perempuan: antara ideasi dan realitas kultural.

pemilihan lurah kaum terpelajar itu jauh dari hura-hura kampanye, 
apalagi kampanye yang sifatnya primordial. setiap yan hadir 
memberikan kesempatan yang lain untuk tampil. ini tercermin dari 
kegairahan untuk mengajukan nama teman-temannya dan bukan 
namanya sendiri untuk dinominasikan sebagai lurah kaum berbedidigan 
itu. tentu saja, kegairahan pengajuan nominasi ini bisa saja dijelaskan 
secara sosiologis bahwa secara sosiologis komunitas kaum terpelajar 
itu masih membawa serta 'social memory', yaitu suatu konstruk 
'pengetahuan' yang menabukan penonjolan diri, yang menyungkupi 
proses pendewasaan mereka. tentu saja penjelasan ini bisa saja 
bertabrakan dengan atribut keterbedidigan komunitas itu. maksud saya, 
komunitas yang terpelajar dianggap mampu mengambil jarak dari, 
bersikap kritis terhadap, dan, karenanya, kurang terpengaruh oleh 
'social memory' itu.

kembali pada pengajuan nominasi pemilihan lurah kaum terpelajar. 
setelah seluruh nominasi didaftar, panitia yang bertanggung-jawab 
terhadap terselenggaranya pemilihan lurah itu menemukan bahwa kaum 
perempuan absen dalam daftar nominasi. panitia, yang bersemangat 
'emancipatory advocate' karena atribut keterpelajarannya, 
mempertanyakan absennya perempuan dari daftar nominasi ini. 'lho kok 
ada perempuannya?' gitu celetuknya di dalam rapat pemilihan itu. maka 
beberapa nama perempuan yang hadir di dalam pemilihan itu disebut 
untuk dinominasikan sebagai lurah kaum terpelajar. hampir semua 
perempuan yang disebut namanya menolak untuk dinominasikan 
sebagai lurah, tapi tidak keberatan dijadikan 'punggawa'. kemudian 
'voting' yang dijalani untuk menentukan lurah definitif. dan terpilihlah 
sang lurah berjender laki-laki. tak ada protes berarti. tak ada yang 
'grundelan' semuanya mengamini. lalu makan bersama.

'gila', kata seorang perempuan yang mendatangi pemilihan itu. 'mosok 
perempuan dinominasikan sebagai lurah hanya karena perempuan'. 
jelas, saya terperangah. 'maksudnya?' tanya saya, mencoba mengerti. 

'apakah kalau perempuan sudah dinominasikan sebagai lurah itu lalu 
berarti ada penghargaan terhadap perempuan?' 

'maaf, saya masih belum mengerti.'

'memasukkan perempuan dalam nominasi, hanya karena sebelumnya 
absen di dalam nominasi, adalah sikap pelecehan terhadap perempuan 
yang dibungkus oleh sikap, yang seolah-olah, 'emancipatory advocate'. 
equal opportunity. jadi masuknya perempuan dalam nominasi itu "hanya 
karena perempuan". kalau dirumuskan dengan lebih 'blatant', 
perempuan dihargai [dalam nominasi itu] karena jendernya. apakah 
penghargaan terhadap laki-laki yang dicerminkan dalam nominasi itu 
juga "hanya karena laki-laki"? jelas, bahwa sikap equal opportunity 
atawa 'emancipatory advocate' yang dipertontonkan oleh panitia 
pemilihan itu sebenarnya semu'.

saya terhenyak lagi. 'perempuan "dihargai" berdasarkan simbol-simbol, 
ideasi yang dihadirkan olehnya; sementara laki-laki "dihargai" 
berdasarkan proses atau hasil aktivitasnya', begitu kira-kira argumen 
chandra mohanty dalam 'under western eyes: feminism discourse [?]'. 

jangan-jangan kalau kita bicara tentang [emansipasi] perempuan, kita 
sebenarnya tengah mengaduk-campurkan 'realitas kultural perempuan', 
yaitu pengalaman keseharian yang dialami oleh perempuan, dengan 
'ideasi perempuan', gagasan, konsep, pengetahuan, pemahaman, 
simbol mengenai perempuan? kalaupun memang begitu, apakah 
kegiatan [membicarakan emansipasi perempuan] itu lalu tidak pantas? 
mungkin perkaranya tidak terletak pada pantas-tidaknya, melainkan 
pada pertanyaan 'siapakah yang dilayani/diuntungkan oleh "proyek" 
intelektual akademis ini?'. untuk menjawab pertanyaan ini, mungkin 
pendapat mohanty yang mengatakan bahwa, 'ideasi, konsep, 
pengetahuan tentang perempuan yang kebanyakan direproduksi oleh 
kaum feminist sekarang adalah ideasi/pengetahuan/konsep yang 
dibangun oleh 'feminist barat'', pantas dijadikan awal pijakan karena 
memang 'pembuatan pengetahuan tentang perempuan [the knowledge 
making about women]' lebih banyak diwarnai gagasan kolonial 'barat' 
daripada gagasan koloni 'dunia ketiga'. [ctt.: perhatikan istilah 'kolonial', 
'koloni', 'barat', 'dunia ketga'. istilah-istilah ini bukan istilah yang 
'unproblematic'.] dengan kata lain, kalau kita berbicara tentang 
emansipasi perempuan, siapakah atau apakah yang sebenarnya kita 
maksud dengan 'perempuan'? ideasi tentang perempuan itu sendiri, 
yang epistemiologically 'bias' [karena dibangun dengan bahan-bahan 
kolonial 'barat'] atau tentang realitas nyata [orang] perempuan yang 
genealogically terkait dengan lingkungan sosialnya?  

Kirim email ke