Kawan2 Anggota Milis Yth,

Di akhir pekan sambil beristirahat setelah bekerja selama 5 hari, saya ingin 
berbagi tulisan yang menarik dari Bre Redana di Kompas sbb:
Kalau di dunia teks yang pembacaannya linier saja bisa menghantarkan  manusia 
terpental pada kekosongan, bagaimanakah dengan kebudayaan  visual, dunia 
jejaring yang sifatnya multimessage, pesan dan berita yang sifatnya 
berlapis-lapis? Dari suatu teknologi yang disebut multimedia? Makin tak jelas 
mana yang mimpi dan mana yang kenyataan.

Itulah tontonan sehari-hari kita, atau bahkan kehidupan sehari-hari kita. Lewat 
reality show  kita sama-sama dibalut mimpi bahwa hidup bisa berubah seketika.  
Seseorang dari pinggir jalan tiba-tiba masuk orbit perbintangan yang  terang 
benderang berkilauan. Dari situ ada yang terlempar lagi keluar,  melata 
dipinggir jalan lagi. Yang terakhir ini tak lagi terliput karena  sudah bukan 
menjadi bagian dari impian.

Yang dinikmati oleh orang adalah gebyar. Industri secara sadar merekayasa 
gebyar.  Tanyalah pada mereka yang dekat dengan dunia hiburan. Figuran-figuran  
cantik yang muncul entah di TV atau film banyak yang harus kos atau  tinggal di 
gang-gang sempit di Jakarta. Ada produser yang melarang  mereka makan di warteg 
pinggir jalan demi menjaga citra. Padahal untuk  makan di hotel berbintang, 
sangat mahal kecuali kalau ada oom-oom yang  mengajak.

Terhadap dunia teks yang konon telah mendaratkan manusia pada  keniscayaan 
modernisme termasuk beberapa ekses alienasi, betapapun ummat  manusia berhutang 
taruhlah pada isme semacam nasionalisme. Benedict Anderson menelusuri rasa 
kekomunitasan yang kemudian menjadi rasa kebangsaan, terbentuk karena teks. 
Itulah yang bisa kita baca dari Imagined Communities.

Nyatanya, tak ada isme yang begitu kuat, yang mengikat kita, bahkan yang  
membuat orang rela mati atasnya, kecuali nasionalisme. Banyak makam  pahlawan 
tak dikenal, dengan di bawahnya kita tahu ada yang terbujur  mati atas nama 
nasionalisme. Adakah isme sekuat ini? Adakah makam tak dikenal untuk mereka 
yang mati karena konsumerisme misalnya?

Kita benar-benar tak tahu atau pura-pura tak tahu mengenai hal itu. Yang  
jelas, kita membutuhkan figur yang bisa kita pas-paskan untuk  menyenangkan 
diri kita, dari dunia yang tak kita pahami. Dari Nike Ardilla sampai Mbah Surip 
kita subyo-subyo (puji-puji) dengan mengilusikan hidup mereka sebagai penuh 
perjuangan.  Soalnya, belum ada pusara yang bisa mengganti istilah pahlawan tak 
 dikenal dengan idee lain yang lebih spesifik untuk zaman yang berubah  ini. 
Kita semata-mata butuh tumbal untuk menghidupkan nilai-nilai yang  kita anggap 
ideal.

Sekarang kepecayaan kita kepada sendi-sendi kehidupan yang kita anggap  luhur 
goyah. Kita sama-sama tak percaya bahwa anggota DPR yang studi banding ke 
Yunani, sepulangnya dari sana akan menjadi Socrates. Sama kurang yankinnya kita 
kalau semua anggota DPR dikirim ke Harvard, semua akan jadi seperti Dr. Arief 
Budiman. Yang lebih mungkin mereka pulang dengan mengenakan T-shirt bertuliskan 
Harvard University.

Di tengah kancah kehidupan seperti ini gunung Merapi meletus. Mbah Maridjan, 
orang desa yang lugu yang dikultuskan media, tewas terpanggang awan panas. 
Sejak beberapa waktu terakhir, dia berusaha menghindari orang, apalagi media 
massa. Ia telah teralienasi, mungkin seperti yang di-ekpresikan oleh Satre 
dalam Huis Clos: orang lain adalah neraka.

Yang mengepung Mbah Maridjan waktu itu jangan-jangan bukan hanya awan panas 
yang disebutnya wedus gembel. Wedus gembel itu adalah kita semua.....

Itulah sekilas gambaran kehidupan yang kita hadapi sehari-hari, Silahkan 
ditanggapi dan semoga bermanfaat.
Wassalam,
S Roestam
http://wartaduniamaya.blogspot.com

Kirim email ke