Excerpt: "Karena ada persinggungan hubungan familiar dengan jabatan publik untuk menghindari itu saya kira mestinya Hatta Rajasa mundur dari jabatan menteri"
Source: http://m.okezone.com/read/2011/04/26/339/450053 --begins-- Ibas-Aliya, Kekuatan Cinta dan Etika Politik Selasa, 26 April 2011 - 13:00 wib Insaf Albert Tarigan - Okezone Menko Perekonomian Hatta Rajasa dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ( Vibiddaily.com) enlarge this image JAKARTA - Kabar pernikahan Putra bungsu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) dengan puteri Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Aliya Rajasa, terbukti bukan gosip semata. Meskipun hingga kini tak ada pernyataan resmi dari kedua keluarga elit tersebut misalnya, mengenai detail acara membahagiakan itu. Dalam berbagai kesempatan, Hatta Rajasa hanya tersenyum jika ditanya wartawan mengenai pernikahan puterinya seraya sesekali meminta dukungan doa masyarakat. Demikian halnya dengan Presiden Yudhoyono yang diwakili Juru Bicaranya Julian Aldrin Pasha. Bahkan, kabar pertunangan Ibas-Aliya yang lebih dahulu digelar malam nanti di kediaman Hatta, komplek Perumahan Fatmawati Golf Mansion, Jalan RS Fatmawati, Jakarta Selatan, tanpa pengumuman kepada media. Sudah disinggung sebelumnya, pernikahan akbar ini pasti memunculkan spekulasi macam-macam, baik dari aktivis, pengamat maupun politikus, dan tak ketinggalan media massa. Ada yang mengaitkannya dengan pembentukan dinasti politik, perkawinan Partai Demokrat dengan Partai Amanat Nasional dan ada juga yang menyebutnya model nepotisme gaya baru. Bukan hal aneh mengingat Ibas dan Aliya -seperti kata Wakil Ketua DPR Pramono Anung- bukan pasangan biasa. Ibas anak Presiden dan Aliya puteri menteri senior dalam Kabinet Indonesia Bersatu II. Jika Yudhoyono diibaratkan raja maka Hatta Rajasa ialah Mahapatihnya. Komentar juga datang dari masyarakat melalui jejaring sosial dan internet. Sebagian dari mereka berucap. “Jodoh kan di tangan Allah. Apa hubungannya dengan politik?”. Apa hubungannya dengan politik? Sosiolog dan pengajar filsafat Universitas Negeri Jakarta, Robertus Robert tertawa saat ditanya mengenai hal ini. Dia sependapat dengan masyarakat kebanyakan, benih-benih cinta barangkali benar-benar tumbuh dari dalam hati Ibas dan Aliya karena mereka manusia biasa. Bukan karena anak pejabat tinggi di Republik ini. Konon, perasaan cinta muncul karena mereka kerap bertemu di Yayasan Tungga Dewi yang diketuai oleh Annisa Pohan, kakak ipar Ibas. Aliya Rajasa kelahiran 25 tahun silam ini juga merupakan pendiri Yayasan Tungga Dewi. Tidak jelas bagaimana percintaan itu bermula. Mungkin Ibas hanya “kebetulan” seperti Ken Arok yang terhujam jantungnya manakala melihat Ken Dedes, saat bertemu Aliya di Yayasan tersebut. Sastrawan Pramoedya Ananta Toer melukiskan adegan remeh-temeh Arok-Dedes itu demikian. “Paramesywari turun dari tandu. Ia terpesona oleh kecantikannya. Kulitnya gading. Angin meniup dan kainnya tersingkap memperlihatkan pahanya yang seperti pualam. Arok mengangkat muka dan menatap Dedes. Dengan sendirinya ekagrata ajaran Tantripala bekerja. Cahaya matanya memancarkan gelombang menaklukkan wanita yang di hadapannya itu. Dedes terpakukan pada bumi. Ia menundukkan kepala, merasa mata seorang dewa sedang menumpahkan pengaruh atas dirinya. Ia gemetar. Dengan tangan menggigil ia buka pintu Taman Larangan itu, tapi tak mampu. Arok datang membantunya, dan ia dengar suara dewa itu: "Sahayalah orang Yang Suci Dang Hyang Lohgawe." "Dirgahayu untukmu, Arok." Tapi, sebagai anak pejabat publik, bagaimanapun pernikahan itu tak hanya menyangkut penyatuan Ibas dan Aliya. Hubungan Yudhoyono dengan Hatta yang semula hanya jalinan profesional antara Presiden dengan menterinya berubah jadi hubungan besan, keluarga. “Indonesia belum ada aturan menyangkut hubungan seperti itu,” kata Robert di Jakarta, Selasa (26/4/2011). “Tapi TAP MPR Tentang KKN saya kira itu mesti jadi patokan untuk melihat hal demikian.” Robert merujuk pada Ketetapan MPR Nomor XI Tahun 1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Baginya, mustahil Yudhoyono dan Hatta bisa menghindari konflik kepentingan jika pernikahan Ibas-Aliya tetap berlangsung sementara mereka tetap menduduki jabatan masing-masing. “Karena ada persinggungan hubungan familiar dengan jabatan publik untuk menghindari itu saya kira mestinya Hatta Rajasa mundur dari jabatan menteri,” katanya. Pengunduran diri Hatta sebagai “mahapatih” Yudhoyono, kata Robert, lebih pas dipandang dari sisi etika publik. Dengan demikian, tiada percampuran tak sehat antara wilayah privat dan wilayah kenegaraan. Haruskan Hatta mengundurkan diri? (abe) --ends-- -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
