kemarin waktu memforward tulisan itu, saya tidak membaca ulang. begitu 
'message' itu terdistribusi dan saya baca ulang, ternyata ada kesalahan 
ketik yang cukup mengganggu. 

kesalahan itu adalah:

'lho kok ada perempuannya?' seharusnya, 'lho kok tidak ada perempuannya?'

saya juga menemukan bahwa gagasan penutup dari message itu tidak kurang 
begitu 'tajam'. karena kesalahan-kesalahan itu, ijinkanlah saya memforward 
kembali message di bawah ini, sebelum menanggapi kembali tanggapan jeng 
tiwik.

perempuan: antara ideasi dan realitas kultural.

pemilihan lurah kaum terpelajar itu jauh dari hura-hura kampanye, 
apalagi kampanye yang sifatnya primordial. setiap yan hadir 
memberikan kesempatan yang lain untuk tampil. ini tercermin dari 
kegairahan untuk mengajukan nama teman-temannya dan bukan 
namanya sendiri untuk dinominasikan sebagai lurah kaum berbedidigan 
itu. tentu saja, kegairahan pengajuan nominasi ini bisa saja dijelaskan
secara sosiologis bahwa secara sosiologis komunitas kaum terpelajar 
itu masih membawa serta 'social memory', yaitu suatu konstruk 
'pengetahuan' yang menabukan penonjolan diri, yang menyungkupi 
proses pendewasaan mereka. tentu saja penjelasan ini bisa saja 
bertabrakan dengan atribut keterbedidigan komunitas itu. maksud saya, 
komunitas yang terpelajar dianggap mampu mengambil jarak dari, 
bersikap kritis terhadap, dan, karenanya, kurang terpengaruh oleh 
'social memory' itu.

kembali pada pengajuan nominasi pemilihan lurah kaum terpelajar. 
setelah seluruh nominasi didaftar, panitia yang bertanggung-jawab 
terhadap terselenggaranya pemilihan lurah itu menemukan bahwa kaum 
perempuan absen dalam daftar nominasi. panitia, yang bersemangat 
'emancipatory advocate' karena atribut keterpelajarannya, 
mempertanyakan absennya perempuan dari daftar nominasi ini. 'lho kok 
ada perempuannya?' gitu celetuknya di dalam rapat pemilihan itu. maka 
beberapa nama perempuan yang hadir di dalam pemilihan itu disebut 
untuk dinominasikan sebagai lurah kaum terpelajar. hampir semua 
perempuan yang disebut namanya menolak untuk dinominasikan 
sebagai lurah, tapi tidak keberatan dijadikan 'punggawa'. kemudian 
'voting' yang dijalani untuk menentukan lurah definitif. dan terpilihlah 
sang lurah berjender laki-laki. tak ada protes berarti. tak ada yang 
'grundelan' semuanya mengamini. lalu makan bersama.

'gila', kata seorang perempuan yang mendatangi pemilihan itu. 'mosok
perempuan dinominasikan sebagai lurah hanya karena perempuan'. 
jelas, saya terperangah. 'maksudnya?' tanya saya, mencoba mengerti. 

'apakah kalau perempuan sudah dinominasikan sebagai lurah itu lalu 
berarti ada penghargaan terhadap perempuan?' 

'maaf, saya masih belum mengerti.'

'memasukkan perempuan dalam nominasi, hanya karena sebelumnya 
absen di dalam nominasi, adalah sikap pelecehan terhadap perempuan 
yang dibungkus oleh sikap, yang seolah-olah, 'emancipatory advocate'.
equal opportunity. jadi masuknya perempuan dalam nominasi itu "hanya
karena perempuan". kalau dirumuskan dengan lebih 'blatant', perempuan
dihargai [dalam nominasi itu] karena jendernya. apakah penghargaan
terhadap laki-laki yang dicerminkan dalam nominasi itu juga "hanya 
karena laki-laki"? jelas, bahwa sikap equal opportunity atawa 
'emancipatory advocate' yang dipertontonkan oleh panitia pemilihan itu 
sebenarnya semu'.

saya terhenyak lagi. 'perempuan "dihargai" berdasarkan simbol-simbol,
ideasi yang dihadirkan olehnya; sementara laki-laki "dihargai" 
berdasarkan proses atau hasil aktivitasnya', begitu kira-kira argumen 
chandra mohanty dalam 'under western eyes: feminism discourse [?]'. 

jangan-jangan kalau kita bicara tentang [emansipasi] perempuan, kita 
sebenarnya tengah mengaduk-campurkan 'realitas kultural perempuan', 
yaitu pengalaman keseharian yang dialami oleh perempuan, dengan 
'ideasi perempuan', gagasan, konsep, pengetahuan, pemahaman, 
simbol mengenai perempuan? kalaupun memang begitu, apakah 
kegiatan [membicarakan emansipasi perempuan] itu lalu tidak pantas? 
mungkin perkaranya tidak terletak pada pantas-tidaknya, melainkan 
pada pertanyaan 'siapakah yang dilayani/diuntungkan oleh "proyek" 
intelektual akademis ini?'. untuk menjawab pertanyaan ini, mungkin 
pendapat mohanty yang mengatakan bahwa, 'ideasi, konsep, 
pengetahuan tentang perempuan yang kebanyakan direproduksi oleh 
kaum feminist sekarang adalah ideasi/pengetahuan/konsep yang 
dibangun oleh 'feminist barat'', pantas dijadikan awal pijakan karena 
memang 'pembuatan pengetahuan tentang perempuan [the knowledge 
making about women]' lebih banyak diwarnai gagasan kolonial 'barat' 
daripada gagasan koloni 'dunia ketiga'. [ctt.: perhatikan istilah 
'kolonial', 
'koloni', 'barat', 'dunia ketga'. istilah-istilah ini bukan istilah yang 
'unproblematic'.] dengan kata lain, kalau kita berbicara tentang 
emansipasi perempuan, siapakah atau apakah yang sebenarnya kita 
maksud dengan 'perempuan': ideasi tentang perempuan itu sendiri, 
yang epistemiologically 'bias' [karena dibangun dengan bahan-bahan 
kolonial 'barat'] atau tentang realitas nyata [orang] perempuan yang 
genealogically terkait dengan lingkungan sosialnya? lalu, bagaimanakah 
cara membicarakan, melakukan advokasi 'emansipasi perempuan' yang 
paling pantas, yang 'least problematic'? wallahualam.    



> pertanyaannya cukup bagus kang amat!
> kalau dari pandangan pribadi saya, yang kebetulan sebagai perempuan,
> sebenarnya kita, khususnya saya, kadang jenuh dengan istilah
> 'perempuan/wanita' yang sering lebih dijadikan objek dari pada subjek.
> sebagai contoh: adanya 'kementerian urusan peranan wanita', sepintas
> memang kelihatannya ingin menaikkan harkat perempuan, tapi kalau kita
> cermati lebih dalam, apakah wanita di negri kita selama ini kurang/tidak
> berperan? 

saya yakin pertanyaan anda valid. bagi saya, 'apa yang dilakukan dan 
gagasan yang mendasari unjuk kerja [alias rationale and work performance] 
kementerian itu' lebih penting daripada namanya.

kalau, misalnya, kementerian itu melakukan inventarisasi sejarah, advokasi 
terhadap realitas perempuan, advokasi terhadap gagasan yang di-diam-kan, 
dipinggirkan, dibunuh hanya karena gagasan itu muncul dari [seorang] 
perempuan, maka saya pikir kehadiran kementerian perempuan ini layak.

namun begitu, hadirnya kementerian perempuan sebagai 'women advocate' bisa 
juga membuat laki-laki merasa 'insecure'. gejala seperti perasaan 
'insecure' ini, pada hemat saya, tercermin pada meningkatnya pelanggan 
laki-laki di salon-salon kecantikan dan kebugaran.

kalau kita juga menerapkan teori kelas sosial pada isu gender ini, kita 
akan melihat bahwa isu gender ini tidak/kurang begitu meriah di kelas 
masyarakat di mana yu senik bakul nasgithel lesehan itu menjadi warganya 
dibandingkan dengan kelas sosial di mana doktor doktoranda raden ajeng 
pertiwi menjadi salah satu warganya. 

> lalu apa yang harus 'diurus' dari peran sebagai wanita? apakah
> dalam hal ini peran untuk melayani pria, keluarga, masyarakat dll? lalu
> apakah peranan pria selama ini sudah dianggap benar sehingga tidak perlu
> diurusi?

kalau kementerian perempuan itu memang 'harus ada', saya mengusulkan agar 
kementerian itu membuat inventarisasi tentang apa saja yang telah 
dilakukan oleh perempuan dalam perkembangan bangsa umat manusia, tanpa 
mereduksinya menjadi peristiwa komplementer terhadap peristiwa laian yang 
'bernuansa laki-laki'. [bandingkan dengan pendapat edriana dalam 'kalam' 
no 5 (?)].
 
> nah, itu baru satu dari kejanggalan yang saya rasakan, belum lagi
> banyaknya pusat2 studi tentang wanita. kalau saya memandang justru
> disinilah kita merasa lebih dijadikan sebagai objek yang pantas
> diketahui seluk beluknya, kegunaannya, permasalahannya dll sehubungan
> dengan gendernya sebagai wanita. saya lebih setuju kalau misalnya dibuat
> 'pusat studi hak azazi manusia'. 

sudahkah anda melongok issue-issue apa yang dijadikan obyek studi di dalam 
'women studies/studi perempuan'?  

bagi saya, pusat studi perempuan atau pusat setudi hak asasi manusia 
adalah sebuah nama yang belum tentu sepenuhnya mencerminkan, apalagi 
mencakup [seluruh], kegiatan yang terjadi di dalamnya. 'what's in a name', 
kata seorang pujangga yang secara latah sering saya, kita kutip.

> menurut saya, banyak tindakan2 kita selama ini, dalam menangani masalah 
> perempuan masih sekedar 'permukaannya' saja. supaya dianggap lebih 
'adil' > tapi kurang memahami esensi 'keadilan' yang sebenarnya. adilkah 
bila > seorang wanita karier dalam keluarga dibebani tanggungjawab 
terhadap rumah > tangga (masalah pendidikan anak, pekerjaan rumah tangga 
dll)lebih dari > pada pria? adilkah dalam 'penggrebegan' pelacuran yang 
dijaring hanya > pelacur wanitanya? adilkah jika wanita selalu dijadikan 
'kambing hitam' > dalam permasalahan keluarga? adilkah jika hanya 
wanitanya saja yang harus > menanggung beban apabila terjadi kehamilan 
diluar kehendak pasangan tsb? > dll yang saya kira lebih banyak menyangkut 
realitas dalam kaitannya dengan > lingkungan sosialnya. 

amat:
itulah. kita ini sering bertindak sebagai seorang ahli tentang keadilan. 
sedangkan seperti yang pernah saya tulis dalam 'keadilan adalah....', 
keadilan itu punya berbagai macam matra yang belum tentu saling 
kompatibel.

dan jangan lupa, ketidakadilan itu kadang juga direproduksi, dinikmati 
oleh yang diperlakukan tidak adil. saya ambil contoh seorang perempuan 
jawa menjelaskan setatusnya maritalnya, meskipun mungkin dengan nada 
bergurau, dengan 'wah belum laku je.' memangnya barang? kok belum laku? 
ungkapan semacam ini, meskipun hanya ungkapan, membentuk suatu konstruk 
sosial yang taken for granted, yang mendudukken perempuan dalam posisi 
layaknya barang yang hanya diukur menurut nilai ekonomisnya saja: laku vs. 
tidak laku. ada banyak contoh lain. you can name them your own. -:)
   
> > menurut hemat saya, hargailah perempuan itu sebagaiman menghargai umat 
> manusia lainnya. tidak perlu mereka dipandang lebih rendah atau 
dipandang > lebih tinggi. jadikanlah mereka sebagai mitra dalam menempuh 
kehidupan > ini. 

amat:
bukankah untuk menjadikannya 'mitra', kita perlu tahu posisi sebelumnya: 
apakah sudah menjadi mitra atau belum? kalau kita, dan perempuannya 
sendiri lebih suka berada dalam kerangka pikir laku vs. laku, dan 
menjadikannya sebagai 'taken for granted', dan karenanya kita tidak pernah 
memerkarakannya, lalu apakah ini yang namanya 'adil'? apakah yang semacam 
ini yang disebut 'kemitraan'?

tapi, maaf, memang kayaknya masih cukup banyak juga wanita yang > merasa 
lebih senang untuk dijadikan objek dari pada sebagai subjek. mereka > 
lebih suka 'didominasi' dari pada mendominasi.... > > ah, entahlah..kadang 
saya sendiri juga bingun...perempuankah saya? > hehehe....     > > > > > 

amat:
marilah kita bertanya pada diri kita sendiri: apakah aku termasuk salah 
satu di antara mereka?

Kirim email ke