perspektif sedikit berbeda, reportase AAS di ITS
Tulisan 1
keterangan: ditulis Jumat 2 Maret pagi oleh Ketua Tim Pembinaan Keruhanian
Islam ITS, Dr Darmaji. Judul posting Berebut Memberi
Sugeng enjang, Derek.
Saya melihatnya lebih dari sekedar bedah buku dan diskusi. Kawan2 dan
anak2 kami ini sedang berebut untuk memberi. Boleh jadi 'gairah' itu
berangkat dari satu perumpaan yang amat elok: Sebutir benih kebaikan
disemai di tanah yang subur. Benih yang sebutir itu menumbuhkan sebatang
pohon dengan tujuh tangkai. Setiap tangkai bergelayut buah meranum yang
di
dalamnya berisi seratus benih kebaikan yang serupa. Satu benih kebaikan
berujung tujuh ratus benih kebaikan yang serupa. Satu benih kebaikan
yang
disemai serupa benar dengan sebiji kebaikan yang diberikan.
Pak Agus Pur hendak memberi apa yang beliau tahu tentang ayat-ayat
semesta. Pak Dr.Syahid hendak memberi hal serupa dalam prespektif yang
mungkin beda, karena beliau dari IAIN. Kawan2 hadir hendak memberi
apresiasi dan memberi hal serupa dalam prespektif yang berbeda lagi,
karena backround akademik yang berbeda. Anak-anak kami (organizer acara)
hendak memberi layanan kepada hadlirin, semampu yang mereka bisa. Semoga
semua berujung pada perolehan ilmu.
Katuran rawuh, hari ini jam 15.00 di Manarul Ilmi
Tulisan 2
keterangan: saya tulis Rabu 7 Maret tadi malem
> Maaf,
> baru sempat tulis catatan
>
> acara sangat terlambat mulai
> sehingga hanya ada waktu satu jam untuk kami berdua
> padahal,
> biasanya AAS presentasi minimum 75 menit
>
> ada 2 hal penting dari presentasi Dr Syahid
>
> 1. beliau sepakat bahwa Tahafutul Falaasifah karya syaikhul Ghazali
> sebagai karya monumental penyebab kemunduran berfikir umat Islam
> ini jelas mengejutkan, karena dalam pengakuan selanjutnya Dr Syahid adalah
> fungsionaris NU Surabaya
> di kalangan pergerakan jamak diketahui bahwa warga dan tokoh Nahdliyin
> adalah pengagum berat dan pembela al-Ghazali
> bahkan dalam penjelasan selanjutnya, Dr Syahid mengutip karya Ibnu Rusyd
> Tahafut at Tahafut, kalau para filsuf iku wong bingung maka menurut Ibnu
> Rusyd, al-Ghazali dalam Tahafutul Falaasifah iku bingunge wong bingung
>
> 2. IAIN Sby akan segera jadi UIN, jika jadi UIN maka penulis AAS akan
> dijadikan dosen Sains pertama UIN, agar di UIN terjadi gerakan pemikiran
> yang signifikan
> bagian ini dicatat dengan baek oleh Lek Dar
>
> mekaten
>
Tulisan 3
keterangan: ditulis oleh ketua TPKI ITS Dr Darmaji
Catetan tambahan perbincangan Ayat Ayat Semesta:
Alhamdulillah, Pak Asjhar Imron berkenan hadir pada perbincangan tentang
Ayat-Ayat Semesta tempo hari. Pak Amin, Pak Wahyudin, Pak Iwan, Pak
Bambang dan beberapa kawan lain berkenan hadir juga. Sebelum dan sepanjang
acara kami duduk dekat2 beliau, lumayan bisa curhat sedikit2 tentang
dinamika dan romantika 'menemani' mahasiswa/i berkegiatan. Keterlambatan
acara adalah bagian dari dinamika dan romantika itu. Dan, tentu saja kami
belum boleh bosan untuk menyelesaikan masalah2 yang serupa ini.
Lebih dari sekedar mencerahkan, perbincangan dalam diskusi kemarin itu
adalah perbincangan yang menyehatkan. Dua prespektif berbeda dari dua
kawan yang berbeda latar akademik bertemu dalam kerendah-hatian. Pak Agus
Pur yg berangkat dari kepakaran fisika teori dan Pak Syahid yg berangkat
dari kepakaran tafsir hadits ketemu dan berbincang untuk saling
melengkapi. Sekali lagi, dalam kerendah-hatian.
Kebenaran sejati adalah kebenaran absolut dan ia bersemayam dalam
genggaman ilahi. Sedangkan kebenaran empiris adalah kebenaran relatif, dan
tafsir berada dalam wilayah ini. Dalam diskusi kemarin itu, kegembiraan
saya adalah kegembiraan seorang mak comblang yang berhasil mempertemukan
dan memfasilitasi 'pernikahan akademik'. Kedua mempelai itu bernama: Pak
Agus Pur dan Pak Syahid. Alhamdulillah...
Karena Pak Agus Pur berangkat dari kepakaran fisika teori, dan tidak
seorangpun kawan IAIN mempunyai kepakaran ini, maka prespektif Pak Agus
dalam Ayat-Ayat Semesta terasa spesial dan berbeda. Dua prespektif dengan
dua hasil yang berbeda adalah kewajaran. Dua hal yang berbeda menjadi
bahan dasar diskusi untuk meningkatkan 'kualitas kebenaran relatif' adalah
juga kewajaran. Maka, secara eksplisit Pak Syahid 'melamar' Pak Agus Pur.
Di akhir acara, dengan agak berbisik, saya menyampaikan hal beriku ke Pak
Agus Pur: "Pak Agus, yang menjadi mak comblang akademik ini adalah saya.
Lamaran juga berlangsung di depan hidung saya. Mohon Njenengan tidak
menolak, saya yang akan ngantar Njenengan ke IAIN di hari pertama."
Pak Asjhar, Pak Amin, Pak Wahyudin, Pak Iwan, Pak Bambang, katuran nambahi
catetan meniko. Tambahan catetan saking Njenengan pastilah menjadi asupan
sangat bergizi kangge poro kadang.
Nuwun,
--
Lek Dar
Agus Purwanto
LaFTiFA ITS
http://purwanto-laftifa.blogspot.com
http://ayatayatsemesta.wordpress.com
_______________________________________________
Indonesia mailing list
[email protected]
http://nextbetter.net/mailman/listinfo/indonesia
http://indonesia.nextbetter.net