http://politik.kompasiana.com/2011/08/30/benar-tidaknya-1-syawal-akan-terbukti-saat-bulan-purnama-membuktikan-kebohongankebenaran-dengan-cara-kampungan/
Benar Tidaknya 1 Syawal Akan Terbukti Saat Bulan Purnama (Membuktikan
Kebohongan/Kebenaran Dengan Cara Kampungan)
OPINI | 30 August 2011 | 04:47
5206 52 1 dari 3 Kompasianer menilai menarik
SEBELUM membaca tulisan saya, mari simak pernyataan ini:
–Kriteria hisab yang saat ini digunakan oleh Muhammadiyah seharusnya
diperbaiki, kriteria tersebut terlalu sederhana—
– Lalu mau kemana Muhammadiyah? Kita berharap Muhammadiyah, sebagai
ormas besar yang modern, mau berubah demi penyatuan Ummat. Tetapi juga
sama pentingnya adalah demi kemajuan Muhammadiyah sendiri, jangan sampai
muncul kesan di komunitas astronomi “Organisasi Islam modern, tetapi
kriteria kelendernya usang”. Semoga Muhammadiyah mau berubah!—
*****
ITULAH beberapa potongan kalimat yang diungkapkan Deputi Sains,
Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan
Antariksa Nasional (Lapan) Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, yang juga
Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI dalam blognya, maupun
pernyataan kepada beberapa media massa nasional menjelang akhir Ramadhan
2011. Untuk melihat pemikiran ahli astronomi itu, silahkan dibuka link
di atas. Saya tidak perlu mengulanginya.
Pada saat sidang itsbat yang dipimpin Menteri Agama, Senin (29/8) malam,
Prof. Dr. Thomas Djamaluddin sempat diingatkan oleh salahsatu pengurus
Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Dr. H. A. Fatah Wibisono, MA,
agar menjaga lisannya. Fatah mengingatkan karena dianggap kurang santun
berbicara di forum terhormat itu. Bagi Muhammadiyah yang telah lahir
sebelum Thomas ada, tentu bukan hal baru dalam menentukan penetapan 1
Syawal setiap akhir Ramadhan. Maka dari itu, tidak seperti Pemerintah
yang hanya mampu memprediksi 1 Syawal sehari sebelum waktunya,
Muhammadiyah sudah melakukan itu jauh hari. Peringatan Fatah, di mata
saya sangat serius dampaknya untuk ukuran sekarang. Bagaimana tidak,
tiba-tiba Petinggi Muhammadiyah itu merasa harus mengingatkan seorang
Profesor yang bekerja di Kementrian Agama. Padahal, dengan logika sehat,
tak perlu Thomas melakukan obral pernyataan seperti itu saat seluruh
media menyorot wajah dan mulutnya. Sangat tidak pantas. Ada kesan,
arogansi yang tidak perlu menurut saya.
Apalagi, ada indikasi kebohongan informasi dari pak Menteri yang
menyatakan bahwa Malaysia dan Singapura serta negara-negara Arab juga
melakukan Idul Fitri pada Rabu 31 Agustus 2011. Gara-gara informasi itu,
nyaris semua peserta sidang itsbat maupun masyarakat yang menonton TV,
terbius dan nyaris percaya begitu saja. Belakangan, dari informasi
beberapa kolega di beberapa negara yang disebut di atas, ternyata
didapat informasi bahwa mereka melakukan Idul Fitri pada Selasa 30
Agustus 2011. Bahkan hingga saat ini, informasi yang saya terima, ada
sekitar 50 negara yang melakukan Sholat Idul Fitri pada Selasa tanggal
30 Agustus 2011 pagi ini. Sebagian beritanya juga dimuat di berbagai
situs berita terpercaya. Jika ingin baca beritanya, buka saja link berikut:
http://www.detiknews.com/read/2011/08/30/010128/1713387/10/mesir-qatar-emirat-arab-beridul-fitri-30-agustus?9922032
atau
http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=1099262d08ad760566784006371a19d1&jenis=c81e728d9d4c2f636f067f89cc14862c
Sebelum diteruskan, penting saya sampaikan terlebih dahulu sedikit
deskripsi. Saya pernah hidup di kampung di pedalaman Klaten, Jawa
Tengah, hampir 20 tahun, sebelum mengembara ke Surabaya 8 tahun dan di
Jakarta lebih dari 10 tahun dan beberapa negara saat masih aktif menjadi
wartawan. Saat di pedesaan jauh dari teknologi, orangtua saya sudah
mengajarkan bagaimana mengenali karakter alam. Misalnya, karakter
lintang (baca: bintang), dan mbulan (bulan) serta srengenge (matahari).
Hingga saat ini, saya masih memelihara sifat Ndeso saya, dengan tujuan
sekedar agar memori saya saat kecil tidak hilang begitu saja. Jangan
tanya soal khazanah budaya Jawa di otak saya. Masih tersimpan rapi.
Karena saking Ndeso-nya, maka saya masih fasih betul berbahasa Jawa.
Bahkan, oleh keluarga saya, sudah biasa menyebut dan mengucapkan Wulan
Sawal, untuk mengganti istilah Bulan Syawal. Atau Wulan Rejeb, padahal
yang dimaksud Bulan Rojab. Atau Wulan Ruwah, padahal nama yang benar
adalah Bulan Sya’ban.
Belakangan saya dapat ilmunya, penanggalan Jawa, memang mengadopsi
penanggalan Islam. Maka dari itu, apa yang saya dapat dulu dari orangtua
saya di Kampung, dengan mudah saya sesuaikan saat saya temukan kenyataan
bahwa banyak istilah Kejawen yang di dalam Bahasa Arab ternyata
mirip-mirip, namun istilahnya banyak berubah. Bulan Muharram, di dalam
benak orang Jawa menjadi Wulan Suro. Entah bagaimana itu terjadi. Yang
jelas, untuk ngelmu ngalam cara ndeso, saya sedikit banyak sudah mengetahui.
Ketika semalam melihat keterangan Profesor dari LAPAN serta keterangan
beberapa petinggi Ormas Islam, serta keterangan Menteri Agama RI, saya
jadi ingat satu hal. Bahwa, mereka bisa saja berdebat dengan bersitegang
dan berbagai sandiwara di depan kamera wartawan. Saya hanya menunggu
satu hal. Apa yang akan diputuskan Menteri Agama malam itu. Tidak
penting soal lebarannya, namun saya ingin mendengar kalimat 1 Syawal
jatuh pada tanggal berapa di bulan Agustus 2011. Syukurlah, setelah
diumumkan oleh Pak Menteri bahwa 1 Syawal jatuh pada Rabu 31 Agustus
2011, maka kemudian muncul ide gila saya.
“Saya ingin menguji, apakah keputusan malam itu terbukti benar atau
terbukti salah”
Untuk melakukan uji tersebut tidak susah. Kita tidak perlu belajar ke
LAPAN. Tidak perlu menjadi Professor. Tidak perlu menjadi Deputi di
LAPAN. Tidak perlu belajar ke Amerika. Bagaimana caranya?
Gampang. Namun kita butuh 15 hari lagi. Saya menggunakan pembuktian
terbalik.
Tampaknya, pengaruh Prof. Dr. Thomas benar-benar terlihat pada hasil
keputusan sidang itsbat malam itu. Penjelasan sang profesor ,
benar-benar mampu membius seluruh peserta sidang itsbat, hingga
Pemerintah pun akhirnya menetapkan 1 Syawal jatuh pada Rabu tanggal 31
Agustus 2011. Penjelasan meyakinkan Sang Profesor patut dipuji. Meskipun
Pak Menteri Agama menetapkan 1 Syawal konon berdasarkan beberapa
pertimbangan, termasuk kesaksian para ahli Rukyat, namun jika kita jeli,
maka sesungguhnya apa yang diungkapkan Pak Menteri itu tampaknya adalah
banyak dipengaruhi pemikiran ‘genius’ Pak Profesor. Saking
berpengaruhnya yang bersangkutan, maka Thomas pun tak segan mengkritik
Muhammadiyah. Pokoknya malam itu, Sang Profesor benar-benar berada di
atas angin.
Terbukti, tanpa ada keraguan, dengan sangat lantang, sang Profesor LAPAN
itu memberi pendapat keras kepada Muhammadiyah. Jika sebelumnya
organisasi bentukan KH Ahmad Dahlan tersebut dikenal sebagai Organisasi
Islam Pembaharu dan modern, maka di mata Thomas, tiba-tiba jadi
sebaliknya. Muhammadiyah disebut usang, kuno dan malah ketinggalan dari
NU dan Ormas Islam lainnya.
Namun harus diingat, seskipun selintas terkesan cukup meyakinkan dan
mampu melambungkan nama Profesor LAPAN ini, coba tunggulah hingga 15
hari ke depan. Kehebatan Sang Profesor akan teruji 15 hari lagi!. Di
saat itulah, akan terbukti keterangan berbusa-busa Sang Profesor akan
menjadi barang murahan, atau akan menjadi emas mulia.
Kenapa?
Begini. Kita hanya menunggu 15 hari lagi ketika Allah SWT tunjukkan
kepada Umat bahwa pada hari itu, akan muncul apa yang disebut Bulan
Purnama. Sesuai perhitungan sederhana saya, sebut saja perhitungan
kampungan saya, maka 15 hari dari tanggal 1 Syawal, dipastikan akan
terjadi Bulan Purnama. Dengan munculnya Bulan Purnama, secara langsung
dan tanpa rekayasa, akan membuktikan secara nyata mana pihak yang benar-
dan mana pihak yang salah.
Tuhan tidak pernah bohong soal satu ini.
Anda juga mengalami. Saya juga mengalami. Sejak saya kecil hingga
menginjak usia 40 tahun, setiap Bulan Purnama, pasti bulan akan muncul
sangat mempesona. Selain sempurna wujudnya, bulan akan hadir sangat
spesial karena berada tepat di atas kepala kita. Sekali lagi, saat itu,
bulan tepat di atas kepala kita, dan wujud bulan akan sangat sempurna.
Mengapa Bulan Purnama menjadi acuan kebenaran penetapan 1 Syawal?
Sederhana. Dengan cara kampungan saya, maka penetapan 1 Syawal kemarin,
akan terbukti benar atau tidaknya, cukup dengan melihat secara langsung
Bulan Purnama. Kondisi bulan saat Bulan Purnama, sangat berbeda dengan
kondisi bulan saat tanggal di awal Bulan Syawal. Jika pada awal Syawal,
fisik bulan mungkin hanya terlihat tipis dan meragukan meski dilihat
dengan alat teropong sekalipun, sebaliknya pada tanggal 15 Syawal, fisik
bulan akan terlihat sangat jelas, dan mencapai ‘titik kulminasi’ dari
fase perubahan fisiknya. Pada Bulan Purnama, manusia tidak perlu memakai
teropong untuk membuktikan benar tidaknya terjadi Bulan Purnama. Kita
cukup keluar rumah, tengok ke atas. Jika bulan terlihat bulat sempurna
di atas kepala kita, itu sudah pasti tanggal 15 setiap bulan. Tidak
perlu rukyat, tidak perlu Hisab, tidak pelu sidang itsbat. Pada tanggal
15 bulan Jawa/Islam, tak akan terjadi perbedaan pendapat antara para
Petinggi Ormas Islam soal kebenaran Bulan Purnama. Pada malam itu, tak
ada satupun Profesor Astronomi yang bisa membantah fenomena alam berupa
Bulan Purnama. Semua harus bilang bahwa malam itu adalah tanggal 15 Syawal.
Mulai saat ini, cobalah hitung.
Jika ikut versi Muhammadiyah, maka tanggal 1 Syawal 1432 H, jatuh pada
Selasa tanggal 30 Agustus 2011.
Jika ikut versi Pemerintah, maka tanggal 1 Syawal 1432 H, jatuh pada
Rabu tanggal 31 Agustus 2011.
Logika kampungan saya mengatakan, jika dihitung sesuai dengan
masing-masing versi, maka akan terjadi begini:
Jika tanggal 1 Syawal 1432H jatuh pada tanggal 30 Agustus 2011M, maka
Bulan Purnama akan jatuh pada tanggal 13 September 2011.
Jika tanggal 1 Syawal 1432H jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011M, maka
Bulan Purnama akan jatuh pada tanggal 14 September 2011.
Saya menjamin, pada dua malam di hari itu, masyarakat akan bisa
membuktikan dengan alamiah dan akurat melalui mata kepala sendiri, versi
siapa yang paling akurat dalam penentuan 1 Syawal 1432H. Jika bulan
terlihat Sempurna (Bulan Purnama) pada 13 September, sudah pasti
Muhammadiyah telah melakukan perhitungan dengan benar. Akan tetapi
sebaliknya jika Bulan Purnama terjadi pada tanggal 14 September malam,
maka sudah pasti pemerintah telah melakukan perhitungan dengan benar,
dan Muhammadiyah perlu introspeksi diri dan mengubah sistem perhitungan
penentuan awal dan akhir Ramadhan.
Pada malam itu, akan menjadi malam penentuan yang menegangkan dan
menjadi Hakim Alam terbaik untuk membuktikan kepada manusia, siapa yang
terbukti melakukan kesalahan dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan
sehingga menyebabkan perbedaan 1 Syawal.
Apabila Bulan Purnama berlangsung pada 13 September 2011, berarti sidang
itsbat malam itu, yang dihadiri seluruh Petinggi Ormas dan Menteri Agama
serta tamu kedutaan Negara Islam dan banyak tokoh Islam waktu itu, akan
menjadi sidang sampah belaka.
Jangan kaget apabila masyarakat kemudian menjustifikasi sidang malam itu
sebagai bentuk baru kebohongan pemerintah terhadap masyarakat Islam
seluruh Indonesia. Masyarakat mungkin bisa dikelabuhi di saat awal,
namun untuk urusan satu ini, masyarakat bisa membuktikan perilaku aparat
kita lurus atau tidak, hanya membutuhkan waktu 15 hari dari tanggal
penetapan mereka.
Ingat, pada Bulan Purnama, tidak ada satupun manusia yang mampu mengubah
posisi Bulan serta bentuknya yang sangat sempurna, kecuali Allah SWT,
Pangeran Sing Moho Kuwoso—bahasa Jawanya. Jadi, tidak mungkin pada malam
itu, ada jumpa pers yang menyatakan, bahwa Bulan Purnama yang terjadi
adalah kesalahan Tuhan. Tidak mungkin itu. Itulah hebatnya Bulan Purnama.
Oleh karenanya, untuk membuktikan analisa saya, mari bersama-sama
menunggu hadirnya Bulan Purnama. Tuhan akan memberi bukti langsung
kepada kita, bukti fisik, betapa manusia sangat lemah dan tidak ada
gunanya sombong. Bahwa manusia, tidak perlu saling menyindir dan saling
menyalahkan. Bahwa manusia harus berkawan dengan alam untuk bisa
memanfaatkan dia dalam mengatur tata kehidupan di dunia yang fana.
Penasaran? Tunggu Bulan Purnama nanti. #(Mustofa B. Nahrawardaya)#
--
Berlombalah dalam karya, bersinergi, terapkan kaidah ilmu/teknologi serta
kasih sayang dan manfaat untuk seisi alam, demi kebahagiaan dunia dan akhirat.
Info pengelolaan milis Indonesia next better :
http://pub.nextbetter.net/files/milist-indonesia-info.txt