----------------------------------------------------------
FREE Subscribe/UNsubscribe Indonesia Daily News Online
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Ambon Terus Bergolak, Pengungsi Membanjir

Senin, 26 Juni 2000
AMBON, Mandiri -

Kerusuhan bernuansa SARA secara sporadis terjadi di beberapa kawasan di
Ambon dan sekitarnya, hingga Senin siang yang disertai aksi pembakaran
rumah-rumah panduduk di kawasan Batu Gantung dan Ahuru/Karang Panjang.
Sampai siang ini, suara rentetan masih terdengar di sana-sini.

Berdasar hasil pemantauan di Ambon, sejak Minggu malam hingga Senin siang
masih terdengar rentetan tembakan aparat keamanan untuk menghalau gerak
massa yang maju di kawasan Mardika, Batu Gantung dan Ahuru.

Sementara, akibat kebakaran tersebut, puluhan warga sipil di kawasan Karang
Panjang, terutama wanita dan anak-anak mengungsi sambil membawa barang
seadanya.

�Kami harus meninggalkan rumah karena aparat keamanan dari Yonif 141
Sriwijaya dan Yonif 405 Diponegoro yang bertugas di kawasan Ahuru juga
mundur dari pos mereka dan massa berseragam putih-putih meringsek maju
membakar rumah penduduk,� kata Mery Uniweckly (40), seorang pengungsi dari
kawasan Ahuru.

Sambil menggendong anaknya yang baru berusia empat bulan dan menjinjing tas
pakaiannya, Mery menyesalkan tindakan aparat keamanan yang mundur dari pos,
sehingga terbuka peluang bagi massa penyerang melakukan aksi pembakaran.

Kerusuhan yang telah berlangsung secara sporadis pada berbagai kawasan di
Kota Ambon telah memasuki hari keenam, dan sejauh ini belum ada tanda-tanda
akan mereda.

Korban tewas sampai hari ini telah mencapai lebih dari 50 orang sementara
lebih dari 100 orang menderita luka-luka ringan dan berat.

Aktivitas perkantoran, baik swasta maupun negeri terlihat sepi termasuk
perbankan. Sejumlah nasabah yang hendak menarik uang tabungan mereka di Bank
Nasional Indonesia (BNI) 1946 tidak mendapatkan pelayanan karena karyawan
bank tidak masuk kantor.

Sama halnya dengan kegiatan belajar mengajar di sekolah dari tingkat Taman
kanak-kanak sampai Peguruan Tinggi tutup total, kecuali kegiatan beberapa
pedagang yang melayani pembeli pada pasar-pasar kaget di Kawasan Batu Meja.

Pertikaian antarwarga bernaunsa SARA itu sedikitnya mengakibatkan 20 orang
meninggal serta ratusan lainnya mengalami luka berat dan ringan akibat
terkena tembakan dan serpihan bom, sementara arus pengungsian warga semakin
tidak terbendung.

Data yang dihimpun dari sejumlah rumah sakit maupun investigasi lapangan, 20
korban itu meninggal dalam pertikaian di kawasan Talake, Batugantung,
Perigilima, Kampung Kolam, Mardika, Batumerah maupun di Desa Nania, Minggu
(25/6) pagi hingga malam hari.

Dengan demikian sedikitnya 53 orang meninggal dalam insiden pertikaian Rabu
(21/6) hingga Minggu (24/6), di mana rata-rata meninggal terkena tembakan
senjata organik milik aparat keamanan, granat, mortir, senjata standar dan
senjata maupun bom rakitan, demikian dilansir Antara.

Arus pengungsi

Konflik berlarut-larut itu juga mengakibatkan arus pengungsian warga dalam
jumlah besar ke lokasi-lokasi aman, semakin sulit di bendung. Umumnya mereka
mengungsi ke Desa-Desa di wilayah pegunungan dan perbukitan guna menjauhi
lokasi konflik.

Begitu pun warga yang bertempat tinggal dekat lokasi konflik terutama para
wanita, anak-anak dan lansia juga turut mengungsi kendati diguyur hujan
lebat, karena khawatir akan menjadi sasaran tembak para sniper maupun peluru
nyasar.

Besarnya arus pengungsian mengakibatkan warga Desa di pegunungan harus
merelakan rumahnya untuk menampung para pengungsi. Ironisnya satu keluarga
terpaksa harus menampung 10 hingga 15 orang pengungsi dalam satu rumah.

Bahkan, rumah kediaman Gubernur Maluku Saleh Latuconsina yang terletak di
Kelurahan Mangga Dua, juga dijadikan tempat penampungan puluhan jiwa
pengungsi.

Sebagian warga yang ketika ditemui, mengatakan sangat takut dan trauma
dengan pertikaian yang terjadi lima hari terakhir, terutama saat menyaksikan
keberingasan para penyerang dalam melakukan pembakaran, penjarahan serta
pembantaian warga.

Mereka juga mempertanyakan pola penanganan yang diterapkan Pangdam Pattimura
dan bawahannya, karena tidak mampu menghalau para perusuh, bahkan sebaliknya
memberikan keleluasaan kepada mereka untuk beraksi.

Hingga Minggu malam, dentuman bom rakitan, granat tangan maupun mortir masih
terdengar, diselingi bunyi letusan senjata aparat keamanan maupun senjata
rakitan di kawasan-kawasan konflik.***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 27 Jun 2000 jam 13:18:26 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke