---------------------------------------------------------- FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - -0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0 Free Email @KotakPos.com visit: http://my.kotakpos.com/ ---------------------------------------------------------- Warga Muslim Lindungi Para Tokoh Kristen di Galela, Amien Setujui Darurat Sipil di Ambon Senin, 26 Juni 2000 TERNATE -- Republika Sekitar 30 tokoh agama dan masyarakat Kristen berada di bawah lindungan warga Muslim dan TNI, menyusul pertikaian di Desa Duma, Kecamatan Galela, Pulau Halmahera (Maluku Utara) beberapa hari lalu. Bersama mereka, juga dilindungi sekitar 80 warga Kristen lainnya -- terdiri atas anak-anak, orang tua, dan perempuan. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Maluku Utara, Syarif Syahfin, menjelaskan hal itu di sela-sela rapat koordinasi antara Bupati Maluku Utara, Gahral Syah, dan tokoh-tokoh agama serta tokoh masyarakat di Ternate, kemarin. ''Jadi tidak benar warga Kristen di Galela disandera seperti yang dilansir media massa nasional maupun asing itu,'' ujar Syarif. Mengenai Perlindungan terhadap para tokoh Kristen itu, menurut Syarif Syahfin, perlu ia kemukakan berkaitan munculnya pemberitaan media massa yang menyebutkan ada penyanderaan setelah peristiwa Desa Duma. Ia menegaskan berita tersebut sangat sepihak dan menyudutkan umat Islam, khususnya di Maluku Utara. ''Sesuai laporan yang diperoleh MUI Maluku Utara dari Galela bahwa warga Desa Duma bersama tokohnya saat ini hidup berdampingan dengan saudara-saudaranya yang Muslim di Soasio, ibu kota Kecamatan Galela,'' ujar Syarif. Ia menambahkan para tokoh agama dan masyarakat Kristen itu merasa tertipu oleh provokasi yang dilakukan oknum tertentu di Tobelo, sehingga ditawari oleh aparat keamanan untuk dievakuasi ke Tobelo, namun puluhan warga desa itu tidak mau. Mereka tetap bertahan di Galela, apalagi puluhan anak-anak, orang tua, dan perempuan dilindungi. ''Yang disandera justru 66 anak usia 5-12 tahun asal Desa Sukamaju di Tobelo, sejak 29 Desember 1999. Dari 66 anak-anak Muslim dari eks Unit Pemukiman Transmigran (UPT) Piduwang itu, 22 anak di antaranya diketahui masih hidup,'' ungkap Syarif. Ia mempertanyakan mengapa korban pertikaian di Desa Duma Galela itu dibesar-besarkan media massa termasuk media asing, padahal pembantaian terhadap 253 warga Muslim di Masjid Desa Togoliuwa dan sekitar 250 orang di Masjid Popilo Kec Tobelo oleh umat Kristen di Halmahera dianggap sebagai korban perang. Komandan Satgas operasi pemulihan keamanan Maluku Utara, Kolonel Inf Sutrisno, juga membantah adanya isu penyanderaan warga Kristen di Galela. ''Tidak ada warga yang disandera, apalagi disiksa,'' katanya. Menurutnya, sebagian warga korban pertikaian di Desa Duma tidak mau dievakuasi, setelah mendapat perlindungan dari TNI dan saudaranya di Galela. ''Yang dievakuasi ke Tobelo hanya para korban luka berat dan ringan, sementara korban lainnya tetap dilindungi,'' tambahnya. Sementara itu, dalam upaya menghentikan konflik yang terus terjadi, Ketua MPR Amien Rais menyatakan setuju diberlakukan darurat sipil di Ambon. Ia mengatakan bila konflik terus terjadi, bahkan cendeung meningkat, perlu diberlakukan darurat sipil, malah kalau perlu darurat militer. ''Saya setuju sekali diberlakukan darurat sipil di Ambon, jika perlu darurat militer. Karena, satu nyawa anak bangsa sangat berharga, yang tidak bisa dihargai dengan miliaran dolar, miliaran rupiah, dan lainnya,'' tegas Amien Rais di Jambi kemarin. Amien mengatakan sudah terlalu banyak terjadi pertumpahan darah di Ambon, dan sudah dua tahun lebih peristiwa itu menjadi tontonan internasional yang menyedihkan. Menurutnya, kalau saat ini belum bisa diupayakan rekonsiliasi persaudaraan kembali, paling tidak dihentikan sama sekali semua tindak kekerasan dan pertumpahan darah, antara lain dengan penerapan darurat sipil. Berita mengenai penerapan darurat sipil, sebelumnya sudah menjadi isu hangat masyarakat Kota Ambon. Isu itu muncul berkaitan dengan adanya pertemuan antara Gubernur Latuconsina, Pangdam Tamaela, dan Kapolda Maluku Brigjen Pol Drs Dewa Astika. Namun, berita itu segera dibantah Ketua DPRD Tingkat I Maluku, Zeth Sahuberua SH. Ia menyatakan tidak ada rencana pemberlakuan keadaan darurat sipil atau militer di wilayah Maluku dan Maluku Utara, berkaitan dengan telah berlangsungnya kerusuhan di Maluku memasuki hari kelima dan telah menelan puluhan korban jiwa. ''Tidak ada rencana pemberlakuan keadaan darurat sipil saat ini, tapi yang ada hanyalah desakan terhadap Pangdam XVI/Pattimura Brigjen TNI M. Tamaela selaku komandan Bantuan Militer (Banmil) mengambil langkah represif terhadap para pelaku penyerangan,'' katanya di Ambon, kemarin. Di Magelang, Jateng, Panglima TNI Laksamana Widodo AS menyatakan TNI dan Polri akan bertindak lebih tegas di daerah yang terus bergolak itu. Ia juga meminta agar warga yang sedang bertikai secara sadar menyerahkan senjata yang dimiliki kepada aparat keamanan. Penyerahan senjata secara sukarela itu, menurutnya, merupakan tahap awal memulihkan keamanan. Bila seruan penyerahan senjata itu tidak dituruti, lanjut Widodo, aparat akan proaktif melakukan razia senjata, termasuk razia di jalan-jalan dan pemukiman penduduk. ''Bila masih belum berhasil, pada tahap berikutnya masyarakat harus dipaksa untuk menyerahkan senjatanya dengan diberikan batas waktu tertentu,'' ujar Widodo di Magelang Sabtu lalu. Di tempat terpisah, Kapolri Jenderal Pol Drs Rusdihardjo mengakui ada kelalaian dalam penerapan strategi pertahanan oleh pimpinan kepolisian di Ambon, sehingga gerakan massa bisa bergerak lebih cepat. Pernyataan tersebut diungkapkan Kapolri menyusul pendudukan dan pembobolan gudang senjata Brimob setempat pada 21-22 Juni lalu. ''Mestinya hal tersebut bisa lebih terantisipasi,'' ujar Kapolri Jenderal Rusdihardjo kepada wartawan di rumah dinasnya di Jakarta, Sabtu (24/6). Namun, ia tak menjelaskan lebih jauh yang dimaksud dengan kelalaian penerapan strategi pertahanan itu. Pada perkembangan konflik, korban meninggal maupun luka berat dan ringan semakin bertambah, menyusul kerusuhan bernuansa SARA yang masih terus memanas dan melebar di sejumlah kawasan Kota Ambon hingga Sabtu malam (24/6). Data dari sejumlah rumah sakit menunjukkan korban meninggal akibat pertikaian di kawasan Talake, Perigilima, Ponegoro, serta Galela, dan Hative Kecil, Sabtu, tercatat 10 orang meninggal dan 36 orang cedera berat serta ringan. Jumlah korban tersebut belum termasuk dua warga yang tewas kemarin siang. Abdullah Sima-sima Sohilauw (36), guru SD Al Fatah Ambon, tewas tertembus peluru penembak gelap dari arah Karangpanjang, ketika sedang dibonceng temannya Raja Bataumerah melewati kawasan Masjid Anur Kodya Ambon. Sedangkan Haris Sampulawa (37), tewas diberondong peluru tajam dari arah Mardika ketika dalam perjalanan dari Desa Batumerah menuju Masjid Raya Al Fatah Ambon.*** ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 27 Jun 2000 jam 12:42:28 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
