----------------------------------------------------------
The US government makes available 55.000 GREEN CARDS
(permanent residence visa) in a random lottery.
Visit http://www.us-immigration.org for details
on how to play the GREEN CARD LOTTERY

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0
Indonesia Daily News Online
http://www.indo-news.com/

Free Email @KotakPos.com
visit: http://my.kotakpos.com/
----------------------------------------------------------

Serambi Minggu,  10 September  2000
Ribuan Pengungsi Banjiri Takengon dan Kruengsabe

BANDA ACEH - Kota Takengon di Aceh Tengah dan Kruengsabe (kecamatan di Aceh
Barat), hingga Sabtu (9/9) semakin sesak dibanjiri ribuan pengungsi menyusul
semakin memburuknya situasi keamanan di dua kawasan tersebut.
Dari Takengon dilaporkan, kemarin, sedikitnya 1.000 warga Buntul, Pondok
Kresek, dan Pondok Baru (ketiganya di Kecamatan Bandar), mengalir melakukan
pengungsian menyusul gangguan yang dilakukan kelompok tak dikenal dalam
beberapa hari terakhir ini. Mereka memilih Gedung DPRD Tk II Aceh Tengah di
pusat kota Takengon sebagai tempat perlindungan yang aman.
Dilaporkan pula, ribuan masyarakat lainnya (dari Pondok Baru dan Kecamatan
Bukit), sudah bersiap-siap mengungsi. "Ribuan masyarakat dari dua kecamatan
itu kini berkumpul di kantor camat. Mereka mengungsi akibat situasi keamanan
yang semakin mencekam menyusul penembakan dan pembakaran rumah penduduk oleh
oknum tidak dikenal di daerah itu," kata jurubicara Pemda Tk-II Aceh Tengah,
Suriadi di Banda Aceh, Sabtu, seperti dikutip Antara.
Berdasarkan laporan warga, dalam dua hari terakhir ini sebanyak 28 unit
rumah milik penduduk Pondok Kresek, Indong Bulan dan Buru Perjanji,
Kecamatan Bandar serta Desa Blang Rongka Kecamatan Timang Gajah, ludes
dibakar orang tak dikenal yang bersenjata api.
Arus pengungsian masyarakat ke kota, terutama ke DPRD Tk-II Aceh Tengah itu
untuk meminta jaminan perlindungan keamanan dari pemerintah dan aparat
keamanan.
Sekitar pukul 13.30 kemarin, terjadi insiden ketika sekelompok orang tak
dikenal melakukan penghadangan terhadap warga pengungsi dari Pondok Baru
menuju Takengon. Kejadian di jalan raya kawasan Bukit Menjangan Kecamatan
Bukit, atau sekitar 4 km dari Sp Tritit itu, kelompok tak dikenal menyuruh
para pengungsi kembali ke Bandar. Dengan rasa ketakutan warga pun kembali ke
Pondok, ibukota Kecamatan Bandar. Kelompok tak dikenal menghilang setelah
aparat keamanan tiba di lokasi.
Berhenti
Sementara itu, angkutan jurusan Bireuen-Takengon dan sebaliknya, sejak Sabtu
kemarin terhenti total karena khawatir akan sesuatu. Apalagi aparat BKO di
Pos Polsek Lampahan melakukan sweeping sejak Jumat lalu. Sweeping terhadap
kendaraan, dan penyisiran ke beberapa kawasan dilakukan aparat untuk memburu
pelaku penyerangan yang mengakibatkan tiga anggota Brimob tewas dalam
insiden di kawasan Wih Kenis, Kecamatan Bandar, sehari sebelumnya.
Mungkin diakibatkan rasa tertekan melihat rekan-rekannya menjadi korban,
beberapa aparat yang melakukan sweeping ada yang bertindak di luar
kewajaran. "Lihat wajah saya yang luka-luka dihantam popor," kata Wan,
seorang penduduk Takengon, yang mengaku baru saja melakukan perjalanan
dengan menumpang bus umum, kepada wartawan di Takengon.
Tinggi aktivitas sweeping, membuat suasana Aceh Tengah, terutama seputaran
Bandar, Simpang Tritit, dan beberapa kawasan di Timang Gajah, kemarin tampak
mencekam. Banyak pemilik kedai yang tak membuka usahanya kemarin.
Suasana mencekam juga dirasakan oleh penduduk kota Takengon, banyak warga
tidak berani keluar rumah terutama pada malam hari. Aktivitas perdagangan
masyarakat juga sepi karena banyak pedagang tidak membuka usahanya, kata
salah seorang sumber yang enggan menyebut jatidirinya.
Darurat
Dari Aceh Barat dilaporkan, sekitar 3.000-an warga Kecamatan Krueng Sabe,
sejak dua hari lalu mulai menempati kamp pengungsian berlokasi di Desa Keude
Krueng Sabe. Mereka terpaksa tidur di tenda-tenda darurat. Beberapa
pengungsi mengatakan, eksodus terpaksa dilakukan karena takut terhadap
aparat yang berpatroli di perkampungan penduduk.
Tapi, Kapolres Aceh Barat Superintendent Her Aris Sumarman menyatakan
masyarakat yang mengungsi itu tak ada kaitannya dengan patroli rutin yang
dilakukan aparat. "Mereka (mengungsi) disuruh pihak tertentu. Mana ada
pasukan membuka Posko di sana. Mereka mengungsi sendiri dengan alasan
takut," kata Kapolres singkat ketika dijegat wartawan di Kantor Bupati Aceh
Barat kemarin.
Bupati Aceh Barat Drs Nasruddin MSi kepada Serambi tadi malam mengatakan,
pihaknya sudah menyurati tim Jeda Kemanusiaan di Banda Aceh termasuk KBMK
agar segera turun ke lokasi pengungsian di Keude Kruengsabe, untuk
mempercepat proses pemulangan ke kampung masing-masing. "Selain menyampaikan
laporan melalui surat yang di fax sore kemarin, saya sudah berbicara
langsung dengan personil KBMK mengenai tuntutan pengungsi," kata Bupati
Nasruddin.
Hingga sore kemarin arus pengungsian dari pelosok pedesaan di Kemukiman
Kruengsabe terus memadati lokasi penampungan sementara di Desa Keude
Kruengsabe. Mereka ditampung di tiga tempat yakni komplek masjid, menasah
dan balai desa, ketiganya berlokasi di Desa Keude Kruengsabe.
Laporan terakhir yang berhasil dihimpun Serambi hingga tadi malam jumlah
pengungsi sudah mencapai 3.000 jiwa. Mereka berasal dari enam desa yang
tersebar di Kemukiman Kruengsabe yakni Datar Luas, Paya Seumantok, Ranto
Panyang, Buntha, Curek dan Alue Tho. "Pemda melalui camat setempat sudah
menyerahkan bantuan 2 ton untuk pengungsi," kata Bupati Drs Nasruddin MSi.
Menurut bupati, Pemda Aceh Barat akan mengupayakan memulangkan para
pengungsi itu ke kampungnya masing-masing. "Rencananya hari ini (Minggu
10/9) pimpinan daerah akan turun ke lokasi pengungsian dan kita harapkan tim
jeda kemanusiaan bisa bersama-sama ke sana," harap bupati.
Para pengungsi selain meminta tim Jeda Kemanusiaan turut ke Kruengsabe, juga
menuntut agar pasukan hingga kemarin masih berada di desa-desa segara
ditarik. "Kita sudah melaporkan tentang tuntutan itu ke tim jeda
kemanusiaan. Nampaknya tuntutan itu sedang dibahas personil tim jeda di
Banda Aceh," ujar bupati.
Dari Kruengsabe dilaporkan, para pengungsi yang mulai menempati kamp
penampungan sementara sejak dua hari lalu mulai membuka dapur umum dan tenda
darurat. Bahkan, para relawan kemanusiaan dari Kagempar, LSM, tim medis dan
anggota PMI Cabang Aceh Barat mulai membuka posnya di lokasi pengungsian
untuk membantu masyarakat yang sakit.
Musliadi, wakil Koordinator Posko Koalisi Gerakan Mahasiswa Pemuda Aceh
Barat (Kagempar) Banda Aceh yang mengaku berada di kamp pengungsian Krueng
Sabee, Sabtu (9/9) siang, menyebutkan, para pengungsi hidup dalam kondisi
prihatin. Karena tak ada bahan makanan dan obat-obatan.
Sedangkan Khairul Rizal, Pjs Sekjen Posko Pusat Kagempar, juga mendatangi
Serambi, Sabtu (9/9) malam. Ia mengharapkan kepada komite dan tim monitoring
Jeda Kemanusiaan turun ke Kruengsabee. Tujuannya supaya bisa melihat dan
mengetahui kenapa masyarakat ramai-ramai mengungsi ke masjid.(tim)

AGAM Ultimatum Aparat

BANDA ACEH - Panglima Angkatan Gerakan Aceh Merdeka (AGAM) Wilayah Meureuhom
Daya, Abu Arafah, mengultimatum aparat TNI/Polri untuk segera meninggalkan
kawasan Kruengsabee, Aceh Barat, dalam tempo tiga hari. "Jika tidak kami
akan menyerang dan membakar pos-pos mereka di wilayah kami," kata Abu
Arafah.
Berbicara via telepon ke Serambi tadi malam, Abu Arafah menyatakan,
keberadaan begitu banyak aparat yang mengepung kawasan Kruengsabe telah
memaksa masyarakat meninggalkan rumah-rumahnya berangkat ke tempat
pengungsian. "Berada di pengungsian, buat masyarakat desa bukan pekerjaan
yang enak. Mereka terserang penyakit. Obat-obatan tidak tersedia. Karena
itu, kami minta aparat supaya segera meninggalkan kawasan Kruengsabee agar
masyarakat bisa kembali ke rumahnya masing-masing," kata Abu Arafah.
Namun, Abu Arafah tidak menjelaskan di mana saja lokasi pengungsian
masyarakat. Ia hanya menyatakan sejak kemarin banyak pengungsi yang
sakit-sakit. "Yang sayangnya persediaan obat-obatan sangat minim," katanya.
Ia menyatakan, saat ini buat AGAM Meureuhom Daya tak ada lagi peduli dengan
jeda. "Kalau TNI dan Polri masih berada di wilayah kami, tetap akan kami
sikat. Dan, kami sangat setuju dengan pendapat AGAM Wilayah Pasee yang
menantang perang terbuka dengan aparat TNI/Polri," katanya.
Ia pun menyatakan keprihatinan atas musibah yang menimpa sejumlah petugas
UNHCR (Badan PBB untuk urusan pengungsi) di Atambua. (tim)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 11 Sep 2000 jam 05:28:06 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke