----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

GAM Gelar Perang Terbuka di Pasee

LHOKSEUMAWE- Wakil Panglima GAM Wilayah Pase, Abu Sofyan Daud, Jumat
kemarin, membeberkan kisah di balik kontak senjata yang pecah di Kutamakmur,
Kamis (7/9), dan cederanya 14 prajurit TNI/Polri. Menurutnya, GAM menggelar
perang terbuka setelah aparat keamanan melakukan serangan fajar ke
Matangkuli dengan mengepung Desa Blang Pante, pukul 07.00 WIB.
Abu Sofyan mengatakan, pihaknya telah menelepon wakil Pemerintah RI yang
duduk sebagai juru bicara jeda kemanusiaan, Senior Superintendent Drs Ridwan
Karim, agar menarik seluruh pasukannya dari tindakan melanggar jeda.
"Tapi Ridwan bilang setelah dicek ke daerah tidak ada pasukan RI di
Matangkuli. Saya bilang ada. Dan, secara tegas kami menyatakan kalau tetap
dipertahankan kami akan melakukan perlawanan. Makanya, kontak senjata itu
terjadi," ungkapnya.
Sementara Kapolres Aceh Utara Superintendent Drs Abadan Bangko dalam
penjelasannya melalui Perwira Penghubung Penerangan, Senior Inspektur Abdi
Darmawan SH mengatakan, pihaknya hanya melakukan patroli rutin. "Sesaat
menjalankan tugas kepolisian itulah kita diserang," ujarnya.
Abu Sofyan Daud yang dikonstatir dengan keterangan itu secara tegas
menampiknya. "Itu bohong. Mana mungkin patroli rutin kalau tujuh truk
pasukan didrop mulai pukul 05.00 WIB ke Matangkuli. Itu tidak masuk akal,"
tukasnya.
Ia menyatakan penyesalannya atas ketidakpatuhan aparat keamanan dalam
menghormati jeda sehingga jatuh korban di pihak aparat dan masyarakat.
"Korban bukan hanya di pihak TNI/Polri. Tetapi, yang kita sayangkan ada 12
masyarakat yang tewas dan sejumlah lainnya hilang setelah mendapat
perlakukan tidak manusiawi," ungkapnya.
Menurutnya, seandainya korban jatuh di pihak prajurit TNI ataupun GAM, itu
sudah merupakan risiko. "Namun, gerilyawan kita tidak ada yang terluka.
Tetapi, masyarakat jadi korban. Ini yang kita sesalkan," tambahnya.
Kontak senjata yang meletus di dua lokasi di Kutamakmur sekitar pukul
10.00-11.00 WIB, jelas Abu Sofyan, merupakan pembelaan atas kebandelan pihak
TNI/Polri yang tetap tidak mau menarik pasukannya dari Matangkuli. Begitu
juga dengan kontak senjata di kawasan Jungka Gajah, Kecamatan Meurah Mulia,
pukul 15.00 WIB.
Selain itu, GAM juga menyatakan protes atas aksi aparat TNI/Polri yang
membakar dua unit rumah penduduk di Matangkuli. "Mereka bilang itu markas
GAM. Padahal, itu rumah penduduk yang tidak tahu apa- apa," katanya.
Tak biarkan kriminal
Sementara itu, Wakil Kapolda Aceh, Senior Superintendent Teuku Asikin
menegaskan, diperpanjang atau tidaknya jeda kemanusiaan, bagi polisi tidak
akan membiarkan kelompok kriminal merajalela di Aceh.
"Polisi sebagai pelindung rakyat akan terus mengejar kelompok kriminal
bersenjata api itu, serta pada setiap titik yang dicurigai sebagai lokasi
persembunyian mereka tetap diburu," katanya kepada pers, di Banda Aceh,
Kamis.
Kegiatan itu dilakukan, baik melalui patroli rutin maupun mencari
titik-titik yang menjadi lokasi persembunyian kelompok kriminal bersenjata
api. Termasuk mereka yang selama ini diduga bersembunyian di desa-desa,
gunung, dan hutan.
Selain itu, polisi juga akan menangkap setiap sipil yang bersenjata api yang
beroperasi di Aceh, baik di desa, di kota maupun mereka yang bersembunyi di
kawasan hutan tertentu.
"Kalau dalam upaya penangkapan terjadi kontak senjata, polisi hanya
bertujuan untuk melumpuhkan mereka, sehingga masyarakat tidak perlu merasa
takut, apalagi harus eksodus memilih hidup di kamp pengungsi," katanya.
Tidak menyerang
Menurut Teuku Asikin, dalam patroli rutin ke daerah-daerah, aparat polisi
tidak pernah melakukan penyerangan kepada kelompok tertentu, tetapi jika
polisi diserang, aparat tidak mungkin tetap tinggal diam dan pasti akan
membalasnya.
Tindakan itu dilakukan sebagai upaya menciptakan ketenangan dan ketenteraman
bagi masyarakat yang selama ini sering mendapat gangguan dari kelompok sipil
bersenjata, yang beroperasi melakukan tindak kekerasan terhadap rakyat di
Aceh.
"Operasi yang dilakukan polisi selama ini adalah operasi terukur dan bagi
mereka yang tidak bersalah tak perlu takut," kata Teuku Asikin yang
menjelaskan tentang kegiatan operasi rutin yang dilakukan selama ini di Aceh
dengan sandi "cinta meunasah".(tim/ant)

LBH Sinyalir Kelompok Terorganisir Bunuh Jafar

MEDAN - Pelaksana Harian Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan,
Faddilah Hutri Lubis SH mensinyalir pembunuhan terhadap Ketua IFA
(Internasional Forum untuk Aceh) berkedudukan di New York, Jafar Siddik
Hamzah (36) dilakukan oleh kelompok yang terorganisir.
"Ya. Bisa saja, orang-orang yang sengaja untuk menghilangkan nyawa Ketua IFA
itu. Orang yang tidak senang dan anti terhadap perjuangannya untuk
menegakkan hak asasi manusia (HAM) di Aceh," katanya menjawab ANTARA di
Medan, Jumat (8/9).
Jenazah Jafar, Jumat dinihari, telah dimakamkan di kampung halamannya Blang
Pulo, Lhokseumawe. Pemakaman yang dilaksanakan sekitar pukul 02.00 WIB
dihadiri itu turut disaksikan utusan Kedubes Amerika Serikat di Jakarta dan
Konsulat AS di Medan, yakni Ted Lyng dan Ronald Deutch, yang merupakan
kerabat dekat almarhum, dan sejumlah wartawan.
Adik almarhum, Jamaluddin Hamzah ketika dihubungi, Jumat, mengatakan,
almarhum kakaknya diberangkatkan dari Medan pada Kamis pukul 17.00 WIB
dengan mobil ambulans, dan tiba di Lhokseumawe sekitar pukul 01.00 WIB.
Setiba di Lhokseumawe pihak keluarga yang dibantu para tetangga di kampung
terus mempersiapkan pemakaman almarhum, karena harus segera dikuburkan pada
malam itu juga mengingat kondisi mayat yang sudah membusuk.
"Kita tidak bisa menunggu penguburan esok harinya, karena kondisi mayat
tidak memungkinkan. Oleh karenanya pada malam itu juga pihak keluarga dan
didukung para tokoh masyarakat setempat langsung mengebumikan jenazah
setelah dishalati," ujar Jamaluddin.
Belum pasti
Menurut Fadhillah, dugaan keterlibatan kelompok terorganisir dalam
pembunuhan Jafar memang belum dapat dipastikan kebenarannya. Karena, pihak
berwajib hingga kini belum dapat mengungkap siapa pelaku yang bertanggung
jawab dalam menghilangkan nyawa aktivis kemanusian itu. Oleh, karena itu,
katanya, pihak Polda Sumut sebagai aparat keamanan yang bertugas dalam
Kambtibmas (Keamanan dan Ketertiban Masyarakat) di daerah tersebut, harus
dapat mengusut siapa pelaku yang membuat kematian terhadap Jafar Siddik
Hamzah.
"Pelaku dalam kasus penculikan dan pembunuhan terhadap nyawa manusia itu,
harus dapat ditangkap dan sekaligus menyeretnya ke pengadilan. Dan jangan
menunggunya terlalu lama lagi," katanya.
Bukankah, katanya, tanggung jawab mengenai pengamanan terhadap warga
masyarakat yang ada di daerah itu, merupakan tugas dan kewajiban pihak
Poldasu dan jajarannya.
Menurut dia, jika pihak Polda Sumut, tidak juga mengusut siapa pelaku dalam
kasus pembunuhan tersebut. Maka dikhawatirkan warga masyarakat dan para
aktivitis penegak kemanusian yang ada di daerah itu, sulit melaksanakan
tugas-tugas mereka.
Ketika ditanya, apa sikap LBH Medan terhadap penemuan mayat Jafar Siddik,
Faddilah menjawab, "Akan mendatangi pihak Polda Sumut dan minta kasus
pembunuhan Jafar Siddik diusut secara tuntas dan menangkap para pelakunya."
Menurut dia, kasus pembunuhan yang sempat menghebohkan warga Medan, harus
diproses secara hukum dan tidak bisa membiarkannya begitu saja. "Pelaku
dalam kejahatan tersebut, dikenal cukup sadis dan tidak mempunyai rasa
prikemanusian," katanya.
Menurut Kepala Devisi Hak Sipil dan Politik LBH Medan, Maya Manurung SH,
mayat Jafar Siddik ditemukan di RSU Pirngadi Medan, Rabu, (6/9) berdasarkan
pengakuan pihak keluarganya, ketika melihat tanda-tanda yang ada di tubuh
korban tersebut.
Menurut dia, mayat Ketua IFA, yang hilang di Medan, sejak hari Sabtu (5/8).
Dipastikan oleh adik Jaffar Siddik, Tjut Zahara (28) sebagai jenazah abang
kandungnya yang hilang satu bulan lamanya dan sudah capek mencarinya. Ia
mengatakan, kepastian mengenai jenazah tersebut adalah Jaffar Siddik,
berdasarkan ciri-cirinya yakni, adanya bekas jahitan pada bagian perut,
tonjolan kecil dibelakang tengkuk dan gigi gerahamsebelah kiri sudah
tercabut.
Ia menjelaskan, sebelumnya mayat Jaffar Siddik Hamzah yang ditemukan di RSU
Pirngadi Medan, berasal dar lima mayat yang tidak dikenal ditemukan oleh
masyarakat di Desa Nagalingga Kec. Merek Kabupaten Tanah Karo, Minggu,
(3/9). Selanjutnya, mayat yang sudah membusuk itu, diangkut ke RSU Pirngadi
Medan untuk diatopsi oleh dokter forensik (kehakiman) pada rumah sakit
tersebut.
"Dan berdasarkan petunjuk dan ciri-ciri yang diberikan Tjut Zahara pada
dokter tersebut lah, maka dipastikan salah satu dari limamayat yang tidak
dikenal itu, bernama Jaffar Siddik Hamzah yang juga menjabat sebagai Ketua
IFA di New York," kata Maya.
Belasungkawa
Sementara itu, Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) mengucapkan
belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas kepergian Jafar Siddiq.
"Kepergiannya merupakan kehilangan besar dalam perjalanan perjuangan
masyarakat Aceh saat ini," ujar Ketua Dewan Presidum SIRA Muhammad Nazar
dalam siaran pers yang dikirim ke redaksi Serambi, tadi malam.
Muhammad Nazar mengharapkan agar keluarga Jafar meningkatkan kesabaran dan
ketabahannya dalam menerima semua kenyataan itu. Sedangkan kepada
rekan-rekan aktivis IFA dan SIRA diharapkan agar tetap komitmen dengan
perjuangan yang telah diprakarsai almarhum dalam menegakkan hak asasi
manusia, khususnya bagi Aceh.
Sementara Front Aksi Mahasiswa dan Pemuda Aceh Jeumpa (Jeumpa Mirah) dalam
siaran pers yang ditandatangani Koordinator Presidium Faizal RM dan
Sekretaris Jenderal Faurizal MP yang dikirim ke Serambi, tadi malam, menilai
kasus penculikan almarhum Jafar Siddiq adalah sebagai usaha untuk membungkam
tuntutan masyarakat Aceh atas kejahatan negara.
Sehingga, kalau peristiwa tersebut tidak diusut sampai tuntas, maka sama
halnya membiarkan pelanggaran atas demokrasi dan HAM. "Dan, bukan tidak
mungkin aksi penculikan dan penghilangan nyawa manusia secara paksa akan
berlanjut pada aktivis kemanusiaan lainnya," demikian bunyi siaran pers
tersebut.(tim)

Sepasang Mayat Ditemukan di Geurutee

BANDA ACEH - Dua sosok mayat berlainan jenis (diyakini pria dan wanita
dewasa), pukul 09.00 kemarin dievakuasi dari jurang Gunung Geurutee, atau
sekitar 65 kilometer baratdaya Banda Aceh. Kedua mayat yang sudah membusuk
dan sulit dikenali itu tergeletak di sela-sela akar pepohonan dan bebatuan
pada kedalaman antara 5 dan 8 meter dari badan jalan.
Menurut informasi, lokasi temuan itu berada di KM 64-65, wilayah Kecamatan
Jaya (Lamno), Aceh Barat, atau sekitar dua kilometer dari perbatasan Aceh
Besar-Aceh Barat.
Camat Jaya, Drs Bukhari yang dihubungi Serambi kemarin membenarkan temuan
kedua sosok mayat berlainan jenis itu. Keberadaan mayat di tebing Geurutee
(sekitar 15 kilometer dari Pasar Lamno) itu terungkap dari laporan
masyarakat kepada pihak Puskesmas Lamno pada Kamis sore (7/9).
Setelah berkoordinasi dengan camat, sore itu juga tim medis Puskesmas Lamno
dipimpin dr Juriati (Kepala Puskesmas) bersama dua anggotanya yaitu Nabhani
dan Jalius berangkat ke lokasi untuk mengecek informasi yang dilaporkan
warga.
Ternyata benar. Setelah tiba di lokasi, terlihat dua sosok mayat dalam
kondisi membusuk dan menebarkan bau sangat menyengat. "Karena cuaca sangat
gelap dan hujan, kami menunda evakuasi pada malam itu," kata Kepala
Puskesmas Lamno, dr Juriati yang dihubungi via telepon dari Banda Aceh,
kemarin.
Evakuasi kedua mayat, menurut Camat Bukhari dilakukan pada pukul 09.00
kemarin melibatkan tim medis Puskesmas Lamno dan bantuan masyarakat. Turut
menyaksikan evakuasi tersebut dua kepala desa, yaitu Kepala Desa Meunasah
We, Basri AR dan Kepala Desa Meudeun, T Nyak Na.
Dari lokasi temuan, kedua jenazah yang nyaris tinggal kerangka itu dibawa ke
Puskesmas Lamno. Setelah disinggahkan sekitar satu jam di Puskesmas untuk
kepentingan visum dan identifikasi oleh pihak berwajib, jenazah itu dibawa
ke Banda Aceh oleh Nabhani dan Jalius (staf Puskesmas Lamno) dan kemudian
diserahkan ke pihak PMI Aceh sekitar pukul 13.00 kemarin.
Tak dikenali
Kepala Puskesmas Lamno, dr Juriati mengatakan, ketika kedua mayat berada di
Puskesmas, puluhan warga datang untuk mengidentifikasinya. Namun tak ada
masyarakat yang mengenali.
Kondisi mayat, menurut dr Juriati sangat sulit dikenali karena sudah
membusuk dan hancur. Namun berdasarkan ciri-ciri fisik (serta potongan
rambut) diyakini kedua mayat itu berlainan jenis (pria dan wanita).
Menurut dr Juriati, mayat itu diperkirakan sudah "bersemayam" di jurang
Geurutee lebih dua minggu. Ketika ditemukan, kondisi kedua mayat telanjang
bulat. Kaki dan tangan kedua mayat terikat. Di bagian wajah keduanya melilit
kain warna merah. Kepala mayat perempuan terpisah dari badan yang diduga
akibat dipenggal. "Diduga kedua korban dianiaya dulu sebelum dilemparkan ke
jurang," kata seorang sumber masyarakat.
Kaos kaki krem
Kedua mayat dari jurang Geurutee itu tiba di Banda Aceh dengan ambulan
Puskesmas Lamno sekitar pukul 13.00 kemarin dan diterima oleh petugas PMI
Aceh di ruang jenazah RSU Zainoel Abidin.
Menurut pengamatan Serambi, tak terlihat lagi tanda-tanda khas di tubuh
kedua mayat tersebut. Juga tak ada pakaian yang menempel di badan kedua
korban, kecuali sisa kaos kaki warna krem yang masih melilit di salah satu
telapak kaki mayat laki-laki.
Menurut keterangan Wakil Ketua Koordinator Tim Siaga PMI Aceh, Muslim
Tanjung, informasi temuan mayat itu diterima pihaknya sekitar pukul 10.30
kemarin dari petugas Puskesmas Lamno.
Sementara itu menurut Kepala Instalasi Kamar Jenazah RSU Zainoel Abidin, Drs
Abdullah yang dihubungi Serambi, sore kemarin, kedua mayat sudah tak dapat
dikenali lagi. Sehingga tidak dapat diinapkan lebih lama. Direncanakan hari
ini, Sabtu (9/9) selepas Ashar dikemumikan di pekuburan milik RSU Zainoel
Abidin, di kawasan Lampeuneurut, Aceh Besar.(asi/aya)

Misbahuddin Diculik di Siang Bolong

TAPAKTUAN - Misbahuddin Is (58), warga Desa Mata Ie, Terbangan, Kecamatan
Kluet Utara, Aceh Selatan, hingga Jumat (8/9) tak diketahui nasibnya setelah
diculik pada hari Minggu (27/8) lalu. Upaya pencarian selama 12 hari
terakhir ini, belum juga membuahkan hasil.
Penasihat LKMD Mata Ie itu dinyatakan hilang setelah diculik pelaku yang
belum terindentifikasi di jalan raya, kawasan Sekolah Menengah Kejuruan
(SMK) Pertanian, Desa Ujong Padang Rasian atau sekitar 22 km dari Tapaktuan
arah Medan, sekitar pukul 12.40 WIB. Aksi penculikan terjadi pada saat
korban dalam perjalanan dengan menumpang sepeda motor yang dikendarai
kenalannya dari Desa Mata Ie menuju Desa Krueng Batee.
Setiba di lokasi kejadian, sepeda motor yang ditumpangi dicegat beberapa
orang, lalu korban dibawa secara paksa ke dalam semak-semak sekitar lokasi.
Sementara teman korban, bersama kendaraannya diperbolehkan meninggalkan
lokasi. Sejak saat itu, korban dinyatakan hilang, dan sampai Jumat (8/9)
kemarin belum diketahui nasibnya.
Istri dan tujuh anak korban yang ditinggalkan terus-terusan diliput
kesedihan mendalam karena memikirkan keselamatan korban. Salah seorang
keluarga korban, Amris Is kepada Serambi, kemarin dengan hati yang tulus
mengharapkan korban dapat dikembalikan kepada keluarganya, meskipun sudah
dalam keadaan meninggal dunia. "Bila sudah meninggal, mohon mayatnya
diserahkan sehingga dapat kami lakukan fardhu kifayah," kata Amrin Is dengan
raut wajah yang sedih.
Diakui, peristiwa penculikan yang menimpa keluarganya belum dilaporkan
secara resmi kepada aparat kepolisian, tanpa menyebut alasan. Akan tetapi
peristiwa tersebut telah dilaporkan kepada Ketua Yayasan Yasma di Banda
Aceh, dengan harapan dapat diteruskan kepada Komite Bersama Modalitas
Keamanan (KMBK) Jeda Kemanusiaan untuk Aceh. Sedangkan motif penculikan itu
sendiri belum diketahui.
Misbahuddin dikenal sebagai pribadi yang ramah meninggalkan istri dan tujuh
orang anak, sebagian besar telah berkeluarga. Dalam hari-hari terakhir,
keluarga memanjatkan doa kepada Allah SWT untuk keselamatan orang tua mereka
yang sangat dicintai.(tim)

Tiga dari Empat Pemuda Ditangkap

SIMPANG ULIM - Empat pemuda Madat, Aceh Timur dilaporkan Ketua Divisi
Perlindungan Hukum, Front Pemuda Anti Kekerasan Kecamatan Simpang Ulim, M
Yusuf, Jumat (8/9) sekitar pukul 04.30 dini hari ditangkap aparat TNI.
Tiga di antaranya yang ditangkap di Masjid Madat dan satu di rumah. Namun,
tiga pemuda yang ditangkap di masjid masing-masing Bachtiar M Nur (27),
Fachri Usman (23), dan Mukhtar Ali (25), sudah dilepas. Sedangkan Alamsyah
Sufi (27) yang ditangkap di rumah hingga kini belum jelas nasipnya.
Menurut M Yusuf, pihak keluarga pemuda yang dibawa aparat Bataliyon 149
hingga kini dalam keadaan resah. Mereka mengharapkan kalaupun ditangkap agar
bisa melakukannya sesuai jalur hukum yang berlaku. "Hargailah hukum yang
berlaku," kata Yusuf.
Keempat pemuda Madat itu ditangkap pada malam hari, Kamis (7/9).
Menurut laporan masyarakat sekitar 50-an personil TNI dan BKO Brimob
Mapolsek Simpang Ulim memasuki Desa Madat dengan berjalan kaki dan sekitar
dinihari, Jumat (8/9) memeriksa salah satu rumah di Desa Madat. Tidak jelas
dalam pemeriksaan itu, apa dan siapa yang dicari.
Ternyata belakangan diketahui, dari rumah itu aparat menangkap Alamsyah
Sufi. Kemudian bersebelahan dengan rumah Alamsyah Sufi ada masjid. Di masjid
tersebut dilakukan pemeriksaan. Terdapat tiga orang pemuda lainnya. Akhirnya
keempat pemuda itu dibawa oleh aparat tersebut.
Menurut ketiga pemuda yang sudah dilepaskan tersebut kepada M Yusuf, anggota
TNI yang menangkap mereka berasal dari Batalyon 145 yang berposko di Balai
Benih Simpang Ulim.
Ketiga pemuda itu mengaku sebelum dilepas sempat dipukul. Hal yang sama juga
menimpa Alamsyah. Mereka ditangkap dengan tuduhan terlibat GAM.
Namun, karena merasa tidak pernah terlibat GAM, untuk penyelesaian hukumnya,
salah seorang korban telah melaporkan permasalahan tersebut ke Lembaga
Bantuan Hukum Yapesma Langsa dan NGO HAM Aceh. Menurut Sekretaris Eksekutif
Yapesma Langsa, Ayub SH kepada Serambi Jumat (8/9) laporan telah diterimanya
dan sedang dalam tahapan awal penanganan.
Tim Monitoring NGO HAM Aceh, M Safii Saragih SH dan Lukman AG yang kebetulan
berada di Kantor Yapesma Langsa, ketika salah seorang warga Simpang Ulim
melaporkan permasalahan penangkapan keempat pemuda tersebut. Serta merta
menanggapi laporan itu, untuk mencari solusi penyelesaiannya. (tim)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 11 Sep 2000 jam 05:27:35 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke