Bung Roestam Yth,. Konsep Multikulturisme, Demokratisasi dan Globalisasi merupakan nilai-nilai universal yang dijual barat untuk menunjukkan suatu negara beradab atau tidak,.. sekarang nilai -nilai tersebut sudah mulai dituntut pelaksanaanya oleh semua negara,. Pentingnya nilai-nilai universal tadi maka negara-negara didunia ketiga menyadarinya dan mulai menuntutnya, namun nampaknya dukungan negara barat tidak akan konsisten karena kepentingan politik dan ekonominya akan terganggu, contoh aljazair dengan FIS nya,. di Tunisia pun kelompok reformis tidak diikut sertakan untuk menata negaranya,.. akan kah Mesir pun bernasib yang sama ? " Barat akan berpura-pura mendukung tapi ternayata menekan". Diktator suatu negara ketiga lebih penting selama masih cooperative dengan kepentingannya, dibanding dengan menerapkan demokrasi, multikultur tapi menuntut kesetaraannya.
Salam hangat,. ________________________________ Dari: S Roestam <[email protected]> Kepada: [email protected]; [email protected] Terkirim: Ming, 13 Februari, 2011 09:30:39 Judul: [indonesia] Pro-Demokrasi melanda Dunia Arab: Setelah Tunisia dan Mesir, maka berikutnya Algeria, Syria, Saudi Arabia, Jordania dan Yemen Kawan2 Anggota Milis Yth, Gerakan Pro-Demokrasi pertama melanda Tunisia secara tiba-tiba, dipicu oleh kondisi perekonomian dan kebebasan yang serba dikekang oleh Pemerintahan Otoriter Presiden Zine el-Abidine Ben Ali, yang dengan cepat menyerah kepada kekuatan demokrasi dan meninggalkan negerinya. Dalam waktusatu minggu, gerakan Pro-Demokrasi merambah ke Mesir yang dipicu oleh masalah yang sama, yaitu kurangnya kesejahteraan rakyat, tingginya jumlah anak-anak muda yang menganggur, serta kebebasan berbicara yang sudah puluhan tahun dikekang oleh Pemerintahan otoriter Presiden Hosni Mubarak yang berkuasa selama 30-tahun. Resistensi dari Rezim Mubarak sangat kuat, mulai dari para polisi anti huru-hara yang bertindak kasar, para anggota keamanan dan pendukung Mubarak yang menyerang para Demonstran yang tak bersenjata, dan akhirnya retorika pidato Mubarak yang bertujuan untuk memecah-belah oposisi dan mengulur-ulur waktu agar tetap dapat berkuasa. Setelah demonstrasi besar-besaran berjalan18-hari diseluruh kota-kota besar Mesir dan kegigiah para demonstran untuk bertahan di Lapangan Tahrir, dan ancaman pengepungan Istana Presiden, maka akhirnya Presiden Mubarak menyerah terhadap tuntutan utama para demonstran, yaitumenyerahkan kekuasaannya ke Dewan Tertinggi AB Mesir. Saat ini Mesir dipimpin oleh Dewan Tertinggi AB Mesir, yang para pimpinannya adalah orang-orang yang sangat setia kepada Mubarak. Oleh karena itu para pendukung Gerakan Pro-Demokrasi harus tetap awas dan waspada, jangan sampai janji-janji untuk perubahan konstitusi, pencabutan UU Darurat Keamanan, dan penyelenggaraan Pemilu tidak ditepati oleh dewan. Gerakan ProDemokrasi yang didukung oleh masyarakat Dunia akan terus mengawasi langkah-langkah nyata dari Dewan Tertinggi AB Mesir itu, agar mereka tidak ingkar janji. Revolusi di Mesir itu yang didorong oleh Gerakan Pro-Demokrasi sekarang memberikan inspirasi kepada negara-negara tetangganya yang masih dalam cengkeraman Pemerintahan Otoriter, yaitu Algeria, Siria, Arab Saudi, Yordania dan Yemen. Rakyat di kota-kota besar Timur Tengah ikut merayakan kemenangan Gerakan Pro-Demokrasi Mesir ini secara meriah. Mereka akan mulai berfikir dan merencanakan gerakan Pro-Demokrasi di negeri mereka masing, tinggal tunggu saatnya yang tepat untuk dimulai. Gerakan ini dimudahkan oleh lancarnya jaringan Internet, yang sukses dimanfaatkan oleh para pemuda-pemudi Mesir pendukung utama Gerakan Pro-Demokrasi. Kita tunggu saja tanggal mainnya..... Silahkan ditanggapi dan semoga bermanfaat. Wassalam, S Roestam http://presidenku.com
