jasa mereka. > > Tak jauh dari situ, di kawasan Jalan Pramuka, terselip di gang becek > dan gelap di antara toko-toko pembuat stempel dan spanduk, di kios > berukuran 2 meter x 2 meter, juga ditawarkan jasa pembuatan skripsi > dan tesis. > > â€�Saya hanya bisa beberapa bidang, hukum perdata tidak bisa; hukum yang > ada hubungan dengan otonomi bisa. Saya tidak bisa bikin disertasi,â€� > kata Igar (62) yang mengaku pensiunan guru SMA di Medan dan sarjana > teknik mesin lulusan universitas swasta di kota yang sama. > > Dia menunjukkan tesis yang baru dia selesaikan, topiknya otonomi di > Papua untuk mahasiswa sebuah universitas swasta. â€�Kalau sedang tidak > banyak pesanan, tak sampai sebulan tesis selesai. Saya hanya perlu > judul dan informasi tentang daerah yang diteliti, semua saya yang > kerjakan. Pustaka bisa dari saya atau dari mahasiswa,â€� janjinya dan > mengatakan dia hanya memahami buku berbahasa Indonesia. > > Merata > > Praktik subkontrak pembuatan skripsi, tesis, dan disertasi bukan > barang baru. Yang memprihatinkan, praktik yang menghasilkan skripsi, > tesis, dan disertasi asli tapi palsu (aspal) ini meluas. > > Menurut klaim para pemberi jasa, jasa mereka juga dimanfaatkan oleh > mahasiswa PTN terkemuka. Pemesannya, terutama untuk tesis dan > disertasi, adalah profesional, politisi, petinggi di BUMN, dan > birokrat di lembaga strategis perencanaan nasional. > > Tono (36), pengajar di PTN terkemuka di Jakarta, mengaku pernah > menghubungkan temannya, calon notaris, yang butuh bantuan membuat > tesis, dengan temannya yang dosen di PTN terkenal di Jakarta. Aan > (31), magister komunikasi dari PTN ternama di Jakarta, mengaku > â€�mengampuâ€� temannya dalam menyelesaikan disertasi di sebuah PTN di > Jakarta. > > Di Surabaya, Tria, yang mengaku magister manajemen dari PTN terkenal > di kota itu, bersedia melayani konsultasi melalui internet menjelang > mahasiswa ujian tesis atau disertasi. Dia dan teman-temannya sanggup > membuatkan tesis dan disertasi dari bidang keilmuan apa saja, termasuk > kedokteran bidang tertentu, kecuali psikologi, arsitektur, dan teknik > mesin. > > â€�Konsultan untuk teknik mesin sudah berhenti, dapat kerja lebih baik,â€� > paparnya. > > Motivasi kedua belah pihak beragam. Dari pembuat, ada yang beralasan > untuk menyambung hidup, seperti pengakuan Igar. Ada yang untuk > mobilisasi sosial vertikal. > > â€�Saya mendapat jaringan teman-teman orang yang saya bantu. Dari > kontak-kontak itu saya dapat pekerjaan sampai sekarang,â€� kata Wid, > sarjana tata negara, yang tutup mulut tentang orang yang dia bantu. > > Motif dari pihak pemesan juga macam-macam, mulai dari agar diangkat > jadi PNS, naik pangkat, gengsi, hingga mobilisasi sosial vertikal. > Ira, yang pernah menjadi peneliti biologi di PTN di Bandung, menyebut, > ada dokter klinik â€�menyeberangâ€� ke bidang riset laboratorium minta > dibuatkan penelitian. > > Selain ingin gelar mentereng, doktor, juga untuk membuat makalah yang > dibawa ke seminar di luar negeri dan agar usia kerja sebagai PNS lebih > panjang. â€�Untuk makalah ilmiah, nama saya dicantumkan sebagai penulis > kedua karena si dokter memotong DNA saja tidak bisa, tetapi dia pesan > penelitian menyangkut biologi molekuler,â€� tutur Ira. > > Ira dan beberapa teman bersedia melakukan penelitian pesanan itu > karena semangat mengembangkan ilmu sebagai peneliti tidak difasilitasi > memadai. â€�Bahan kimia untuk penelitian mahal sekali dan penelitian > selalu berisiko gagal sehingga harus diulang,â€� papar Ira. > > Biaya bervariasi > > â€�Biro jasaâ€� menawarkan dari Rp 1,5 juta untuk skripsi, Rp 3,5 juta > untuk tesis, hingga Rp 35 juta untuk disertasi. â€�Biaya ini murah > dibandingkan dengan tempat lain,â€� kata Oni. > > â€�Biaya bikin disertasi mahal soalnya harus ada yang baru.â€� Mahasiswa > cukup menyerahkan judul yang disetujui pembimbing atau promotor, > menyebut atau memberi judul buku bacaan sesuai keinginan dosen > pembimbing atau tak terlibat apa pun. > > â€�Jurnal gampang dicari di intenet,â€� kata Irman, teman Oni, yang > mengaku adalah magister hukum PTN di Jakarta. Soal mahasiswa paham > atau tidak paham isi tesis atau disertasi bukan urusan pembuat. > > â€�Nanti kalau baca, kan, ngerti sendiri,â€� ujar Irman. â€�Kalau mau ada > diskusi, latihan tanya-jawab sebelum ujian, saya carikan > orang-orangnya, tetapi tidak termasuk paket.â€� > > Ira menyebut angka hingga Rp 150 juta untuk penelitian biologi > molekuler, sementara Aan menyebut sekitar Rp 60 juta untuk pekerjaan > membaca buku dan mencari jurnal, menyusun proposal dan metodologi, > hingga membuatkan kesimpulan disertasi temannya. > > â€�Saya libatkan teman yang saya bantu itu ikut baca buku, meneliti ke > lapangan, dan ambil kesimpulan penelitian,â€� tutur Aan, magister > komunikasi PTN di Jakarta. â€�Terus terang, saya mulanya hanya membantu, > tapi belakangan merasa kok (tindakan) ini salah.â€� (NMP/MH) > --ends-- > > -- > Sent from my mobile device > > -- > Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta > kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan > akhirat. > > Info pengelolaan milis Indonesia next better : > http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt > -- - Irwan - -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt êå¢fÚ•¨]jV¦‘ªòi·«²)Þ®z¶©‘©äj'Z†)f»û^’z%¢¬z»Z‘«"†Æ²jxjyš�öš¶éíºKŠÈš•©�zh¤y¶¡jšjwnž&�jv¤†*Ú´‰ß¢—§�éh•¦§š)b°‰Ý¢w¬‰©ÞÆÖ޶׫†Ûiÿúnnw±µ·µêçzßߊW¬þh¥ŠËb�Ú'zÈšŠwè·
