YA MAU DIBILANG APA NASI SUDAH JADI BUBUR,...BEGITULAH REALITA
KEHIDUPAN, MANUSIA KERAP MELUPAKAN SEJARAH DEMI KENIKMATAN DUNIA
================================================================
ORANG TUA MEMBERIKAN CONTOH KEPADA ANAK MUDA SEPERTI ITU
SANGAT - SANGAT DISAYANGKAN MEMANG,..TETAPI DISINI SAYA TIDAK
TAHU BAGAIMANA SEJARAH PEMBANGUNAN GEDUNG WANITA KARO TERSEBUT
================================================================
SEWAKTU SAYA MASIH KECIL, PULANG DARI KAMPUNG KE MEDAN SAAT MELEWATI
JL. ISKANDAR MUDA MENUJU SEI WAMPU (TERMINAL LAMA) SAYA LIHAT GEDUNG
WANITA KARO (DALAM HATI SAYA BERTANYA APAKAH INI MASIH DITANAH KARO)
HE HE HE LUCU JUGA KENANGAN LAMA,..TETAPI SEKARANG TINGGAL KENANGAN.
DAN SAMPAI KAPAN KITA HARUS MENGENANG DAN MENYESAL ATAS HILANGNYA
SESUATU YANG MENJADI KEBANGGAAN ORANG KARO,........................
HANYA HATI NURANI KITA MASING-MASING YANG BISA MENJAWAB,...........




--- In [email protected], Alexander Firdaust <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Disesalkan, Penjualan Gedung Wanita Karo di Medan
> Kabanjahe (Analisa)
>  Disesalkan, penjualan Gedung Wanita Karo di Jalan Iskandar Muda,
Medan. Padahal, itu bangunan monumental bagi masyarakat Karo.
Penjualan itu telah meruntuhkan nilai-nilai historis etnis Karo yang
nota bene pendiri Kota Medan.
>  Demikian disampaikan Pt. Theopilus Sinulaki yang juga Biro Humas
Moderamen GBKP kepada wartawan, Selasa (19/2) di Kabanjahe.
>  Dikatakan, Gedung Wanita Karo adalah kebanggaan dan simbol bagi
kaum wanita Karo, yang ingin tampil didepan berperan aktif membangun
Kota Medan. 
>  Begitu heterogennya masyarakat Sumatera Utara dari beragam etnis,
satu-satunya punya gedung adalah wanita Karo. Itu menunjukkan
eksistensi wanita Karo untuk berbuat nyata menyukseskan program
pembangunan walikotamadya Medan.
>  Dengan dibongkarnya gedung wanita Karo yang dibangun Tahun 1950 itu
menunjukkan betapa memperihatinkannya rasa nasionalisme kita. 
>  Artinya, walaupun gedung itu namanya gedung wanita Karo, tapi
peruntukannya bagi semua suku yang ada di Kota Medan tanpa membedakan
kelompok, ras dan etnis. 
>  Oleh sebab itu, sangat disayangkan penjualan gedung tersebut yang
merupakan simbol dan jati diri etnis Karo di Kota Medan.
>  Pemko Medan seharusnya melestarikan bangunan lama yang mempunyai
nilai-nilai historis terhadap Sumatera Utara, bukan malah
menghancurkannya, apalagi menjualnya. Sangat naif, kalau nantinya
penjualan gedung itu tidak memberikan pengganti gedung baru. 
>  Sementara di tempat terpisah, BG. Munthe (72) mengatakan, yang juga
mantan Ketua Pilkada Kabupaten Karo sangat menyesalkan bila jadi
pertapakan gedung Wanita Karo itu terjual, siapun penjualnya saya
yakin uang pengadaanya tempo dulu bukan uang pribadinya.
>  "Jangan-jangan lokasi tugu Komponis Jaga Depari di kawasan
Peringgan, Medan dijual pula setelah nantinya dirobohkan tugu
pengarang lagu 'Erkata Bedil' yang sudah menjadi aset nasional,"
tegasnya prihatin.
>  Diperoleh informasi, Izin Mendirikan Bangunan (IMB) di lokasi
gedung wanita Karo sudah dibayarkan ke Dinas Tata Kota dan Bangunan
Kota Medan Rp29 Juta dan perubahan peruntukan peruntukan tanah dan
perumahan menjadi pertokoan dibayar Rp199 juta. Dan penjualan gedung
Wanita Karo itu, senilai Rp6 miliar. (ps)
> 
> 
> Best Regarts
> 
> www.dausmedia.cjb.net
> 
>        
> ---------------------------------
> Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. 
Try it now.
>


Kirim email ke