Pak Agus Pur,
Selamat Hari Raya Idul Fitri.

Mohon dimaafkan jika saya punya kesalahan.
> samaa, 

Sekalian mau tanya, karena awam dengan masalah ini. 
Sebenarnya apakah ada kriteria yang menentukan (kesepakatan ulama) bahwa tinggi 
hilal harus sudah sekian derajad (misal 1.8 deg) sehingga sudah bisa dianngap 
memasuki pnanggalan bulan baru ?
> kriteria baku ternyata belum (belum seragam)
> tahun 2000, ketika saya masih di hirodai (hiroshima daigaku/ hiroshima 
> university) , saya juga "ikut" menyalahkan pilihan Muhammadiyah karena tidak 
> sesuai dengan standar astronomi
> setelah kembali ke tanah air 2002, dan mengikuti perbincangan hilal ini, baru 
> tahu jika standar itu belum baku, dan ternyata sangat variatif
> MABINS (malaysia, brunei, indonesa, singapur) dengan kriteria 2 derajat
> dari mana angka 2? menurut info yang saya tahu, kesepakatan saja, dasarnya 
> apa juga belum jelas ... belakangan yang saya tahu angka tersebut akan 
> (diupayakan) dinaikkan menjadi 4 (derajat)
> di makalah dari salah seorang ahli hisab PERSIS (penulisnya tidak hadir 
> tetapi makalah dibagikan) ketika seminar internasional kalender hijriyah di 
> jakarta oktober 2007 bahkan mengambil angka 9 (derajat)
> di tingkat internasional sendiri juga sangat variatif, ada 4, 6, 7 derajat
 
Atau dengan posisi hilal yang limit melibihi (sedikit sekali diatas) nol, sudah 
bisa dianggap ganti bulan.
> secara pribadi saya pada akhirnya berkesimpulan bahwa angka NOL yang 
> digunakan Muhammadiyah yang tepat
> saya urutkan 2, 4, 6, 7 atau 7, 6, 4, 2 ... mau ke mana angka ini? mengapa 
>angkaa ini? bagaimana angkaa ini?
 
> angkaa itu lahir dari semangat menampung rukyat di rumah hisab, tetapi 
> ternyata tidak seragam
> jika angkaa yang tidak seragam tersebut menghasilkan keseragaman awal bulan, 
> saya masih dapat terima. masalahanya, ketakseragaman angkaa tersebut ternyata 
> juga belum menghasilkan kesamaan awal bulan
 
> hilal dapat dilihat adalah keharusan metoda rukyat
> dan rukyat memang satuu-nya cara pada jaman Rasul saw, tidak ada cara lain 
> sebagaimana dinyatakan oleh Rasul saw sendiri "kita umat yang umi tidak dapat 
> menulis dan menghitung, bulan kadangg begini kadang begitu, kadang 29 kadang 
> 30".
 
> jika hisab diterima maka hisab dapat mengetahui hilal secara lebih mendasar 
> yakni saat kelahirannya, saat NOL
> jelas angka NOL bukan angka visibilitas, dan benar apa yang dikatakan Prof 
> Thomas Jamaluddin (di blog maupun sidang itsbat 29 Agustus 2011) bahwa dengan 
> angka ini hilal tidak dapat dilihat. Benar.
> NOL adalah angka kelahiran hilal, eksistensi hilal, wujudul hilal bukan 
> rukyatul hilal
 
 
> saya sendiri secara pribadi melompat lebih jauh lagi,
> tanda sederhana pergantian bulan  adalah siklus Bulan itu sendiri
> tanda siklus tersebut adalah konjungsi, ijtimak yakni posisi Bumi, Bulan dan 
> Matahari dalam satu garis bujur astronomis
> lalu digabung dengan pergantian hari qamariyah, maghrib (saya sepakat versi 
> ini, bukan fajar)
> artinya, jika konjungsi terjadi sebelum maghrib maka seharusnya saat maghrib 
> telah berganti bulan baru 
 
> demikian 

Matur suwun.
> samii
 
Budi.
Yg karena awam, hanya mengikuti keputusan pemerintah. 
> nggih, monggo.

Kirim email ke