Terimakasih Mas Tri Basoeki yth.

Semoga ada yang mau mendengarkan usul saya ini, agar para pengungsi 
tidak terlalu lama menderita di pengungsian, agar mereka dapat ber-
aktivitas sehari-hari seperti biasanya, sementara itu mereka sudah siap 
bila sewaktu-waktu ada "wedus gembel" yang menghampiri mereka.

Ini juga akan mengurangi kebutuhan akan sumbangan2 bagi para 
pengungsi. Lebih baik uangnya dipakai untuk membangun bunker-bunker di 
bawah lantai rumah mereka, untuk jangka waktu yang panjang.

Wassalam,
S Roestam
http://sroestam.wordpress.com
------------------------------

----Original Message----
From: [email protected]
Date: 31/10/2010 12:31 
To: <[email protected]>
Subj: [indonesia] Re: Bagaimanakan menghindarkan korban2 Letusan 
Gunung Merapi? Bunkertahan Api.


Agree mas Roestam,

Sy setuju ide cemerlang seperti ini. Sedemikian juga tidak mengganggu 
keimanan setiap orang.

Bravo mas roestam, layak jd pemimpin. Semoga ! Aminnn..

Aniway, si mbah gak mo turun bukan krn mo membangkang BH X, tapi bagi 
beliau mungkin Raja itu masih HB IX, HB X mungkin cuma perdana mentri, 
itupun yg sy sama yakini.

Salam,
Tribas

-----Original Message-----
From: S Roestam <[email protected]>
Sender: [email protected]: Sun, 31 Oct 2010 12:10:
34 
To: <[email protected]>; <[email protected]>; 
<[email protected]>; <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [indonesia] Bagaimanakan menghindarkan korban2 Letusan Gunung 
Merapi? Bunker
 tahan Api.

Kawan2 Anggota Milis Yth,



Sang Juru Kunci Gunung Merapi yang legendaris, Mbah Maridjan, yang 
foto-foto iklannya sampai saat ini menghiasi iklan "JOSS" bus-bus kota 
di Ibukota Jakarta sebagai seorang yang "kuat" atau "rosa" yang dapat 
mengendalikan perilaku Gunung Merapi agar tidak membahayakan penduduk 
yang tinggal di kaki gunung itu, akhirnya harus menghadap Sang Maha 
Kuasa, Allah SWT, setelah perjuangannya yang ingin tetap bertahan di 
rumah beliau di kaki gunung itu gagal, tidak sanggup menahan panasnya 
abu gunung itu yang mencapai lebih dari 600 derajat Celsius. Beliau 
gugur di medan tugas dalam posisi bersujud.

Ada anggota masyarakat yang mengusulkan agar beliau diangkat sebagai 
seorang pahlawan bangsa, namun ada pula yang menganggap bahwa beliau 
tidak mematuhi titah Sultan Hamengku Buwono X untuk segera turun gunung 
untuk menghindarkan panasnya si "Wedus Gembel", awan panas yang akan 
segera menerjang desa dimana beliau tinggal. Akibatnya ada 11 orang 
lagi yang ikut tewas bersama beliau, ketika sedang berupaya untuk 
membujuk beliau agar segera turun gunung, diantaranya adalah wartawan 
dari Viva News, anggota Polri dan anggota PMI.

Namun ada pula anggota masyarakat yang menganggap bahwa tindakan 
beliau adalah gegabah dan sombong, menentang hukum alam. Tetapi 
anehnya, ada seorang tetangga beliau beserta keluarganya yang selamat 
tanpa cacad, keluar hidup-hidup dari reruntuhan rumah mereka karena 
sang istri mendapatkan wahyu atau bisikan Illahi untuk memakai mukenah, 
bantal dan kasur untuk melindungi diri mereka dari panasnya abu gunung 
Merapi. Keluarga ini adalah keluarga Bapak Ponimin yang fotonya telah 
menghias media-media TV dan koran Nasional, sebagai seorang calon 
pengganti Mbah Maridjan.

[caption id="attachment_299" align="alignleft" width="300" caption="
Ponimin calon Jurukunci"][/caption]

Ada sebagian masyarakat menganggap bahwa selamatnya Pak Ponimin 
sekeluarga dari panasnya abu Gunung Merapi adalah karena suatu 
mukjizat. Namun dapat pula kejadian ini dijelaskan secara ilmiah, 
karena abu gunung Merapi yang panas itu setelah menyentuh bumi, atap 
rumah, batu2an, dan pepohonan, akan mengalirkan panasnya kepada benda-
benda itu. Proses ini berlangsung sekitar 15-menit-an, setelah itu 
secara hukum fisika, abu gunung itu akan turun temperatur-nya ke 
temperatur udara sekelilingnya kembali, sekitar 25 derajat Celsius atau 
kurang.

Asalkan atap rumah atau genteng rumah tidak rontok dan jatuh kebawah, 
maka panas dari abu Merapi itu akan berubah menjadi radiasi yang turun 
ke bawah. Bila tubuh kita dislimuti oleh mukenah, bantal atau kasur, 
maka radiasi panas itu tidak akan melukai tubuh kita, sebab radiasi 
panas itu tertahan oleh bahan2 yang menghambat aliran panas, seperti 
tersebut diatas.

Jadi kesimpulannya, kita sebenarnya bisa membantu menyelamatkan para 
penduduk yang tinggal di kaki gunung Merapi itu, dengan meminta mereka 
untuk membangun bunker dibawah lantai rumah-rumah mereka dengan ukuran 
2 meter x 2 meter sedalam 2 meter, dimana dinding-dindingnya dilapisi 
oleh bahan penghambat radiasi panas, seperti kapas, kain, bantal, kasur 
atau serat silikon, dll.

Ini sebuah langkah yang tepat, asalkan para penduduk itu tidak tingal 
lebih dekat dari 3-km dari puncak Gunung Merapi, sebab bila terlalu 
dekat, maka yang jatuh ke rumah2 mereka bukan "wedus gembel" atau awan 
panas, melainkan batuan-batuan panas yang dapat menembus genteng dan 
memecahkannya, kemudian melukai para penghuni rumah itu.

Solusi ini mungkin lebih baik dari pada solusi yang diberikan pada 
saat ini, dimana semua penduduk yang ada di radius 10-km dari Merapi 
harus mengungsi untuk jangka waktu yang lama, sekitar 1-bulan, sampai 
Gunung Merapi benarbenar beristirahat. Ini tentu akan memakan biaya 
mahal, dan mempersulit kehidupan mereka se-hari-hari, untuk makan, 
minum, tidur, dan bekerja mencari nafkah.

Dengan solusi membangun bunker-bunker dibawah lantai mereka untuk 
rumah-rumah diluar radius 3-km, maka mayoritas penduduk masih dapat 
beraktivitas seperti biasanya, sementara itu mereka sewaktu-waktu juga 
siap bersembunyi didalam bunker, bila "wedus gembel" tiba menghampiri 
mereka.

Silahkan ditanggapi dan dicoba dilapangan.
Semoga bermanfaat.
Wassalam,
S Roestam
http://sroestam.wordpress.com




-- 
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt

Kirim email ke