di filipina juga ada suku pedalaman yang tidak mau mengungsi waktu ada
gunung meletus, kalau ngga salah Mount Pinatubo....mereka masuk ke gua, tapi
hawa panas tetap masuk dan mereka juga mati di situ, cuma ada tiga orang
yang selamat, karena masuk ek kolam kotoran kelelawar hingga kepala mereka,
...

mungkin buynkernya di buat di sumur saja jadi dekat dengan muka air
tanah sehingga pendinginan bisa maksimum...tangga masuknya di rancang  4 - 5
meter dari sumur .sehingga lubang sumur dapat di tutup dengan tutup beton
waktu  gunung merapi aktif seperti saat2 ini. dan lubang bunker di buat
berpintu berlapis2 dari bahan tahan api.....mudah2an berguna.

salam

2010/10/31 Ida Bagus Rajendra <[email protected]>

> ®é
> ------------------------------
> *From: *"Tri Basoeki Soelisvichyanto" <[email protected]>
> *Sender: *[email protected]
> *Date: *Sun, 31 Oct 2010 05:31:33 +0000
> *To: *<[email protected]>
> *ReplyTo: *[email protected]
> *Subject: *[indonesia] Re: Bagaimanakan menghindarkan korban2 Letusan
> Gunung Merapi? Bunkertahan Api.
>
>
> Agree mas Roestam,
>
> Sy setuju ide cemerlang seperti ini. Sedemikian juga tidak mengganggu
> keimanan setiap orang.
>
> Bravo mas roestam, layak jd pemimpin. Semoga ! Aminnn..
>
> Aniway, si mbah gak mo turun bukan krn mo membangkang BH X, tapi bagi
> beliau mungkin Raja itu masih HB IX, HB X mungkin cuma perdana mentri,
> itupun yg sy sama yakini.
>
> Salam,
> Tribas
> ------------------------------
> *From: *S Roestam <[email protected]>
> *Sender: *[email protected]
> *Date: *Sun, 31 Oct 2010 12:10:34 +0700 (WIT)
> *To: *<[email protected]>; <[email protected]>; <
> [email protected]>; <[email protected]>
> *ReplyTo: *[email protected]
> *Subject: *[indonesia] Bagaimanakan menghindarkan korban2 Letusan Gunung
> Merapi? Bunker tahan Api.
>
> Kawan2 Anggota Milis Yth,
>
> [image: Mbah 
> Maridjan]<http://sroestam.files.wordpress.com/2010/10/di-cari-yg-bersedia-u-estafet.jpg>
>
> Sang Juru Kunci Gunung Merapi yang legendaris, *Mbah Maridjan*, yang
> foto-foto iklannya sampai saat ini menghiasi iklan "*JOSS*" bus-bus kota
> di Ibukota Jakarta sebagai *seorang yang "kuat" atau "rosa"* yang dapat
> mengendalikan perilaku Gunung Merapi agar tidak membahayakan penduduk yang
> tinggal di kaki gunung itu, akhirnya harus menghadap Sang Maha Kuasa, Allah
> SWT, setelah perjuangannya yang ingin tetap bertahan di rumah beliau di kaki
> gunung itu gagal, *tidak sanggup menahan panasnya abu gunung itu* yang
> mencapai lebih dari *600 derajat Celsius*. Beliau gugur di medan tugas
> dalam posisi bersujud.
>
> Ada anggota masyarakat yang mengusulkan agar beliau *diangkat sebagai
> seorang pahlawan bangsa*, namun ada pula yang menganggap bahwa beliau*tidak 
> mematuhi titah Sultan Hamengku Buwono X
> *untuk segera turun gunung untuk menghindarkan panasnya si "*Wedus Gembel*",
> awan panas yang akan segera menerjang desa dimana beliau tinggal. Akibatnya
> ada 11 orang lagi yang ikut tewas bersama beliau, ketika sedang berupaya
> untuk membujuk beliau agar segera turun gunung, diantaranya adalah wartawan
> dari *Viva News, anggota Polri dan anggota PMI*.
>
> Namun ada pula anggota masyarakat yang menganggap bahwa tindakan beliau
> adalah gegabah dan sombong, menentang hukum alam. Tetapi anehnya, ada
> seorang tetangga beliau beserta keluarganya yang selamat tanpa cacad, keluar
> hidup-hidup dari reruntuhan rumah mereka karena sang istri mendapatkan wahyu
> atau bisikan Illahi untuk memakai mukenah, bantal dan kasur untuk melindungi
> diri mereka dari panasnya abu gunung Merapi. Keluarga ini adalah *keluarga
> Bapak Ponimin* yang fotonya telah menghias media-media TV dan koran
> Nasional, sebagai seorang *calon pengganti Mbah Maridjan*.
>
> [caption id="attachment_299" align="alignleft" width="300" caption="Ponimin
> calon Jurukunci"][image: Ponimin calon Pemngganti 
> Maridjan]<http://sroestam.files.wordpress.com/2010/10/img00059-20101030-0640.jpg>
> [/caption]
>
> Ada sebagian masyarakat menganggap bahwa *selamatnya Pak Ponimin
> sekeluarga* dari panasnya abu Gunung Merapi adalah karena suatu *mukjizat*.
> Namun dapat pula kejadian ini *dijelaskan secara ilmiah*, karena abu
> gunung Merapi yang panas itu setelah menyentuh bumi, atap rumah, batu2an,
> dan pepohonan, akan mengalirkan panasnya kepada benda-benda itu. Proses ini
> berlangsung sekitar *15-menit-an*, setelah itu secara *hukum fisika*, abu
> gunung itu akan turun temperatur-nya ke temperatur udara sekelilingnya
> kembali, sekitar *25 derajat Celsius* atau kurang.
>
> Asalkan atap rumah atau genteng rumah tidak rontok dan jatuh kebawah, maka
> panas dari abu Merapi itu akan berubah menjadi radiasi yang turun ke bawah.
> *Bila tubuh kita dislimuti oleh mukenah, bantal atau kasur*, maka radiasi
> panas itu *tidak akan melukai tubuh kita*, sebab radiasi panas itu
> tertahan oleh bahan2 yang menghambat aliran panas, seperti tersebut diatas.
>
> Jadi kesimpulannya, kita sebenarnya bisa membantu menyelamatkan para
> penduduk yang tinggal di kaki gunung Merapi itu, dengan meminta mereka untuk
> membangun bunker dibawah lantai rumah-rumah mereka dengan ukuran 2 meter x 2
> meter sedalam 2 meter, dimana dinding-dindingnya dilapisi oleh bahan
> penghambat radiasi panas, seperti kapas, kain, bantal, kasur atau serat
> silikon, dll.
>
> Ini sebuah langkah yang tepat, asalkan para penduduk itu tidak tingal lebih
> dekat dari 3-km dari puncak Gunung Merapi, sebab bila terlalu dekat, maka
> yang jatuh ke rumah2 mereka bukan "wedus gembel" atau awan panas, melainkan
> batuan-batuan panas yang dapat menembus genteng dan memecahkannya, kemudian
> melukai para penghuni rumah itu.
>
> Solusi ini mungkin lebih baik dari pada solusi yang diberikan pada saat
> ini, dimana semua penduduk yang ada di radius 10-km dari Merapi harus 
> *mengungsi
> untuk jangka waktu yang lama*, *sekitar 1-bulan*, sampai Gunung Merapi
> benarbenar beristirahat. Ini tentu akan memakan *biaya mahal, dan
> mempersulit kehidupan mereka se-hari-hari*, untuk makan, minum, tidur, dan
> bekerja mencari nafkah.
>
> Dengan solusi membangun bunker-bunker dibawah lantai mereka untuk
> rumah-rumah diluar radius 3-km, maka *mayoritas penduduk* masih *dapat
> beraktivitas seperti biasanya*, sementara itu mereka *sewaktu-waktu juga
> siap bersembunyi didalam bunker*, bila "*wedus gembel*" tiba menghampiri
> mereka.
>
> Silahkan ditanggapi dan dicoba dilapangan.
> Semoga bermanfaat.
> Wassalam,
> S Roestam
> http://sroestam.wordpress.com




-- 
Best Regard

Husni Muhamad Shebubakar
Directional Drilling & GeoSteering Consultant
Hp : +62811883696
Hp : +966557216982
Ph : +62218483546
Jakarta

Kirim email ke