sekedar menambahkan. http://kaahil.wordpress.com/2011/08/29/bolehkah-seorang-muslim-lebaran-bersandar-pada-ilmu-hisab-ilmu-falaki/
On 8/30/11, muhammad arif <[email protected]> wrote: > sekedar sharing > m arif > > http://www.facebook.com/notes/dade-arinto/cara-menghitung-1-ramadhan-dan-1-syawal-yang-benar/10150269776862511 > > --- On Tue, 8/30/11, [email protected] <[email protected]> wrote: > > From: [email protected] <[email protected]> > Subject: [indonesia] Re: Benar Tidaknya 1 Syawal Akan Terbukti Saat Bulan > Purnama (MembuktikanKebohongan/Kebenaran Dengan Cara Kampungan) > To: [email protected] > Date: Tuesday, August 30, 2011, 9:38 PM > > > Masalahnya dua-duanya mengaku menggunakan teknologi terbaru. > > Satunya menilai metodologi satunya sudah usang secara astronomis dan > menggunakan kriteria yang diyakini para astronom sebagai paling akurat. > > Di pihak satunya sama saja, mengaku hitungan matematika serta > asumsi/kriterianya adalah yang paling canggih tanpa perlu pembuktian lagi. > Bahkan klaimnya sebagai satu-satunya cara yang bisa menghitung jauh ke > depan. > > Lieur memang, serahkan saja ke ahlinya. Yang harus disyukuri, di negara kita > tidak ada represi terhadap perbedaan ini. Di malaysia, iran, dan beberapa > negara timur tengah, berbeda dengan pemerintah bisa ditangkap. > > > > > -----Original Message----- > From: [email protected] > Sender: [email protected]: Tue, 30 Aug 2011 12:47:31 > To: <[email protected]> > Reply-To: [email protected] > Subject: [indonesia] Re: Benar Tidaknya 1 Syawal Akan Terbukti Saat Bulan > Purnama (MembuktikanKebohongan/Kebenaran Dengan Cara Kampungan) > > > Kangmas, > Saya sependapat dengan pendapat panjenengan, tentang keputusan yang > didasarkan pada analisa yang terlalu rumit dan apalagi asusmsi dan persepsi. > Analisa buyut2 kita dan juga sistim kalender Jawa lebih mendekati > sebenarnya. Kalender Jawa dan China juga memiliki kesamaan perhitungan yang > cukup akurat sejak ribuan tahun yang lalu. > Kiranya pendekatan teknologi perlu di lakukan agar masyarakat tidak dibikin > bingung. > > Selamat Iedul Fitri, 1 Syawal 1432 H, mohon maaf lahir bathin. > > Salam hangat, > > > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > -----Original Message----- > From: "Achmad Chamdani Eka P." <[email protected]> > Sender: [email protected]: Tue, 30 Aug 2011 17:24:11 > To: 'Achmad Chamdani Eka P.'<[email protected]> > Reply-To: [email protected] > Subject: [indonesia] Benar Tidaknya 1 Syawal Akan Terbukti Saat Bulan > Purnama (Membuktikan > Kebohongan/Kebenaran Dengan Cara Kampungan) > > http://politik.kompasiana.com/2011/08/30/benar-tidaknya-1-syawal-akan-terbukti-saat-bulan-purnama-membuktikan-kebohongankebenaran-dengan-cara-kampungan/ > > Benar Tidaknya 1 Syawal Akan Terbukti Saat Bulan Purnama (Membuktikan > Kebohongan/Kebenaran Dengan Cara Kampungan) > OPINI | 30 August 2011 | 04:47 > 5206 52 1 dari 3 Kompasianer menilai menarik > > > SEBELUM membaca tulisan saya, mari simak pernyataan ini: > > –Kriteria hisab yang saat ini digunakan oleh Muhammadiyah seharusnya > diperbaiki, kriteria tersebut terlalu sederhana— > > – Lalu mau kemana Muhammadiyah? Kita berharap Muhammadiyah, sebagai > ormas besar yang modern, mau berubah demi penyatuan Ummat. Tetapi juga > sama pentingnya adalah demi kemajuan Muhammadiyah sendiri, jangan sampai > muncul kesan di komunitas astronomi “Organisasi Islam modern, tetapi > kriteria kelendernya usang”. Semoga Muhammadiyah mau berubah!— > > ***** > > ITULAH beberapa potongan kalimat yang diungkapkan Deputi Sains, > Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan > Antariksa Nasional (Lapan) Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, yang juga > Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI dalam blognya, maupun > pernyataan kepada beberapa media massa nasional menjelang akhir Ramadhan > 2011. Untuk melihat pemikiran ahli astronomi itu, silahkan dibuka link > di atas. Saya tidak perlu mengulanginya. > > Pada saat sidang itsbat yang dipimpin Menteri Agama, Senin (29/8) malam, > Prof. Dr. Thomas Djamaluddin sempat diingatkan oleh salahsatu pengurus > Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Dr. H. A. Fatah Wibisono, MA, > agar menjaga lisannya. Fatah mengingatkan karena dianggap kurang santun > berbicara di forum terhormat itu. Bagi Muhammadiyah yang telah lahir > sebelum Thomas ada, tentu bukan hal baru dalam menentukan penetapan 1 > Syawal setiap akhir Ramadhan. Maka dari itu, tidak seperti Pemerintah > yang hanya mampu memprediksi 1 Syawal sehari sebelum waktunya, > Muhammadiyah sudah melakukan itu jauh hari. Peringatan Fatah, di mata > saya sangat serius dampaknya untuk ukuran sekarang. Bagaimana tidak, > tiba-tiba Petinggi Muhammadiyah itu merasa harus mengingatkan seorang > Profesor yang bekerja di Kementrian Agama. Padahal, dengan logika sehat, > tak perlu Thomas melakukan obral pernyataan seperti itu saat seluruh > media menyorot wajah dan mulutnya. Sangat tidak pantas. Ada kesan, > arogansi yang tidak perlu menurut saya. > > Apalagi, ada indikasi kebohongan informasi dari pak Menteri yang > menyatakan bahwa Malaysia dan Singapura serta negara-negara Arab juga > melakukan Idul Fitri pada Rabu 31 Agustus 2011. Gara-gara informasi itu, > nyaris semua peserta sidang itsbat maupun masyarakat yang menonton TV, > terbius dan nyaris percaya begitu saja. Belakangan, dari informasi > beberapa kolega di beberapa negara yang disebut di atas, ternyata > didapat informasi bahwa mereka melakukan Idul Fitri pada Selasa 30 > Agustus 2011. Bahkan hingga saat ini, informasi yang saya terima, ada > sekitar 50 negara yang melakukan Sholat Idul Fitri pada Selasa tanggal > 30 Agustus 2011 pagi ini. Sebagian beritanya juga dimuat di berbagai > situs berita terpercaya. Jika ingin baca beritanya, buka saja link berikut: > > http://www.detiknews.com/read/2011/08/30/010128/1713387/10/mesir-qatar-emirat-arab-beridul-fitri-30-agustus?9922032 > > > atau > > http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=1099262d08ad760566784006371a19d1&jenis=c81e728d9d4c2f636f067f89cc14862c > > > Sebelum diteruskan, penting saya sampaikan terlebih dahulu sedikit > deskripsi. Saya pernah hidup di kampung di pedalaman Klaten, Jawa > Tengah, hampir 20 tahun, sebelum mengembara ke Surabaya 8 tahun dan di > Jakarta lebih dari 10 tahun dan beberapa negara saat masih aktif menjadi > wartawan. Saat di pedesaan jauh dari teknologi, orangtua saya sudah > mengajarkan bagaimana mengenali karakter alam. Misalnya, karakter > lintang (baca: bintang), dan mbulan (bulan) serta srengenge (matahari). > Hingga saat ini, saya masih memelihara sifat Ndeso saya, dengan tujuan > sekedar agar memori saya saat kecil tidak hilang begitu saja. Jangan > tanya soal khazanah budaya Jawa di otak saya. Masih tersimpan rapi. > Karena saking Ndeso-nya, maka saya masih fasih betul berbahasa Jawa. > Bahkan, oleh keluarga saya, sudah biasa menyebut dan mengucapkan Wulan > Sawal, untuk mengganti istilah Bulan Syawal. Atau Wulan Rejeb, padahal > yang dimaksud Bulan Rojab. Atau Wulan Ruwah, padahal nama yang benar > adalah Bulan Sya’ban. > > Belakangan saya dapat ilmunya, penanggalan Jawa, memang mengadopsi > penanggalan Islam. Maka dari itu, apa yang saya dapat dulu dari orangtua > saya di Kampung, dengan mudah saya sesuaikan saat saya temukan kenyataan > bahwa banyak istilah Kejawen yang di dalam Bahasa Arab ternyata > mirip-mirip, namun istilahnya banyak berubah. Bulan Muharram, di dalam > benak orang Jawa menjadi Wulan Suro. Entah bagaimana itu terjadi. Yang > jelas, untuk ngelmu ngalam cara ndeso, saya sedikit banyak sudah mengetahui. > > Ketika semalam melihat keterangan Profesor dari LAPAN serta keterangan > beberapa petinggi Ormas Islam, serta keterangan Menteri Agama RI, saya > jadi ingat satu hal. Bahwa, mereka bisa saja berdebat dengan bersitegang > dan berbagai sandiwara di depan kamera wartawan. Saya hanya menunggu > satu hal. Apa yang akan diputuskan Menteri Agama malam itu. Tidak > penting soal lebarannya, namun saya ingin mendengar kalimat 1 Syawal > jatuh pada tanggal berapa di bulan Agustus 2011. Syukurlah, setelah > diumumkan oleh Pak Menteri bahwa 1 Syawal jatuh pada Rabu 31 Agustus > 2011, maka kemudian muncul ide gila saya. > > “Saya ingin menguji, apakah keputusan malam itu terbukti benar atau > terbukti salah” > > Untuk melakukan uji tersebut tidak susah. Kita tidak perlu belajar ke > LAPAN. Tidak perlu menjadi Professor. Tidak perlu menjadi Deputi di > LAPAN. Tidak perlu belajar ke Amerika. Bagaimana caranya? > > Gampang. Namun kita butuh 15 hari lagi. Saya menggunakan pembuktian > terbalik. > > Tampaknya, pengaruh Prof. Dr. Thomas benar-benar terlihat pada hasil > keputusan sidang itsbat malam itu. Penjelasan sang profesor , > benar-benar mampu membius seluruh peserta sidang itsbat, hingga > Pemerintah pun akhirnya menetapkan 1 Syawal jatuh pada Rabu tanggal 31 > Agustus 2011. Penjelasan meyakinkan Sang Profesor patut dipuji. Meskipun > Pak Menteri Agama menetapkan 1 Syawal konon berdasarkan beberapa > pertimbangan, termasuk kesaksian para ahli Rukyat, namun jika kita jeli, > maka sesungguhnya apa yang diungkapkan Pak Menteri itu tampaknya adalah > banyak dipengaruhi pemikiran ‘genius’ Pak Profesor. Saking > berpengaruhnya yang bersangkutan, maka Thomas pun tak segan mengkritik > Muhammadiyah. Pokoknya malam itu, Sang Profesor benar-benar berada di > atas angin. > > Terbukti, tanpa ada keraguan, dengan sangat lantang, sang Profesor LAPAN > itu memberi pendapat keras kepada Muhammadiyah. Jika sebelumnya > organisasi bentukan KH Ahmad Dahlan tersebut dikenal sebagai Organisasi > Islam Pembaharu dan modern, maka di mata Thomas, tiba-tiba jadi > sebaliknya. Muhammadiyah disebut usang, kuno dan malah ketinggalan dari > NU dan Ormas Islam lainnya. > > Namun harus diingat, seskipun selintas terkesan cukup meyakinkan dan > mampu melambungkan nama Profesor LAPAN ini, coba tunggulah hingga 15 > hari ke depan. Kehebatan Sang Profesor akan teruji 15 hari lagi!. Di > saat itulah, akan terbukti keterangan berbusa-busa Sang Profesor akan > menjadi barang murahan, atau akan menjadi emas mulia. > > Kenapa? > > Begini. Kita hanya menunggu 15 hari lagi ketika Allah SWT tunjukkan > kepada Umat bahwa pada hari itu, akan muncul apa yang disebut Bulan > Purnama. Sesuai perhitungan sederhana saya, sebut saja perhitungan > kampungan saya, maka 15 hari dari tanggal 1 Syawal, dipastikan akan > terjadi Bulan Purnama. Dengan munculnya Bulan Purnama, secara langsung > dan tanpa rekayasa, akan membuktikan secara nyata mana pihak yang benar- > dan mana pihak yang salah. > > Tuhan tidak pernah bohong soal satu ini. > > Anda juga mengalami. Saya juga mengalami. Sejak saya kecil hingga > menginjak usia 40 tahun, setiap Bulan Purnama, pasti bulan akan muncul > sangat mempesona. Selain sempurna wujudnya, bulan akan hadir sangat > spesial karena berada tepat di atas kepala kita. Sekali lagi, saat itu, > bulan tepat di atas kepala kita, dan wujud bulan akan sangat sempurna. > > Mengapa Bulan Purnama menjadi acuan kebenaran penetapan 1 Syawal? > > Sederhana. Dengan cara kampungan saya, maka penetapan 1 Syawal kemarin, > akan terbukti benar atau tidaknya, cukup dengan melihat secara langsung > Bulan Purnama. Kondisi bulan saat Bulan Purnama, sangat berbeda dengan > kondisi bulan saat tanggal di awal Bulan Syawal. Jika pada awal Syawal, > fisik bulan mungkin hanya terlihat tipis dan meragukan meski dilihat > dengan alat teropong sekalipun, sebaliknya pada tanggal 15 Syawal, fisik > bulan akan terlihat sangat jelas, dan mencapai ‘titik kulminasi’ dari > fase perubahan fisiknya. Pada Bulan Purnama, manusia tidak perlu memakai > teropong untuk membuktikan benar tidaknya terjadi Bulan Purnama. Kita > cukup keluar rumah, tengok ke atas. Jika bulan terlihat bulat sempurna > di atas kepala kita, itu sudah pasti tanggal 15 setiap bulan. Tidak > perlu rukyat, tidak perlu Hisab, tidak pelu sidang itsbat. Pada tanggal > 15 bulan Jawa/Islam, tak akan terjadi perbedaan pendapat antara para > Petinggi Ormas Islam soal kebenaran Bulan Purnama. Pada malam itu, tak > ada satupun Profesor Astronomi yang bisa membantah fenomena alam berupa > Bulan Purnama. Semua harus bilang bahwa malam itu adalah tanggal 15 Syawal. > > Mulai saat ini, cobalah hitung. > > Jika ikut versi Muhammadiyah, maka tanggal 1 Syawal 1432 H, jatuh pada > Selasa tanggal 30 Agustus 2011. > > Jika ikut versi Pemerintah, maka tanggal 1 Syawal 1432 H, jatuh pada > Rabu tanggal 31 Agustus 2011. > > Logika kampungan saya mengatakan, jika dihitung sesuai dengan > masing-masing versi, maka akan terjadi begini: > > Jika tanggal 1 Syawal 1432H jatuh pada tanggal 30 Agustus 2011M, maka > Bulan Purnama akan jatuh pada tanggal 13 September 2011. > > Jika tanggal 1 Syawal 1432H jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011M, maka > Bulan Purnama akan jatuh pada tanggal 14 September 2011. > > Saya menjamin, pada dua malam di hari itu, masyarakat akan bisa > membuktikan dengan alamiah dan akurat melalui mata kepala sendiri, versi > siapa yang paling akurat dalam penentuan 1 Syawal 1432H. Jika bulan > terlihat Sempurna (Bulan Purnama) pada 13 September, sudah pasti > Muhammadiyah telah melakukan perhitungan dengan benar. Akan tetapi > sebaliknya jika Bulan Purnama terjadi pada tanggal 14 September malam, > maka sudah pasti pemerintah telah melakukan perhitungan dengan benar, > dan Muhammadiyah perlu introspeksi diri dan mengubah sistem perhitungan > penentuan awal dan akhir Ramadhan. > > Pada malam itu, akan menjadi malam penentuan yang menegangkan dan > menjadi Hakim Alam terbaik untuk membuktikan kepada manusia, siapa yang > terbukti melakukan kesalahan dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan > sehingga menyebabkan perbedaan 1 Syawal. > > Apabila Bulan Purnama berlangsung pada 13 September 2011, berarti sidang > itsbat malam itu, yang dihadiri seluruh Petinggi Ormas dan Menteri Agama > serta tamu kedutaan Negara Islam dan banyak tokoh Islam waktu itu, akan > menjadi sidang sampah belaka. > > Jangan kaget apabila masyarakat kemudian menjustifikasi sidang malam itu > sebagai bentuk baru kebohongan pemerintah terhadap masyarakat Islam > seluruh Indonesia. Masyarakat mungkin bisa dikelabuhi di saat awal, > namun untuk urusan satu ini, masyarakat bisa membuktikan perilaku aparat > kita lurus atau tidak, hanya membutuhkan waktu 15 hari dari tanggal > penetapan mereka. > > Ingat, pada Bulan Purnama, tidak ada satupun manusia yang mampu mengubah > posisi Bulan serta bentuknya yang sangat sempurna, kecuali Allah SWT, > Pangeran Sing Moho Kuwoso—bahasa Jawanya. Jadi, tidak mungkin pada malam > itu, ada jumpa pers yang menyatakan, bahwa Bulan Purnama yang terjadi > adalah kesalahan Tuhan. Tidak mungkin itu. Itulah hebatnya Bulan Purnama. > > Oleh karenanya, untuk membuktikan analisa saya, mari bersama-sama > menunggu hadirnya Bulan Purnama. Tuhan akan memberi bukti langsung > kepada kita, bukti fisik, betapa manusia sangat lemah dan tidak ada > gunanya sombong. Bahwa manusia, tidak perlu saling menyindir dan saling > menyalahkan. Bahwa manusia harus berkawan dengan alam untuk bisa > memanfaatkan dia dalam mengatur tata kehidupan di dunia yang fana. > Penasaran? Tunggu Bulan Purnama nanti. #(Mustofa B. Nahrawardaya)# > > -- > Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta > kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan > akhirat. > > Info pengelolaan milis Indonesia next better : > http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt > > êå¢fÚ•¨]jV¦‘ªòi·«²)Þ®z¶©‘©äj'Z†)f»û^’z%¢¬z»Z‘«"†Æ²jxjyš�öš¶éíºKŠÈš•©�zh¤y¶¡jšjwnž&�jv¤†*Ú´‰ß¢—§�éh•¦§š)b°‰Ý¢w¬‰©ÞÆÖ޶׫†Ûiÿúnnw±µ·µêçzßߊW¬þh¥ŠËb�Ú'zÈšŠwè·êå¢fÚ•¨]jV¦‘ªòi·«²)Þ®z¶©‘©äj'Z†)f»û^’z%¢¬z»Z‘«"†Æ²jxjyš�öš¶éíºKŠÈš•©�zh¤y¶¡jšjwnž&�jv¤†*Ú´‰ß¢—§�éh•¦§š)b°‰Ý¢w¬‰©ÞÆÖ޶׫†Ûiÿúnnw±µ·µêçzßߊW¬þh¥ŠËb�Ú'zÈšŠwè· -- Best Regards Tsulusun Ar Royan -- Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat. Info pengelolaan milis Indonesia next better : http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt
