> > > wes-e-wes.
> > > musim akan berganti, ekonomi dan demokrasi Indonesia juga berganti dan
> > > makin kuat dan mapan, suatu saat tetangga itu akan menyembah, minta
> >pasar
> > > bagi produksinya ketika ekonomi dan demokrasi Indonesia makin kuat,
> >
> >kapan? sesudah penentuan kursi dpr kelar? sesudah marsinah, bb, semanggi,
> >trisakti, aceh, kelar? sesudah semua partai gurem dapet kursi? atau
> >walahualam?
>
> ### Jangan pesimis kawan,
> bulan ini saja kandidat Presiden yang berbau korup akan rontok,
> pelan tapi pasti, kalau penguasa kurang ajar akan segera rontok,
lho apa kalu rontok, terus perkara bb, semanggi, penetapan kursi dpr,
aceh, marsinah, udin terus akan kelar? atau rontok untuk sekedar menimbun
perkara agar tumbuh dan bersemi dan dipetik oleh anak cucu?
>
> nantikan musim semi dan berbuah itu tiba,
>
> Indonesia memang lagi nggak karuan
> tapi tiba-tiba saya bangga jadi anak Indonesia
alhamdulilah.
saya prihatin jadi anak indonesia. karena apa? karena kemampuan saya untuk
melihat perbedaan tidak berkembang. segala sesuatu yang berbeda dari
atribut saya: warna kulit, agama, suku, dst.dsb. saya anggap lawan, paling
tidak sesuatu yang harus saya curigai. dengan, dan bahkan karena,
kecenderungan ini saya menjadi pemberang. dan jelas, sikap saya seperti
ini lebih sering mengundang musuh dan kekerasan daripada
rahmatanlilalamin.
saya tidak terlibat langsung dengan perkara aceh, ambon, timtim, udin,
marsinah, tapi ketidaksenangan [ungkapan yang harus saya pilih dengan
susah payah agar perasaan saya yang sejujurnya tidak mewabah, untuk
menghaluskan 'kebencian'] saya sungguh telah memengaruhi
perbuatan/tanggapan saya, sekali lagi: untuk tidak mengatakan 'kebencian',
terhadap pihak pihak yang terlibat.
jujur saja, bisakah kita berbelarasa terhadap penderitaan korban ambon
tanpa memihak salah satu yang bertikai? dengan susah payah, saya selalu
mengingatkan pikiran dan perasaan saya agar saya hanya berbelarasa dengan
korban, apapun agamanya. dan saya tahu, saya tidak selalu berhasil.
dengan pikiran yang semacam ini, saya tahu bahwa saya sendirian. utopis.
altruis. dan kesepian. malah boleh jadi, saya akan dikatakan tidak waras
oleh lingkungan indonesia saya. dalam kesepian dan kesendirian saya ini,
masih pantaskah saya berbangga dengan keindonesiaan saya? apa yang bisa
saya banggakan? ketrampilan menjadikan 'yang lain' [others] lawan/musuh?
maaf kawan, dalam situasi semacam ini bukan kebanggaan anak indonesia yang
diperlukan. tapi pendidikan diri sendiri untuk menjadi 'indonesia' yang
dewasa, yang lebih mengandalkan kata daripada senjata, yang lebih menuruti
suara hati daripada korupsi, yang lebih mengandalkan kecerdasan daripada
keculasan, yang lebih menyukai kejujuran daripada mengirimkan orang ke
kuburan.