> Saya nggak ingin mengomentari apa yg ditulis oleh Pak Amat, meskipun ini
> menarik perhatian saya. Saya hanya ingin mengatakan bhw saya teringat
> oleh sebuah buku karangan Arief Budiman berjudul "Pembagian kerja secara
> seksual", sebuah buku tipis yg berbicara tentang teori pembagian kerja
> berdasarkan 'gender' dalam institusi yg bernama "keluarga". Suami kerja
> di luar, sedangkan si istri sibuk di sektor rumah tangga, begitulah
> pembagian tipikal dalam sebuah keluarga (di manapun --di Amerika, di
> Indonesia atau di tempat2 lain, dari dulu sampai sekarang). Menurut buku
> itu ada dua teori yg menyangkut keberadaan pembagian kerja secara
> seksual. Yg pertama adl teori "nature": bhw pembagian kerja secara
> seksual ada karena kodrat alami. Yg kedua adl teori "nurture": bhw
> pembagian kerja secara seksual ada karena hasil kebudayaan. Yg menarik
> adalah teori yg kedua, karena, meskipun tanpa rekayasa secara langsung,
> pembagian kerja secara seksual (menurut teori ini) disebabkan karena
> pemupukan dominasi lelaki atas perempuan. Dg kerja di luar, seorang
> suami akan lebih berwawasan dan lebih tampil dibanding sang istri
> --suatu keadaan yg tidak adil, karena posisi suami lebih diuntungkan dlm
> pembagian kerja ini (begitulah kira2 sederhananya). Yg luar biasa adl
> keberadaan pambagian kerja secara seksual itu sudah ada pada jaman
> purbakala (? saya nggak ingat persis pd jaman apa) dan masih tetap
> bertahan bahkan sampai sekarang. Oleh karenanya wajar bhw orng percaya
> bhw keberadaannya se-mata2 karena kodrat alami, sehingga akhirnya
> orangpun nggak sadar bhw pembagian kerja secara seksual merupakan suatu
> bentuk eksploitasi oleh separuh umat manusia terhadap separuh umat
> manusia lain yg menjadi kurbannya. 

amat:
sesuatu yang tadinya dianggap 'nuture-iah', karena menyejarah, berubah
menjadi 'nature-iah'. itulah kira-kira alur pikiran yang ada di dalam
penjelasan di atas. bukankah lalu alur pikir ini akan membawa kita ke
pertanyaan: apa iya, yang 'nature' itu memang 'nature'? jangan-jangan
'yang nature' itu sebenarnya suatu rekayasa [baca: proses] yang/lewat
menyejarah?

Lalu, menurut buku itu lagi, keberadaan
> pembagian kerja secara seksual juga lebih diperteguh oleh kutipan2 ayat
> di "Bible" maupun ayat2 di Quran (saya nggak ingat kutipan dari ayat yg
> mana) --ini artinya beberapa arti harafiah ayat2 itu menyumbang bagi
> kokohnya pembagian kerja yg nggak adil dimana perempuan menjadi
> subordinat.

amat:
pertama-tama kita harus menyauhkan kerangka pikir kita terhadap kitab-
kitab suci itu. kalau kita menganggap [baca: menyauhkan gagasan kita]
kitab suci sebagai sesuatu yang 'transenden', yang turun dari tuhan tanpa
campur tangan manusia, maka pertanyaan selanjutnya adalah, apakah
interpretasi bahwa 'ayat-ayat kitab suci itu meneguhkan hubungan jender
yang tidak seimbang itu', satu-satunya interpretasi? tidak adakah peran
kondisi lingkungan, gagasan umum yang menyungkupi realitas interpreter itu
terhadap interpretasinya?

pertanyaan-pertanyaan di atas, pada hemat saya, juga valid untuk 
mengeksplorasi penyauhan gagasan yang lain terhadap kitab suci. [penyauhan
gagasan terhadap kitab suci yang saya maksud di sini adalah: kitab suci
ditulis sebagai kesaksian iman manusia terhadap/tentang yang diimaninya]. 


dengan kata lain, interpretasi terhadap ayat-ayat kitab suci bisa 
mendukung dan bisa pula merongrong ketidakadilan. ambil petikan dari
bibel, misalnya. konon perempuan diciptakan dari rusuk adam. ayat ini bisa
diinterpretasikan sebagai: perempuan adalah manusia kelas dua karena
diciptakan dari bagian tubuh manusia tingkat pertama. tapi bisa juga
diinterpretasikan sebagai: perempuan diciptakan dari bagian yang dekat
dengan jantung agar tetap mendampingi si jantung. bukan dari batok kepala
agar mengatasinya. juga bukan dari tulang tumit untuk dinjak. [masih
berbau maskulin? ya.... memang yang menginterpretasikannya laki-laki. :-)]


> Pertanyaan buat Pak Amat: mungkinkah kita melakukan advokasi sejati
> 'emansipasi perempuan'  tanpa landasan teori "nurture"? 

amat:
tergantung pada bagaimana kita memaknai 'advokasi sejati' itu. kalau
'advokasi sejati' itu berarti penolakan total terhadap semua yang berbau
laki-laki, forget it. tetapi kalau 'advokasi sejati' itu diartikan sebagai
ketulusan untuk menelaah perkara jender, yang biasanya sudah dianggap
sebagai 'nature' atau taken for granted, misalnya, maka advokasi itu bisa
dilakukan dengan atau tanpa teori 'nuture'.










> Pertanyaan umum: seandainya jabatan ketua PPIA adalah jabatan
> strategis (bergengsi sekali dan dengan gaji tinggi sekali, bayangkan
> begini), apakah para lelaki yg mengusulkan nama2 perempuan pada nominasi
> pemilihan "kaum terpelajar" yg lalu juga mengusulkan hal yg sama?  
> 
> Salam,
> Haryono
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> On Wed, 28 Apr 1999, amat wrote:
> 
> > perempuan: antara ideasi dan realitas kultural.
> > 
> > pemilihan lurah kaum terpelajar itu jauh dari hura-hura kampanye,
> > apalagi kampanye yang sifatnya primordial. setiap yan hadir memberikan
> > kesempatan yang lain untuk tampil. ini tercermin dari kegairahan untuk
> > mengajukan nama teman-temannya dan bukan namanya sendiri untuk
> > dinominasikan sebagai lurah kaum berbedidigan itu. tentu saja,
> > kegairahan pengajuan nominasi ini bisa saja dijelaskan secara
> > sosiologis bahwa secara sosiologis komunitas kaum terpelajar itu masih
> > membawa serta 'social memory', yaitu suatu konstruk 'pengetahuan' yang
> > menabukan penonjolan diri, yang menyungkupi proses pendewasaan mereka.
> > tentu saja penjelasan ini bisa saja bertabrakan dengan atribut
> > keterbedidigan komunitas itu. maksud saya, komunitas yang terpelajar
> > dianggap mampu mengambil jarak dari, bersikap kritis terhadap, dan,
> > karenanya, kurang terpengaruh oleh 'social memory' itu.
> > 
> > kembali pada pengajuan nominasi pemilihan lurah kaum terpelajar.
> > setelah seluruh nominasi didaftar, panitia yang bertanggung-jawab
> > terhadap terselenggaranya pemilihan lurah itu menemukan bahwa kaum
> > perempuan absen dalam daftar nominasi. panitia, yang bersemangat
> > 'emancipatory advocate' karena atribut keterpelajarannya,
> > mempertanyakan absennya perempuan dari daftar nominasi ini. 'lho kok
> > ada perempuannya?' gitu celetuknya di dalam rapat pemilihan itu. maka
> > beberapa nama perempuan yang hadir di dalam pemilihan itu disebut
> > untuk dinominasikan sebagai lurah kaum terpelajar. hampir semua
> > perempuan yang disebut namanya menolak untuk dinominasikan sebagai
> > lurah, tapi tidak keberatan dijadikan 'punggawa'. kemudian 'voting'
> > yang dijalani untuk menentukan lurah definitif. dan terpilihlah sang
> > lurah berjender laki-laki. tak ada protes berarti. tak ada yang
> > 'grundelan' semuanya mengamini. lalu makan bersama.
> > 
> > 'gila', kata seorang perempuan yang mendatangi pemilihan itu. 'mosok
> > perempuan dinominasikan sebagai lurah hanya karena perempuan'. jelas,
> > saya terperangah. 'maksudnya?' tanya saya, mencoba mengerti. 
> > 
> > 'apakah kalau perempuan sudah dinominasikan sebagai lurah itu lalu
> > berarti ada penghargaan terhadap perempuan?' 
> > 
> > 'maaf, saya masih belum mengerti.'
> > 
> > 'memasukkan perempuan dalam nominasi, hanya karena sebelumnya 
> > absen di dalam nominasi, adalah sikap pelecehan terhadap perempuan
> > yang dibungkus oleh sikap, yang seolah-olah, 'emancipatory advocate'.
> > equal opportunity. jadi masuknya perempuan dalam nominasi itu "hanya
> > karena perempuan". kalau dirumuskan dengan lebih 'blatant', perempuan
> > dihargai [dalam nominasi itu] karena jendernya. apakah penghargaan
> > terhadap laki-laki yang dicerminkan dalam nominasi itu juga "hanya
> > karena laki-laki"? jelas, bahwa sikap equal opportunity atawa
> > 'emancipatory advocate' yang dipertontonkan oleh panitia pemilihan itu
> > sebenarnya semu'.
> > 
> > saya terhenyak lagi. 'perempuan "dihargai" berdasarkan simbol-simbol,
> > ideasi yang dihadirkan olehnya; sementara laki-laki "dihargai"
> > berdasarkan proses atau hasil aktivitasnya', begitu kira-kira argumen
> > chandra mohanty dalam 'under western eyes: feminism discourse [?]'. 
> > 
> > jangan-jangan kalau kita bicara tentang [emansipasi] perempuan, kita
> > sebenarnya tengah mengaduk-campurkan 'realitas kultural perempuan',
> > yaitu pengalaman keseharian yang dialami oleh perempuan, dengan
> > 'ideasi perempuan', gagasan, konsep, pengetahuan, pemahaman, simbol
> > mengenai perempuan? kalaupun memang begitu, apakah kegiatan
> > [membicarakan emansipasi perempuan] itu lalu tidak pantas? mungkin
> > perkaranya tidak terletak pada pantas-tidaknya, melainkan pada
> > pertanyaan 'siapakah yang dilayani/diuntungkan oleh "proyek"
> > intelektual akademis ini?'. untuk menjawab pertanyaan ini, mungkin
> > pendapat mohanty yang mengatakan bahwa, 'ideasi, konsep, pengetahuan
> > tentang perempuan yang kebanyakan direproduksi oleh kaum feminist
> > sekarang adalah ideasi/pengetahuan/konsep yang dibangun oleh 'feminist
> > barat'', pantas dijadikan awal pijakan karena memang 'pembuatan
> > pengetahuan tentang perempuan [the knowledge making about women]'
> > lebih banyak diwarnai gagasan kolonial 'barat' daripada gagasan koloni
> > 'dunia ketiga'. [ctt.: perhatikan istilah 'kolonial', 'koloni',
> > 'barat', 'dunia ketga'. istilah-istilah ini bukan istilah yang
> > 'unproblematic'.] dengan kata lain, kalau kita berbicara tentang
> > emansipasi perempuan, siapakah atau apakah yang sebenarnya kita maksud
> > dengan 'perempuan': ideasi tentang perempuan itu sendiri, yang
> > epistemiologically 'bias' [karena dibangun dengan bahan-bahan kolonial
> > 'barat'] atau tentang realitas nyata [orang] perempuan yang
> > genealogically terkait dengan lingkungan sosialnya? lalu, bagaimanakah
> > cara membicarakan, melakukan advokasi 'emansipasi perempuan' yang
> > paling pantas, yang 'least problematic'? wallahualam.   
> > 
> > 
> > 
> 

Kirim email ke