Subhanalloh, menarik utk dicoba. Tks semuanya atas berbagi artikel dan 
pengalamannya. 

Wass. DZA
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Rum Mutiara <[email protected]>
Sender: [email protected]: Mon, 17 Jan 2011 12:40:08 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Cc: rum d mutiara<[email protected]>
Subject: [indonesia] Re: Fw: Semut, Laba-Laba, dan Lebah

alhamdulillah sy dapat pencerahan dengan artikel tsb.
mungkin kita belum menggali dunia perlebahan dengan lebih jauh.
sifat, karakter dan bentuk perlebahan ternyata dapat diturunkan kepada yg
mengonsumsinya.
sy belajar bagaimana menguji madu yg baik utk kita konsumsi, salah satunya
sbb:
ambil piring makan putih isi dgn air setinggi +/- 0.5 cm, masukkan satu
sendok teh/makan
madu ketengah air, piring digoyang pelan2 seperti menapis selama +/- 1
menit.
jika pd madu tsb muncul gambar kumpulan bentuk heksagonal maka memory shape
telah terjadi.
berarti sifat baiknya utk dikonsumsi terlihat.
selamat mencoba dan dapatkan kebaikan dari perlebahan.
wasslam,


Rum D Mutiara
0811153524



2011/1/16 Mohammad Andri Budiman <[email protected]>

> ---------- Forwarded message ----------
> From: fathansyah <[email protected]>
> Date: Sun, 16 Jan 2011 01:26:44 -0800 (PST)
> Subject: [AlumniMuslimITB] Semut, Laba-Laba, dan Lebah
> To: [email protected]
>
> Semut,  Laba-Laba, dan Lebah
> October 28,  2009
> Armein Z. R.  Langi
>
> Dalam menghadapi dunia,  anda itu semut, laba-laba, atau lebah?
> Menurut Sir Francis  Bacon, orang itu bisa bersikap seperti semut,
> laba-laba,
> atau  lebah.
> Maksudnya  apa?
>
> Semut itu terus  bergerak, bekerja keras setiap hari mengambil apa saja
> yang
> ada. Hidup itu  mengalir seperti sungai. Menghadapi dunia secara aktif tapi
> apa-adanya. Tidak  ada stres nya. Pokoknya apa yang ada didepannya, apa
> yang
> diberikan oleh hidup,  diambilnya, dan dibawa ke sarangnya untuk dinikmati.
> Mau
> gula, mau bangkai, ia  gotong bawa pulang.
>
> Kalau laba-laba itu  terbalik. Dia banyak diam, mikir. Dia membangun dunia
> dari
> dalam dirinya.   Rumahnya, penghidupannya, semua dari dalam dirinya. Ia
> mengeluarkan sarang  laba-laba dari kelenjar dalam tubuhnya. Sarangnya
> rumit dan
> detail. Serumit  jalan pikirannya. Kemudian ia pasif, diam,  menunggu.
> Sekali-kali ada makhluk  lain yang tersesat, masuk ke dalam jaringannya.
> Baru
> perlahan-lahan ia mendekati  makhluk malang itu, kemudian menyantapnya. Ia
> memprosesnya,  mencernanya. Untuk kemudian dijadikan, antara lain, kelenjar
> membangun  sarangnya. Kemudian diam lagi, merenung, menunggu. Kalau tidak
> ada
> yang nyasar  ke dalam kehidupannya, maka matilah laba-laba dengan
> merana. Nothing  happens in its life, unless there is an  accident.
>
> Yang mengambil jalan  tengah adalah lebah. Ia aktif seperti semut. Ke sana
> ke
> mari. Tapi ia selektif. Ia mencari bunga  yang indah. Kembang yang cantik.
> Madu
> yang harum. Kalau ketemu, ia mengitarinya  dengan senang, dan mengambil
> tetesan
> madu.
> Lebah itu mencari  kembang cantik dalam kehidupan, dan mendapatkan tetesan
> madu
> sebagai  oleh-olehnya.
> Tidak lupa sebelum  pulang ke sarang, lebah membantu sang bunga untuk
> mendapatkan kekasih hati  mereka, jodoh mereka, melalui penyerbukan.
> Kemudian lebah membawa  tetesan madu itu ke sarangnya. Memprosesnya. Baik
> untuk
> keperluanya maupun untuk  keperluan komunitas lebah. Bahkan kitapun bisa
> menikmati berlimpah madu yang  nikmat.
> Lebah itu mengambil apa  yang diberikan kehidupan, memprosesnya, kemudian
> mengembalikannya sebagai  persembahan bagi kehidupan orang lain, makhluk
>  lain.
> Jadi, anda bisa pilih.  Mungkin bisa jadi resolusi di tahun yang baru  ini.
> Mau hidup sibuk seperti  semut, hidup cuek seperti laba-laba, atau hidup
> indah
> berbuahkan madu seperti  lebah?
>
>
>________________________________
>
> Semut, Laba-Laba dan Lebah
> 23 Juni 2010,
> Prof. H.M. Quraish Shihab
>
> Tiga binatang kecil menjadi nama dari tiga surah di dalam Al-Quran, yaitu
> Al-Naml (semut), Al-’Ankabut ( laba-laba), dan Al-Nahl (lebah).
>
> Semut menghimpun makanan sedikit demi sedikit tanpa henti-hentinya. Konon,
> binatang kecil ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun sedangkan
> usianya tidak lebih dari satu tahun. Kelobaannya sedemikian besar sehingga
> ia
> berusaha – dan seringkali berhasil – memikul sesuatu yang lebih besar dari
> badannya, meskipun sesuatu tersebut tidak berguna baginya.
> Dalam surah Al-Naml antara lain diuraikan sikap Fir’aun, juga Nabi
> Sulaiman yang
> memiliki kekuasaan yang tidak dimiliki oleh seorang manusia pun sebelum dan
> sesudahnya. Ada juga kisah raja wanita yang berusaha menyogok Nabi
> Sulaiman demi
> mempertahankan kekuasaan yang dimilikinya.
>
> Lain lagi uraian Al-Quran tentang laba-laba: Sarangnya adalah tempat
> yang paling
> rapuh (QS 29: 41), ia bukan tempat yang aman, apa pun yang berlindung di
> sana
> atau disergapnya akan binasa. Jangankan serangga yang tidak sejenis,
> jantannya
> pun setelah selesai berhubungan seks disergapnya untuk dimusnahkan oleh
> betinanya. Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan hingga dapat
> saling
> memusnahkan. Demikianlah kata sebagian ahli. Sebuah gambaran yang sangat
> mengerikan dari sejenis binatang.
>
> Akan halnya lebah, memiliki insting yang – dalam Al-Quran – “atas
> perintah Tuhan
> ia memilih gunung dan pohon-pohon sebagai tempat tinggal” (QS 16: 68), dan
> sarangnya dibuat berbentuk segi enam bukannya lima atau empat agar
> tidak terjadi
> pemborosan dalam lokasi. Yang dimakannya adalah kembang-kembang dan tidak
> seperti semut yang menumpuk-numpuk makanannya, lebah mengolah makanannya
> dan
> hasil olahannya adalah lilin dan madu yang sangat bermanfaat bagi
> manusia. Lilin
> digunakan untuk penerang dan madu – kata Al-Quran – dapat menjadi obat yang
> menyembuhkan. Lebah sangat disiplin, mengenal pembagian kerja, dan segala
> yang
> tidak berguna disingkirkan dari sarangnya. Lebah tidak mengganggu kecuali
> yang
> mengganggunya, bahkan sengatannya pun dapat menjadi obat.
>
> Sikap hidup manusia seringkali dibandingkan dengan berbagai jenis binatang.
> Jelas ada manusia yang “berbudaya semut”, yaitu menghimpun dan menumpuk
> ilmu
> (tanpa mengolahnya) dan materi (tanpa disesuaikan dengan kebutuhannya).
> Budaya
> semut adalah “budaya menumpuk” yang disuburkan oleh “budaya mumpung”. Tidak
> sedikit problem masyarakat bersumber dari budaya tersebut. pemborosan
> adalah
> anak kandung budaya ini yang mengundang hadirnya benda-benda baru yang
> tidak
> dibutuhkan dan tersingkirnya benda-benda lama yang masih cukup indah untuk
> dipandang dan bermanfaat untuk digunakan. Dapat dipastikan bahwa dalam
> masyarakatkita, banyak sekali semut yang berkeliaran.
>
> Entah berapa banyak jumlah laba-laba yang ada di sekitar kita, yaitu
> mereka yang
> tidak lagi butuh berpikir apa, di mana, dan kapan ia makan, tetapi yang
> mereka
> pikirkan adalah “siapa yang akan mereka jadikan mangsa.”
>
> Nabi Saw mengibaratkan seorang Mukmin sebagai lebah, sesuatu tidak merusak
> dan
> tidak pula menyakitkan: “tidak makan kecuali yang baik, tidak menghasilkan
> kecuali yang bermanfaat dan jika menimpa sesuatu tidak merusak dan tidak
> pula
> memecahkannya.
>
> Dapatkah kita menjadi ibarat lebah, bukan semut apalagi laba-laba?
>
> Sumber: Lentera Hati
>
> --
> Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
> kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan
> akhirat.
>
> Info pengelolaan milis Indonesia next better :
> http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
>

Kirim email ke