masih percaya ?
coba berapa yg sudah diambil dari freeport sejak tahun 1967 ?
apa tidak bisa menghubungkan dengan reportase Pilger ?
http://www.youtube.com/watch?v=8firb73r67g
coba sebagai anak ITB , analisis itu reportase Pilger



On 10/18/2010 1:31 PM, irsal imran wrote:
Betul. Tapi sebagai anak ITB seharusnya bisa melihat walaupun tidak kelihatan:). Mulai dari data ini saja dahulu.


    How much gold has been mined?

The best estimates available suggest that the total volume of gold ever mined up to the end of *2009* was approximately *165,000* tonnes, of which around 65% has been mined since 1950.

http://www.gold.org/faq/answer/76/how_much_gold_has_been_mined/

Berarti dibilang sampai tahun 1950, hanya ada 35%*165,000 ton = 57750 ton di seluruh dunia.

salam,

-Irsal

--- On *Sun, 10/17/10, Tri Basoeki Soelisvichyanto /<[email protected]>/* wrote:


    From: Tri Basoeki Soelisvichyanto <[email protected]>
    Subject: [indonesia] Re: Menarik .....
    To: [email protected]
    Date: Sunday, October 17, 2010, 11:07 PM


    Tak terlihat bukan berarti tak ada.
    Diketahui bukan berarti pasti.




    -----Original Message-----
    From: [email protected] </mc/[email protected]>
    Sender: [email protected]
    </mc/[email protected]>: Mon, 18 Oct
    2010 05:43:21
    To: <[email protected]
    </mc/[email protected]>>
    Reply-To: [email protected]
    </mc/[email protected]>
    Subject: [indonesia] Re: Menarik .....

    Sudah sedemikian parahnyakah kehidupan di Indonesia sampai semakin
    banyak orang2 yg menjadi suka berhayal:).

    Salam,

    -Irsal
    The true sign of intelligence is not knowledge, but imagination.
    #Albert Einstein

    -----Original Message-----
    From: "Sumitro Roestam" <[email protected]
    </mc/[email protected]>>
    Sender: [email protected]
    </mc/[email protected]>: Mon, 18 Oct
    2010 05:21:25
    To: <[email protected]
    </mc/[email protected]>>
    Reply-To: [email protected]
    </mc/[email protected]>
    Subject: [indonesia] Re: Menarik .....

    Pak Bas DKK yth,

    Janganlah kita mudah tertipu dgn cerita2 yg kurang logis atau
    masuk akal.

    Ada beberapa pertanyaan yg harus dijawab dahulu:
    1. Kapan batangan2 emas itu dipindahkan dari Indonesia ke Swiss?
    2. Berapa ton-kah beratnya? Pakai kapal atau pesawat? Waktu itu
    (1963) khan pesawat terbangya masih kecil2, dan tidak ada yg
    bermesin Jet.
    3. Masak Presiden AS JFK begitu bodohnya teken perjanjian itu?
    Kalau benar teken, khan atas nama negara. Jadi walaupun sudah
    meninggal, khan masih valid. Lalu Belanda dan Jerman kebagian apa?
    Kalau benar ceritanya itu harta rampasan PD-2, seharusnya mereka
    juga punya hak.
    Masih ada lagi pertanyaan2 lain yg meragukan kebenaran cerita itu.

    Sekarang kita bicara fakta masa kini, berapa ribu Ton emas hasil
    tambang Freeport yg sudah diangkut ke AS selama lebih dari
    30-tahun? Pasti lebih banyak dari yg diceritakan tsb diatas.

    Lebih baik kita minta bagian yg wajar bagi bangsa Indonesia dari
    hasil Freeport, dari pada mempercayai cerita yg kurang masuk akal...

    Wassalam,
    S Roestam
    http://presidenku.com <http://presidenku.com>


    Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung
    Teruuusss...!

    -----Original Message-----
    From: Basuki Suhardiman <[email protected]
    </mc/[email protected]>>
    Sender: [email protected]
    </mc/[email protected]>: Mon, 18 Oct
    2010 10:00:20
    To: <[email protected]
    </mc/[email protected]>>; <[email protected]
    </mc/[email protected]>>; <[email protected]
    </mc/[email protected]>>
    Reply-To: [email protected]
    </mc/[email protected]>
    Subject: [indonesia] Menarik .....



    Nah satu persatu mulai terkuak ,
    pantes JFK dihabisi dan kemudian BK ,
    nah kalau begini benar "jangan sekali kali meninggalkan sejarah"


    
http://ekonomi.kompasiana.com/group/bisnis/2010/01/02/green-hilton-memorial-agreement-geneva-1963/
    
<http://ekonomi.kompasiana.com/group/bisnis/2010/01/02/green-hilton-memorial-agreement-geneva-1963/>

    Green Hilton Memorial Agreement Geneva 1963
    REP <http://www.kompasiana.com/posts/index/raport/>
    Safari ANS
    |  2 Januari 2010  |  12:23
    2123
    35




    1 dari 1 Kompasianer menilai Menarik.

    Inilah perjanjian yang paling menggemparkan dunia. Inilah perjanjian
    yang menyebabkan terbunuhnya Presiden Amerika Serikat John Fitzgerald
    Kennedy 22 November 1963. Inilah perjanjian yang kemudian menjadi
    pemicu
    dijatuhkannya Bung Karno dari kursi kepresidenan oleh jaringan CIA
    yang
    menggunakan ambisi Soeharto. Dan inilah perjanjian yang hingga kini
    tetap menjadi misteri terbesar dalam sejarah ummat manusia.

    Perjanjian "The Green Hilton MemorialAgreement di Genva pada 14
    November
    1963 <http://stat.kompasiana.com/files/2010/01/gh4.jpg>

    Perjanjian "The Green Hilton MemorialAgreement di Genva pada 14
    November
    1963

    Dan, inilah perjanjian yang sering membuat sibuk setiap siapapun yang
    menjadi Presiden RI. Dan, inilah perjanjian yang membuat sebagian
    orang
    tergila-gila menebar uang untuk mendapatkan secuil dari harta ini
    yang
    kemudian dikenal sebagai "salah satu" harta Amanah Rakyat dan Bangsa
    Indonesia. Inilah perjanjian yang oleh masyarakat dunia sebagai Harta
    Abadi Ummat Manusia. Inilah kemudian yang menjadi sasaran kerja tim
    rahasia Soeharto menyiksa Soebandrio dkk agar buka mulut. Inilah
    perjanjian yang membuat Megawati ketika menjadi Presiden RI menagih
    janji ke Swiss tetapi tidak bisa juga. Padahal Megawati sudah
    menyampaikan bahwa ia adalah Presiden RI dan ia adalah Putri Bung
    Karno.
    Tetapi tetap tidak bisa. Inilah kemudian membuat SBY kemudian
    membentuk
    tim rahasia untuk melacak harta ini yang kemudian juga tetap mandul.
    Semua pihak repot dibuat oleh perjnajian ini.

    Perjanjian itu bernama The Green Hilton Memorial Agreement Geneva.
    Akta
    termahal di dunia ini diteken oleh John F Kennedy selaku Presiden
    AS, Ir
    Soekarno selaku Presiden RI dan William Vouker yang mewakili Swiss.
    Perjanjian segitiga ini dilakukan di Hotel Hilton Geneva pada 14
    November 1963 sebagai kelanjutan dari MOU yang dilakukan tahun 1961.
    Intinya adalah, Pemerintahan AS mengakui keberadaan emas batangan
    senilai tak kurang dari 57 ribu ton yang terdiri dari 17 paket
    emas dan
    pihak Indonesia menerima batangan emas itu menjadi kolateral bagi
    dunia
    keuangan AS yang operasionalisasinya dilakukan oleh Pemerintahan
    Swiss
    melalui United Bank of Switzerland (UBS). Kesepakatan ini berlaku
    tiga
    tahun kemudian alias 14 November 1965 (gambar di atas hanya salah
    satu
    dari sekian lembar perjanjian).

    Pada dokumen lain yang tidak dipublikasi disebutkan, atas penggunaan
    kolateral tersebut AS harus membayar fee sebesar 2,5% setahun kepada
    Indonesia. Hanya saja, ketakutan akan muncul pemimpinan yang korup di
    Indonesia, maka pembayaran fee tersebut tidak bersifat terbuka.
    Artinya
    hak kewenangan pencairan fee tersebut tidak berada pada Presiden RI
    siapapun, tetapi ada pada sistem perbankkan yang sudah dibuat
    sedemikian
    rupa, sehingga pencairannya bukan hal mudah, termasuk bagi
    Presiden AS
    sendiri.

    Account khusus ini dibuat untuk menampung aset tersebut yang
    hingga kini
    tidak ada yang tau keberadaannya kecuali John F Kennedy dan Soekarno
    sendiri. Sayangnya sebelum Soekarno mangkat, ia belum sempat
    memberikan
    mandat pencairannya kepada siapapun di tanah air. Malah jika ada yang
    mengaku bahwa dialah yang dipercaya Bung Karno untuk mencairkan
    harta,
    maka dijamin orang tersebut bohong, kecuali ada tanda-tanda khusus
    berupa dokumen penting yang tidak tau siapa yang menyimpan hingga
    kini.
    Demikianlah dokumen penting yang penulis baca dan hasil wawancara
    penulis dengan nara sumber dengan para tetua di dalam negeri dan
    wawancara dengan narasumber di Belanda, Prancis, Jerman, Singapura,
    Malaysia dan Hong Kong.

    Bagi AS, perjanjian Green Hilton adalah perjanjian terbodoh bagi AS,
    karena AS mengakui aset tersebut yang sebetulnya merupakan harta
    rampasan perang. Menurut dokumen yang penulis baca. Harta tersebut
    berasal dari sitaan AS ketika menaklukkan Jerman dalam perang dunia.
    Jerman juga mengakui bahwa harta tersebut disita Jerman ketika
    menyerang
    Belanda. Belanda pun mengakui bahwa harta tersebut merupakan rampasan
    harta yang dilakukan VOC ketika menjajah Indonesia.

    Berdasarkan fakta yang dijumpai di lapangan, harta ini sudah
    pernah mau
    dicairkan pada 1986-1987 tapi gagal, lalu ada percobaan lagi awal
    2000,
    juga gagal. Kini, ketika krisis menerpa AS dan dunia yang hampir
    membunuh sebagian besar rakyat AS, pemerintah Obama mencoba
    meyakinkan
    dunia melalui titah Puas di Vatikan bahwa AS berhak mencairkan harta
    ini. Atas dasar untuk kepentingan ummat manusia, agaknya hati Vatikan
    mulai luluh. Konon kabarnya, Vatikan telah memberikan restu itu tanpa
    mengabaikan bantuan kepada rakyat Indonesia.

    Menurut sebuah sumber di Vatikan, ketika Presiden AS menyampaikan
    niat
    tersebut kepada Vatikan, Puas sempat bertanya apakah Indonesia telah
    menyetujuinya. Kabarnya, AS hanya memanfaatkan fakta MOU antara
    negara
    G-20 di Inggris dimana Presiden Indonesia SBY ikut menandatangani
    suatu
    kesepakatan untuk memberikan otoritas kepada keuangan dunia IMF dan
    World Bank untuk mencari sumber pendanaan alternatif. Konon kabarnya,
    Vatikan berpesan agar Indonesia diberi bantuan. Mungkin bantuan IMF
    sebesar USD 2,7 milyar dalam fasilitas SDR (Special Drawing Rights)
    kepada Indonesia pertengahan tahun lalu merupakan realisasi dari
    kesepakatan ini, sehingga ada isyu yang berkembang bahwa bantuan
    tersebut tidak perlu dikembalikan. Oleh Bank Indonesia memang bantuan
    IMF sebesar itu dipergunakan untuk memperkuat cadangan devisa negara.
    Penulis pikir DPR RI harus ikut mengklarifikasi soal status uang
    bantuan
    IMF ini.

    Kalau benar itu, maka betapa nistanya rakyat Indonesia. Kalau
    benar itu
    terjadi betapa bodohnya Pemerintahan kita dalam masalah ini. Kalau
    ini
    benar terjadi betapa tak berdayanya bangsa ini, hanya kebagian USD
    2,7
    milyar. Padahal harta tersebut berharga ribuan trilyun dollar AS.
    Aset
    itu bukan aset gratis peninggalan sejarah, aset tersebut merupakan
    hasil
    kerja keras nenek moyang kita di era masa keemasan kerajaan di
    Indonesia. Sebab dulu, beli beras saja pakai balokan emas sebagai
    alat
    pembayarannya. Bahkan kerajaan China membeli rempah-rempah ke
    Indonesia
    menggunakan balokan emas.

    Lalu bagaimana nasib tersebut, kita sebagai bangsa yang besar masih
    perlu mengkaji lebih lanjut. Pemerintah bersama rakyat perlu
    membentuk
    Tim Besar dan lobby yang besar ditingkat internasional untuk menduduk
    kembali soal harta yang disepakati dalam The Green Hilton Memorial
    Agreement ini. Karena ini sudah menjadi fakta sejarah yang tidak bisa
    dilewatkan begitu saja. Pemerintahan SBY tidak bisa melakukan
    penyelidikan harta ini secara diam-diam dan hanya kalangan terbatas.
    Sebab harta ini milik rakyat dan bangsa Indonesia. Bukan milik
    pribadi
    Bung Karno. Keberhasilan lobby politik Bung Karno yang luar biasa ini
    harus diteruskan dan jangan dimentahkan begitu saja.

    ([email protected] </mc/[email protected]>)



    
êå¢fÚ•¨]jV¦‘ªòi·«²)Þ®­z¶©‘©äj'Z†)f»û^’z%¢¬z»Z‘«"†Æ²jxjyš�öš¶éíºKŠÈš•©�zh¤y¶¡jšjwnž&�jv¤†*Ú´‰ß¢—§�éh•¦§š)b°‰Ý¢w¬‰©ÞÆÖ޶׫†Ûiÿúnnw±µ·­µêçzßߊW¬þh¥ŠËb�Ú'zÈšŠwè·êå¢fÚ•¨]jV¦‘ªòi·«²)Þ®­z¶©‘©äj'Z†)f»û^’z%¢¬z»Z‘«"†Æ²jxjyš�öš¶éíºKŠÈš•©�zh¤y¶¡jšjwnž&�jv¤†*Ú´‰ß¢—§�éh•¦§š)b°‰Ý¢w¬‰©ÞÆÖ޶׫†Ûiÿúnnw±µ·­µêçzßߊW¬þh¥ŠËb�Ú'zÈšŠwè·êå¢fÚ•¨]jV¦‘ªòi·«²)Þ®­z¶©‘©äj'Z†)f»û^’z%¢¬z»Z‘«"†Æ²jxjyš�öš¶éíºKŠÈš•©�zh¤y¶¡jšjwnž&�jv¤†*Ú´‰ß¢—§�éh•¦§š)b°‰Ý¢w¬‰©ÞÆÖ޶׫†Ûiÿúnnw±µ·­µêçzßߊW¬þh¥ŠËb�Ú'zÈšŠwè·



Kirim email ke