sy sbg org awam jg penasaran ingin tau lebh obyektif hasilnya tanpa harus 
menyalahkan pihak manapun yg berbeda, krn 2 hal yg saya tau pasti : keduanya 
saudara sy seaqidah, dan keduanya berusaha sungguh2 pada kadar kapasitasnya 
untk menghasilkan jawaban penentuan akhir ramadhan. 

apa ada metode efektif, akurat yg sederhana, sepengamatan visual posisi bulan 
purnama di tanggal 15 dan 16 tidak terlalu berbeda. apa ada metode pasti, yg 
bisa kita gunakan, yg bisa menyebutkan 'sekaranglah tepat purnama' ?
 
minal aidin wal faidzin,

Dwi Rianjaya
http://rianjaya.wordpress.com

for the other seasons




________________________________
From: "[email protected]" 
<[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, August 30, 2011 7:47 PM
Subject: [indonesia] Re: Benar Tidaknya 1 Syawal Akan Terbukti Saat Bulan 
Purnama (MembuktikanKebohongan/Kebenaran Dengan Cara Kampungan)


Kangmas,
Saya sependapat dengan pendapat panjenengan, tentang keputusan yang didasarkan 
pada analisa yang terlalu rumit dan apalagi asusmsi dan persepsi.
Analisa buyut2 kita dan juga sistim kalender Jawa lebih mendekati sebenarnya. 
Kalender Jawa dan China juga memiliki kesamaan perhitungan yang cukup akurat 
sejak ribuan tahun yang lalu.
Kiranya pendekatan teknologi perlu di lakukan agar masyarakat tidak dibikin 
bingung.

Selamat Iedul Fitri, 1 Syawal 1432 H, mohon maaf lahir bathin.

Salam hangat,


Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: "Achmad Chamdani Eka P." <[email protected]>
Sender: [email protected]: Tue, 30 Aug 2011 17:24:11 
To: 'Achmad Chamdani Eka P.'<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [indonesia] Benar Tidaknya 1 Syawal Akan Terbukti Saat Bulan Purnama 
(Membuktikan
Kebohongan/Kebenaran Dengan Cara Kampungan)

http://politik.kompasiana.com/2011/08/30/benar-tidaknya-1-syawal-akan-terbukti-saat-bulan-purnama-membuktikan-kebohongankebenaran-dengan-cara-kampungan/
 
Benar Tidaknya 1 Syawal Akan Terbukti Saat Bulan Purnama (Membuktikan 
Kebohongan/Kebenaran Dengan Cara Kampungan)
OPINI | 30 August 2011 | 04:47
5206 52 1 dari 3 Kompasianer menilai menarik


SEBELUM membaca tulisan saya, mari simak pernyataan ini:

–Kriteria hisab yang saat ini digunakan oleh Muhammadiyah seharusnya 
diperbaiki, kriteria tersebut terlalu sederhana—

– Lalu mau kemana Muhammadiyah? Kita berharap Muhammadiyah, sebagai 
ormas besar yang modern, mau berubah demi penyatuan Ummat. Tetapi juga 
sama pentingnya adalah demi kemajuan Muhammadiyah sendiri, jangan sampai 
muncul kesan di komunitas astronomi “Organisasi Islam modern, tetapi 
kriteria kelendernya usang”. Semoga Muhammadiyah mau berubah!—

*****

ITULAH beberapa potongan kalimat yang diungkapkan Deputi Sains, 
Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan 
Antariksa Nasional (Lapan) Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, yang juga 
Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI dalam blognya, maupun 
pernyataan kepada beberapa media massa nasional menjelang akhir Ramadhan 
2011. Untuk melihat pemikiran ahli astronomi itu, silahkan dibuka link 
di atas. Saya tidak perlu mengulanginya.

Pada saat sidang itsbat yang dipimpin Menteri Agama, Senin (29/8) malam, 
Prof. Dr. Thomas Djamaluddin sempat diingatkan oleh salahsatu pengurus 
Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Dr. H. A. Fatah Wibisono, MA, 
agar menjaga lisannya. Fatah mengingatkan karena dianggap kurang santun 
berbicara di forum terhormat itu. Bagi Muhammadiyah yang telah lahir 
sebelum Thomas ada, tentu bukan hal baru dalam menentukan penetapan 1 
Syawal setiap akhir Ramadhan. Maka dari itu, tidak seperti Pemerintah 
yang hanya mampu memprediksi 1 Syawal sehari sebelum waktunya, 
Muhammadiyah sudah melakukan itu jauh hari. Peringatan Fatah, di mata 
saya sangat serius dampaknya untuk ukuran sekarang. Bagaimana tidak, 
tiba-tiba Petinggi Muhammadiyah itu merasa harus mengingatkan seorang 
Profesor yang bekerja di Kementrian Agama. Padahal, dengan logika sehat, 
tak perlu Thomas melakukan obral pernyataan seperti itu saat seluruh 
media menyorot wajah dan mulutnya. Sangat tidak pantas. Ada kesan, 
arogansi yang tidak perlu menurut saya.

Apalagi, ada indikasi kebohongan informasi dari pak Menteri yang 
menyatakan bahwa Malaysia dan Singapura serta negara-negara Arab juga 
melakukan Idul Fitri pada Rabu 31 Agustus 2011. Gara-gara informasi itu, 
nyaris semua peserta sidang itsbat maupun masyarakat yang menonton TV, 
terbius dan nyaris percaya begitu saja. Belakangan, dari informasi 
beberapa kolega di beberapa negara yang disebut di atas, ternyata 
didapat informasi bahwa mereka melakukan Idul Fitri pada Selasa 30 
Agustus 2011. Bahkan hingga saat ini, informasi yang saya terima, ada 
sekitar 50 negara yang melakukan Sholat Idul Fitri pada Selasa tanggal 
30 Agustus 2011 pagi ini. Sebagian beritanya juga dimuat di berbagai 
situs berita terpercaya. Jika ingin baca beritanya, buka saja link berikut:

http://www.detiknews.com/read/2011/08/30/010128/1713387/10/mesir-qatar-emirat-arab-beridul-fitri-30-agustus?9922032
 

atau

http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=1099262d08ad760566784006371a19d1&jenis=c81e728d9d4c2f636f067f89cc14862c
 

Sebelum diteruskan, penting saya sampaikan terlebih dahulu sedikit 
deskripsi. Saya pernah hidup di kampung di pedalaman Klaten, Jawa 
Tengah, hampir 20 tahun, sebelum mengembara ke Surabaya 8 tahun dan di 
Jakarta lebih dari 10 tahun dan beberapa negara saat masih aktif menjadi 
wartawan. Saat di pedesaan jauh dari teknologi, orangtua saya sudah 
mengajarkan bagaimana mengenali karakter alam. Misalnya, karakter 
lintang (baca: bintang), dan mbulan (bulan) serta srengenge (matahari). 
Hingga saat ini, saya masih memelihara sifat Ndeso saya, dengan tujuan 
sekedar agar memori saya saat kecil tidak hilang begitu saja. Jangan 
tanya soal khazanah budaya Jawa di otak saya. Masih tersimpan rapi. 
Karena saking Ndeso-nya, maka saya masih fasih betul berbahasa Jawa. 
Bahkan, oleh keluarga saya, sudah biasa menyebut dan mengucapkan Wulan 
Sawal, untuk mengganti istilah Bulan Syawal. Atau Wulan Rejeb, padahal 
yang dimaksud Bulan Rojab. Atau Wulan Ruwah, padahal nama yang benar 
adalah Bulan Sya’ban.

Belakangan saya dapat ilmunya, penanggalan Jawa, memang mengadopsi 
penanggalan Islam. Maka dari itu, apa yang saya dapat dulu dari orangtua 
saya di Kampung, dengan mudah saya sesuaikan saat saya temukan kenyataan 
bahwa banyak istilah Kejawen yang di dalam Bahasa Arab ternyata 
mirip-mirip, namun istilahnya banyak berubah. Bulan Muharram, di dalam 
benak orang Jawa menjadi Wulan Suro. Entah bagaimana itu terjadi. Yang 
jelas, untuk ngelmu ngalam cara ndeso, saya sedikit banyak sudah mengetahui.

Ketika semalam melihat keterangan Profesor dari LAPAN serta keterangan 
beberapa petinggi Ormas Islam, serta keterangan Menteri Agama RI, saya 
jadi ingat satu hal. Bahwa, mereka bisa saja berdebat dengan bersitegang 
dan berbagai sandiwara di depan kamera wartawan. Saya hanya menunggu 
satu hal. Apa yang akan diputuskan Menteri Agama malam itu. Tidak 
penting soal lebarannya, namun saya ingin mendengar kalimat 1 Syawal 
jatuh pada tanggal berapa di bulan Agustus 2011. Syukurlah, setelah 
diumumkan oleh Pak Menteri bahwa 1 Syawal jatuh pada Rabu 31 Agustus 
2011, maka kemudian muncul ide gila saya.

“Saya ingin menguji, apakah keputusan malam itu terbukti benar atau 
terbukti salah”

Untuk melakukan uji tersebut tidak susah. Kita tidak perlu belajar ke 
LAPAN. Tidak perlu menjadi Professor. Tidak perlu menjadi Deputi di 
LAPAN. Tidak perlu belajar ke Amerika. Bagaimana caranya?

Gampang. Namun kita butuh 15 hari lagi. Saya menggunakan pembuktian 
terbalik.

Tampaknya, pengaruh Prof. Dr. Thomas benar-benar terlihat pada hasil 
keputusan sidang itsbat malam itu. Penjelasan sang profesor , 
benar-benar mampu membius seluruh peserta sidang itsbat, hingga 
Pemerintah pun akhirnya menetapkan 1 Syawal jatuh pada Rabu tanggal 31 
Agustus 2011. Penjelasan meyakinkan Sang Profesor patut dipuji. Meskipun 
Pak Menteri Agama menetapkan 1 Syawal konon berdasarkan beberapa 
pertimbangan, termasuk kesaksian para ahli Rukyat, namun jika kita jeli, 
maka sesungguhnya apa yang diungkapkan Pak Menteri itu tampaknya adalah 
banyak dipengaruhi pemikiran ‘genius’ Pak Profesor. Saking 
berpengaruhnya yang bersangkutan, maka Thomas pun tak segan mengkritik 
Muhammadiyah. Pokoknya malam itu, Sang Profesor benar-benar berada di 
atas angin.

Terbukti, tanpa ada keraguan, dengan sangat lantang, sang Profesor LAPAN 
itu memberi pendapat keras kepada Muhammadiyah. Jika sebelumnya 
organisasi bentukan KH Ahmad Dahlan tersebut dikenal sebagai Organisasi 
Islam Pembaharu dan modern, maka di mata Thomas, tiba-tiba jadi 
sebaliknya. Muhammadiyah disebut usang, kuno dan malah ketinggalan dari 
NU dan Ormas Islam lainnya.

Namun harus diingat, seskipun selintas terkesan cukup meyakinkan dan 
mampu melambungkan nama Profesor LAPAN ini, coba tunggulah hingga 15 
hari ke depan. Kehebatan Sang Profesor akan teruji 15 hari lagi!. Di 
saat itulah, akan terbukti keterangan berbusa-busa Sang Profesor akan 
menjadi barang murahan, atau akan menjadi emas mulia.

Kenapa?

Begini. Kita hanya menunggu 15 hari lagi ketika Allah SWT tunjukkan 
kepada Umat bahwa pada hari itu, akan muncul apa yang disebut Bulan 
Purnama. Sesuai perhitungan sederhana saya, sebut saja perhitungan 
kampungan saya, maka 15 hari dari tanggal 1 Syawal, dipastikan akan 
terjadi Bulan Purnama. Dengan munculnya Bulan Purnama, secara langsung 
dan tanpa rekayasa, akan membuktikan secara nyata mana pihak yang benar- 
dan mana pihak yang salah.

Tuhan tidak pernah bohong soal satu ini.

Anda juga mengalami. Saya juga mengalami. Sejak saya kecil hingga 
menginjak usia 40 tahun, setiap Bulan Purnama, pasti bulan akan muncul 
sangat mempesona. Selain sempurna wujudnya, bulan akan hadir sangat 
spesial karena berada tepat di atas kepala kita. Sekali lagi, saat itu, 
bulan tepat di atas kepala kita, dan wujud bulan akan sangat sempurna.

Mengapa Bulan Purnama menjadi acuan kebenaran penetapan 1 Syawal?

Sederhana. Dengan cara kampungan saya, maka penetapan 1 Syawal kemarin, 
akan terbukti benar atau tidaknya, cukup dengan melihat secara langsung 
Bulan Purnama. Kondisi bulan saat Bulan Purnama, sangat berbeda dengan 
kondisi bulan saat tanggal di awal Bulan Syawal. Jika pada awal Syawal, 
fisik bulan mungkin hanya terlihat tipis dan meragukan meski dilihat 
dengan alat teropong sekalipun, sebaliknya pada tanggal 15 Syawal, fisik 
bulan akan terlihat sangat jelas, dan mencapai ‘titik kulminasi’ dari 
fase perubahan fisiknya. Pada Bulan Purnama, manusia tidak perlu memakai 
teropong untuk membuktikan benar tidaknya terjadi Bulan Purnama. Kita 
cukup keluar rumah, tengok ke atas. Jika bulan terlihat bulat sempurna 
di atas kepala kita, itu sudah pasti tanggal 15 setiap bulan. Tidak 
perlu rukyat, tidak perlu Hisab, tidak pelu sidang itsbat. Pada tanggal 
15 bulan Jawa/Islam, tak akan terjadi perbedaan pendapat antara para 
Petinggi Ormas Islam soal kebenaran Bulan Purnama. Pada malam itu, tak 
ada satupun Profesor Astronomi yang bisa membantah fenomena alam berupa 
Bulan Purnama. Semua harus bilang bahwa malam itu adalah tanggal 15 Syawal.

Mulai saat ini, cobalah hitung.

Jika ikut versi Muhammadiyah, maka tanggal 1 Syawal 1432 H, jatuh pada 
Selasa tanggal 30 Agustus 2011.

Jika ikut versi Pemerintah, maka tanggal 1 Syawal 1432 H, jatuh pada 
Rabu tanggal 31 Agustus 2011.

Logika kampungan saya mengatakan, jika dihitung sesuai dengan 
masing-masing versi, maka akan terjadi begini:

Jika tanggal 1 Syawal 1432H jatuh pada tanggal 30 Agustus 2011M, maka 
Bulan Purnama akan jatuh pada tanggal 13 September 2011.

Jika tanggal 1 Syawal 1432H jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011M, maka 
Bulan Purnama akan jatuh pada tanggal 14 September 2011.

Saya menjamin, pada dua malam di hari itu, masyarakat akan bisa 
membuktikan dengan alamiah dan akurat melalui mata kepala sendiri, versi 
siapa yang paling akurat dalam penentuan 1 Syawal 1432H. Jika bulan 
terlihat Sempurna (Bulan Purnama) pada 13 September, sudah pasti 
Muhammadiyah telah melakukan perhitungan dengan benar. Akan tetapi 
sebaliknya jika Bulan Purnama terjadi pada tanggal 14 September malam, 
maka sudah pasti pemerintah telah melakukan perhitungan dengan benar, 
dan Muhammadiyah perlu introspeksi diri dan mengubah sistem perhitungan 
penentuan awal dan akhir Ramadhan.

Pada malam itu, akan menjadi malam penentuan yang menegangkan dan 
menjadi Hakim Alam terbaik untuk membuktikan kepada manusia, siapa yang 
terbukti melakukan kesalahan dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan 
sehingga menyebabkan perbedaan 1 Syawal.

Apabila Bulan Purnama berlangsung pada 13 September 2011, berarti sidang 
itsbat malam itu, yang dihadiri seluruh Petinggi Ormas dan Menteri Agama 
serta tamu kedutaan Negara Islam dan banyak tokoh Islam waktu itu, akan 
menjadi sidang sampah belaka.

Jangan kaget apabila masyarakat kemudian menjustifikasi sidang malam itu 
sebagai bentuk baru kebohongan pemerintah terhadap masyarakat Islam 
seluruh Indonesia. Masyarakat mungkin bisa dikelabuhi di saat awal, 
namun untuk urusan satu ini, masyarakat bisa membuktikan perilaku aparat 
kita lurus atau tidak, hanya membutuhkan waktu 15 hari dari tanggal 
penetapan mereka.

Ingat, pada Bulan Purnama, tidak ada satupun manusia yang mampu mengubah 
posisi Bulan serta bentuknya yang sangat sempurna, kecuali Allah SWT, 
Pangeran Sing Moho Kuwoso—bahasa Jawanya. Jadi, tidak mungkin pada malam 
itu, ada jumpa pers yang menyatakan, bahwa Bulan Purnama yang terjadi 
adalah kesalahan Tuhan. Tidak mungkin itu. Itulah hebatnya Bulan Purnama.

Oleh karenanya, untuk membuktikan analisa saya, mari bersama-sama 
menunggu hadirnya Bulan Purnama. Tuhan akan memberi bukti langsung 
kepada kita, bukti fisik, betapa manusia sangat lemah dan tidak ada 
gunanya sombong. Bahwa manusia, tidak perlu saling menyindir dan saling 
menyalahkan. Bahwa manusia harus berkawan dengan alam untuk bisa 
memanfaatkan dia dalam mengatur tata kehidupan di dunia yang fana. 
Penasaran? Tunggu Bulan Purnama nanti. #(Mustofa B. Nahrawardaya)#

--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt 
êå¢fÚ•¨]jV¦‘ªòi·«²)Þ®­z¶©‘©äj'Z†)f»û^’z%¢¬z»Z‘«"†Æ²jxjyš�öš¶éíºKŠÈš•©�zh¤y¶¡jšjwnž&�jv¤†*Ú´‰ß¢—§�éh•¦§š)b°‰Ý¢w¬‰©ÞÆÖ޶׫†Ûiÿúnnw±µ·­µêçzßߊW¬þh¥ŠËb�Ú'zÈšŠwè·

Kirim email ke