Kawan2 Anggota Milis Yth,


Sang Juru Kunci Gunung Merapi yang legendaris, Mbah Maridjan, yang foto-foto 
iklannya sampai saat ini menghiasi iklan "JOSS" bus-bus kota di Ibukota Jakarta 
sebagai seorang yang "kuat" atau "rosa" yang dapat mengendalikan perilaku 
Gunung Merapi agar tidak membahayakan penduduk yang tinggal di kaki gunung itu, 
akhirnya harus menghadap Sang Maha Kuasa, Allah SWT, setelah perjuangannya yang 
ingin tetap bertahan di rumah beliau di kaki gunung itu gagal, tidak sanggup 
menahan panasnya abu gunung itu yang mencapai lebih dari 600 derajat Celsius. 
Beliau gugur di medan tugas dalam posisi bersujud.

Ada anggota masyarakat yang mengusulkan agar beliau diangkat sebagai seorang 
pahlawan bangsa, namun ada pula yang menganggap bahwa beliau tidak mematuhi 
titah Sultan Hamengku Buwono X untuk segera turun gunung untuk menghindarkan 
panasnya si "Wedus Gembel", awan panas yang akan segera menerjang desa dimana 
beliau tinggal. Akibatnya ada 11 orang lagi yang ikut tewas bersama beliau, 
ketika sedang berupaya untuk membujuk beliau agar segera turun gunung, 
diantaranya adalah wartawan dari Viva News, anggota Polri dan anggota PMI.

Namun ada pula anggota masyarakat yang menganggap bahwa tindakan beliau adalah 
gegabah dan sombong, menentang hukum alam. Tetapi anehnya, ada seorang tetangga 
beliau beserta keluarganya yang selamat tanpa cacad, keluar hidup-hidup dari 
reruntuhan rumah mereka karena sang istri mendapatkan wahyu atau bisikan Illahi 
untuk memakai mukenah, bantal dan kasur untuk melindungi diri mereka dari 
panasnya abu gunung Merapi. Keluarga ini adalah keluarga Bapak Ponimin yang 
fotonya telah menghias media-media TV dan koran Nasional, sebagai seorang calon 
pengganti Mbah Maridjan.

[caption id="attachment_299" align="alignleft" width="300" caption="Ponimin 
calon Jurukunci"][/caption]

Ada sebagian masyarakat menganggap bahwa selamatnya Pak Ponimin sekeluarga dari 
panasnya abu Gunung Merapi adalah karena suatu mukjizat. Namun dapat pula 
kejadian ini dijelaskan secara ilmiah, karena abu gunung Merapi yang panas itu 
setelah menyentuh bumi, atap rumah, batu2an, dan pepohonan, akan mengalirkan 
panasnya kepada benda-benda itu. Proses ini berlangsung sekitar 15-menit-an, 
setelah itu secara hukum fisika, abu gunung itu akan turun temperatur-nya ke 
temperatur udara sekelilingnya kembali, sekitar 25 derajat Celsius atau kurang.

Asalkan atap rumah atau genteng rumah tidak rontok dan jatuh kebawah, maka 
panas dari abu Merapi itu akan berubah menjadi radiasi yang turun ke bawah. 
Bila tubuh kita dislimuti oleh mukenah, bantal atau kasur, maka radiasi panas 
itu tidak akan melukai tubuh kita, sebab radiasi panas itu tertahan oleh bahan2 
yang menghambat aliran panas, seperti tersebut diatas.

Jadi kesimpulannya, kita sebenarnya bisa membantu menyelamatkan para penduduk 
yang tinggal di kaki gunung Merapi itu, dengan meminta mereka untuk membangun 
bunker dibawah lantai rumah-rumah mereka dengan ukuran 2 meter x 2 meter 
sedalam 2 meter, dimana dinding-dindingnya dilapisi oleh bahan penghambat 
radiasi panas, seperti kapas, kain, bantal, kasur atau serat silikon, dll.

Ini sebuah langkah yang tepat, asalkan para penduduk itu tidak tingal lebih 
dekat dari 3-km dari puncak Gunung Merapi, sebab bila terlalu dekat, maka yang 
jatuh ke rumah2 mereka bukan "wedus gembel" atau awan panas, melainkan 
batuan-batuan panas yang dapat menembus genteng dan memecahkannya, kemudian 
melukai para penghuni rumah itu.

Solusi ini mungkin lebih baik dari pada solusi yang diberikan pada saat ini, 
dimana semua penduduk yang ada di radius 10-km dari Merapi harus mengungsi 
untuk jangka waktu yang lama, sekitar 1-bulan, sampai Gunung Merapi benarbenar 
beristirahat. Ini tentu akan memakan biaya mahal, dan mempersulit kehidupan 
mereka se-hari-hari, untuk makan, minum, tidur, dan bekerja mencari nafkah.

Dengan solusi membangun bunker-bunker dibawah lantai mereka untuk rumah-rumah 
diluar radius 3-km, maka mayoritas penduduk masih dapat beraktivitas seperti 
biasanya, sementara itu mereka sewaktu-waktu juga siap bersembunyi didalam 
bunker, bila "wedus gembel" tiba menghampiri mereka.

Silahkan ditanggapi dan dicoba dilapangan.
Semoga bermanfaat.
Wassalam,
S Roestam
http://sroestam.wordpress.com

Kirim email ke