Kalau bisa melakukan penelitian sendiri dan menghasilkan antivirus (apalagi dengan harga lebih murah), OK banget. Tapi kalo enggak bisa, membeli walau mahal itu tetap pilihan yang terbaik.
satiyawarmantarigan 2008/2/22 Rudy Surbakti <[EMAIL PROTECTED]>: > > > Perlawanan Siti Fadilah Supari > > Oleh : Asro Kamal Rokan > > Wajahnya serius membicarakan ketidakadilan negara-negara maju. Kalimat > demi kalimat meluncur deras. Dr Siti Fadilah Supari, satu dari sedikit > warga > dunia yang keras membela hak-hak negara berkembang di tengah dominasi > badan > resmi dunia dan negara adikuasa. Ia melawan dan berhasil. > > Majalah The Economist London menempatkan Siti Fadilah sebagai tokoh yang > memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak penyakit pandemik. > "Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih > berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman > virus flu burung, yaitu transparansi, -" tulis The Economist (10 Agustus > 2006). > > Perlawanan Siti Fadilah dimulai ketika virus flu burung (Avian > Influenza/AI) menelan korban di Indonesia pada 2005. Ia kelabakan. Obat > tamiflu harus ada. Namun aneh, obat tersebut justru diborong negara-negara > kaya yang tak terkena kasus flu burung. Ini tidak adil, negara-negara > lemah > yang terkena tidak memperoleh apa-apa. Untung saja ada bantuan dari India, > Thailand, dan Australia. > > Korban terus berjatuhan. Di saat itu pula, dengan alasan penentuan > diagnosis, badan kesehatan dunia (WHO) melalui WHO Collaborating Center > (WHO > CC) di Hong Kong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen. > Perintah itu diikuti Siti Fadilah. Namun, ia juga meminta laboratorium > Litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. Tapi, mengapa WHO > CC meminta sampel dikirim ke Hong Kong? > > Siti Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di > Vietnam. Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan > dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian > dibuat seed virus. Dari seed virus inilah dibuat vaksin. Ironisnya, > pembuat > vaksin itu adalah perusahaan-perusaha an besar dari negara maju, negara > kaya, > > yang tak terkena flu burung. Mereka mengambilnya dari Vietnam, negara > korban, kemudian menjualnya ke seluruh dunia tanpa izin, tanpa kompensasi. > Siti Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat > negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global Influenza > Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat berkuasa dan telah > menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari > 110 > negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak. Virus > itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya menjadi vaksin. > Di saat keraguan atas WHO, Siti Fadilah membaca di The Straits Times > Singapura, 27 Mei 2006, bahwa para ilmuwan tidak dapat mengakses data > sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC. Data itu, uniknya, disimpan di > Los > Alamos National Laboratoty di New Mexico, AS. Di sini, dari 15 grup > peneliti > hanya ada empat orang dari WHO, selebihnya tak diketahui. Los Alamos > ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS. Di lab inilah duhulu > dirancang bom atom Hiroshima. Lalu untuk apa data itu, untuk vaksin atau > senjata kimia? > > Siti Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu. > Data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok > tertentu. Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO > mengirim data itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak > ketertutupan Los Alamos, memujinya. Majalah The Economist menyebut > peristiwa > ini sebagai revolusi bagi transparansi. > > Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC agar > mengembalikan 58 virus asal Indonesia, yang konon telah ditempatkan di Bio > Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon. Ini jelas > tak > mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta pertukaran virus yang adil, > transparan, dan setara. Ia juga terus melawan: tidak lagi mau mengirim > spesimen virus yang diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang > imperialistik dan membahayakan dunia. > > Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Siti Fadilah dikecam WHO dan > dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang Pertemuan > Kesehatan Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government Meeting > (IGM) > WHO di Jenewa November lalu, sharing virus disetujui dan GISN dihapuskan. > Prof Siti Fadilah anak bangsa yang melakukan perlawanan atas > ketidakadilan. Bangsa ini memerlukan banyak orang seperti Siti Fadilah, > yang > berjuang untuk keadilan, kadaulatan, dan kesetaraan. Ia inspirasi untuk > bangsa yang bangkit. > > ------------------------------ > Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! > Search.<http://us.rd.yahoo.com/evt=51734/*http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping> > > >
