Kayaknya semakin terbuka ya..
Segala sesuatu di balik hilton, paris, dan wood..

Menarik utk dicermati

Salam,
Tribas

-----Original Message-----
From: Basuki Suhardiman <[email protected]>
Sender: [email protected]: Mon, 18 Oct 2010 11:49:21 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Cc: <[email protected]>
Subject: [indonesia] Re: Menarik .....



Korupsi khan memang sengaja dibuat oleh Orba :-)
Apa Indonesea mau seperti Haiti ?
mungkin lebih baik anggota DPR studi banding ke Haiti dan melihat 
bagaimana negara di depan Amerika itu :-)


On 10/18/2010 10:17 AM, Adi Indrayanto wrote:
>
> Lebih baik Indonesia tidak punya harta seperti itu. Akan semakin bodoh 
> dan malas rakyatnya nanti. Wong sudah diberikan SDA sebesar ini saja 
> ... tidak bisa mengelolanya ... apalagi ditambah emas batangan 
> sebanyak itu ... dijamin yg ada malah saling korupsi  ... atau menjadi 
> rakyat yg pemalas ...
>
> Jangan harap dgn adanya emas seperti itu Indonesia akan maju ... 
> terjadi malah makin terpuruk ... karena korupsinya akan makin besar 
> lagi ...
>
>
> salam,
>
> -ai-
>
>
>
> 2010/10/18 Basuki Suhardiman <[email protected] <mailto:[email protected]>>
>
>
>
>     Nah satu persatu mulai terkuak ,
>     pantes JFK dihabisi dan kemudian BK ,
>     nah kalau begini benar "jangan sekali kali meninggalkan sejarah"
>
>
>     
> http://ekonomi.kompasiana.com/group/bisnis/2010/01/02/green-hilton-memorial-agreement-geneva-1963/
>
>     Green Hilton Memorial Agreement Geneva 1963
>     REP <http://www.kompasiana.com/posts/index/raport/>
>     Safari ANS
>     |  2 Januari 2010  |  12:23
>     2123
>     35
>
>       
>       
>
>               
>
>               
>
>     1 dari 1 Kompasianer menilai Menarik.
>
>     Inilah perjanjian yang paling menggemparkan dunia. Inilah
>     perjanjian yang menyebabkan terbunuhnya Presiden Amerika Serikat
>     John Fitzgerald Kennedy 22 November 1963. Inilah perjanjian yang
>     kemudian menjadi pemicu dijatuhkannya Bung Karno dari kursi
>     kepresidenan oleh jaringan CIA yang menggunakan ambisi Soeharto.
>     Dan inilah perjanjian yang hingga kini tetap menjadi misteri
>     terbesar dalam sejarah ummat manusia.
>
>     Perjanjian "The Green Hilton MemorialAgreement di Genva pada 14
>     November 1963 <http://stat.kompasiana.com/files/2010/01/gh4.jpg>
>
>     Perjanjian "The Green Hilton MemorialAgreement di Genva pada 14
>     November 1963
>
>     Dan, inilah perjanjian yang sering membuat sibuk setiap siapapun
>     yang menjadi Presiden RI. Dan, inilah perjanjian yang membuat
>     sebagian orang tergila-gila menebar uang untuk mendapatkan secuil
>     dari harta ini yang kemudian dikenal sebagai “salah satu” harta
>     Amanah Rakyat dan Bangsa Indonesia. Inilah perjanjian yang oleh
>     masyarakat dunia sebagai Harta Abadi Ummat Manusia. Inilah
>     kemudian yang menjadi sasaran kerja tim rahasia Soeharto menyiksa
>     Soebandrio dkk agar buka mulut. Inilah perjanjian yang membuat
>     Megawati ketika menjadi Presiden RI menagih janji ke Swiss tetapi
>     tidak bisa juga. Padahal Megawati sudah menyampaikan bahwa ia
>     adalah Presiden RI dan ia adalah Putri Bung Karno. Tetapi tetap
>     tidak bisa. Inilah kemudian membuat SBY kemudian membentuk tim
>     rahasia untuk melacak harta ini yang kemudian juga tetap mandul.
>     Semua pihak repot dibuat oleh perjnajian ini.
>
>     Perjanjian itu bernama The Green Hilton Memorial Agreement Geneva.
>     Akta termahal di dunia ini diteken oleh John F Kennedy selaku
>     Presiden AS, Ir Soekarno selaku Presiden RI dan William Vouker
>     yang mewakili Swiss. Perjanjian segitiga ini dilakukan di Hotel
>     Hilton Geneva pada 14 November 1963 sebagai kelanjutan dari MOU
>     yang dilakukan tahun 1961. Intinya adalah, Pemerintahan AS
>     mengakui keberadaan emas batangan senilai tak kurang dari 57 ribu
>     ton yang terdiri dari 17 paket emas dan pihak Indonesia menerima
>     batangan emas itu menjadi kolateral bagi dunia keuangan AS yang
>     operasionalisasinya dilakukan oleh Pemerintahan Swiss melalui
>     United Bank of Switzerland (UBS). Kesepakatan ini berlaku tiga
>     tahun kemudian alias 14 November 1965 (gambar di atas hanya salah
>     satu dari sekian lembar perjanjian).
>
>     Pada dokumen lain yang tidak dipublikasi disebutkan, atas
>     penggunaan kolateral tersebut AS harus membayar fee sebesar 2,5%
>     setahun kepada Indonesia. Hanya saja, ketakutan akan muncul
>     pemimpinan yang korup di Indonesia, maka pembayaran fee tersebut
>     tidak bersifat terbuka. Artinya hak kewenangan pencairan fee
>     tersebut tidak berada pada Presiden RI siapapun, tetapi ada pada
>     sistem perbankkan yang sudah dibuat sedemikian rupa, sehingga
>     pencairannya bukan hal mudah, termasuk bagi Presiden AS sendiri.
>
>     Account khusus ini dibuat untuk menampung aset tersebut yang
>     hingga kini tidak ada yang tau keberadaannya kecuali John F
>     Kennedy dan Soekarno sendiri. Sayangnya sebelum Soekarno mangkat,
>     ia belum sempat memberikan mandat pencairannya kepada siapapun di
>     tanah air. Malah jika ada yang mengaku bahwa dialah yang dipercaya
>     Bung Karno untuk mencairkan harta, maka dijamin orang tersebut
>     bohong, kecuali ada tanda-tanda khusus berupa dokumen penting yang
>     tidak tau siapa yang menyimpan hingga kini. Demikianlah dokumen
>     penting yang penulis baca dan hasil wawancara penulis dengan nara
>     sumber dengan para tetua di dalam negeri dan wawancara dengan
>     narasumber di Belanda, Prancis, Jerman, Singapura, Malaysia dan
>     Hong Kong.
>
>     Bagi AS, perjanjian Green Hilton adalah perjanjian terbodoh bagi
>     AS, karena AS mengakui aset tersebut yang sebetulnya merupakan
>     harta rampasan perang. Menurut dokumen yang penulis baca. Harta
>     tersebut berasal dari sitaan AS ketika menaklukkan Jerman dalam
>     perang dunia. Jerman juga mengakui bahwa harta tersebut disita
>     Jerman ketika menyerang Belanda. Belanda pun mengakui bahwa harta
>     tersebut merupakan rampasan harta yang dilakukan VOC ketika
>     menjajah Indonesia.
>
>     Berdasarkan fakta yang dijumpai di lapangan, harta ini sudah
>     pernah mau dicairkan pada 1986-1987 tapi gagal, lalu ada percobaan
>     lagi awal 2000, juga gagal. Kini, ketika krisis menerpa AS dan
>     dunia yang hampir membunuh sebagian besar rakyat AS, pemerintah
>     Obama mencoba meyakinkan dunia melalui titah Puas di Vatikan bahwa
>     AS berhak mencairkan harta ini. Atas dasar untuk kepentingan ummat
>     manusia, agaknya hati Vatikan mulai luluh. Konon kabarnya, Vatikan
>     telah memberikan restu itu tanpa mengabaikan bantuan kepada rakyat
>     Indonesia.
>
>     Menurut sebuah sumber di Vatikan, ketika Presiden AS menyampaikan
>     niat tersebut kepada Vatikan, Puas sempat bertanya apakah
>     Indonesia telah menyetujuinya. Kabarnya, AS hanya memanfaatkan
>     fakta MOU antara negara G-20 di Inggris dimana Presiden Indonesia
>     SBY ikut menandatangani suatu kesepakatan untuk memberikan
>     otoritas kepada keuangan dunia IMF dan World Bank untuk mencari
>     sumber pendanaan alternatif. Konon kabarnya, Vatikan berpesan agar
>     Indonesia diberi bantuan. Mungkin bantuan IMF sebesar USD 2,7
>     milyar dalam fasilitas SDR (Special Drawing Rights) kepada
>     Indonesia pertengahan tahun lalu merupakan realisasi dari
>     kesepakatan ini, sehingga ada isyu yang berkembang bahwa bantuan
>     tersebut tidak perlu dikembalikan. Oleh Bank Indonesia memang
>     bantuan IMF sebesar itu dipergunakan untuk memperkuat cadangan
>     devisa negara. Penulis pikir DPR RI harus ikut mengklarifikasi
>     soal status uang bantuan IMF ini.
>
>     Kalau benar itu, maka betapa nistanya rakyat Indonesia. Kalau
>     benar itu terjadi betapa bodohnya Pemerintahan kita dalam masalah
>     ini. Kalau ini benar terjadi betapa tak berdayanya bangsa ini,
>     hanya kebagian USD 2,7 milyar. Padahal harta tersebut berharga
>     ribuan trilyun dollar AS. Aset itu bukan aset gratis peninggalan
>     sejarah, aset tersebut merupakan hasil kerja keras nenek moyang
>     kita di era masa keemasan kerajaan di Indonesia. Sebab dulu, beli
>     beras saja pakai balokan emas sebagai alat pembayarannya. Bahkan
>     kerajaan China membeli rempah-rempah ke Indonesia menggunakan
>     balokan emas.
>
>     Lalu bagaimana nasib tersebut, kita sebagai bangsa yang besar
>     masih perlu mengkaji lebih lanjut. Pemerintah bersama rakyat perlu
>     membentuk Tim Besar dan lobby yang besar ditingkat internasional
>     untuk menduduk kembali soal harta yang disepakati dalam The Green
>     Hilton Memorial Agreement ini. Karena ini sudah menjadi fakta
>     sejarah yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Pemerintahan SBY
>     tidak bisa melakukan penyelidikan harta ini secara diam-diam dan
>     hanya kalangan terbatas. Sebab harta ini milik rakyat dan bangsa
>     Indonesia. Bukan milik pribadi Bung Karno. Keberhasilan lobby
>     politik Bung Karno yang luar biasa ini harus diteruskan dan jangan
>     dimentahkan begitu saja.
>
>     ([email protected] <mailto:[email protected]>)
>
>
>


Kirim email ke