Dunia medis indonesia memang selalu ketinggalan, tetapi sebagai seorang putra 
bangsa, saya sangat setuju kalau upaya Bu Siti Fadilah kita hargai. Dunia medis 
ini, memang membutuhkan idealisme tertentu supaya kita bisa mengejar 
ketertinggalan dan mempertahankan harga diri. Dia seorang ilmuwan di kampus, 
dan dengan upayanya ini dia bisa membuktikan bahwa sebagai menteri dia bisa 
mempertahankan harga diri bangsa, walau tidak disadari banyak orang. Kita bisa 
lihat, bahwa dalam textbook2 kedokteran jarang sekali nama Indonesia tercantum, 
padahal kita termasuk orang yang kualitas otaknya diakui. (Buktinya yang jadi 
masalah adalah kekurangan sarana dan peralatan kan??? Bukan otak yang tidak 
mampu). Terlepas dari masalah murah mahalnya vaksin, tetapi dalam kancah dunia 
ilmiah kita berhasil mempertahankan hak kita. Kita terpuruk dalam hal ekonomi, 
tapi jangan sampai terpuruk dalam segala hal. Contohnya negara India, yang 
secara ekonomi tidak jauh beda dari Indonesia, tetapi dalam
 dunia medis namanya terhormat di dunia ini. Kenapa kita tidak bisa??? Upaya 
Siti Fadilah ini membuktikan bahwa kita bisa. Tinggal sekarang bagaimana 
kedepannya.... PR bagi orang yang peduli. dan selanjutnya mampukah Dr. Siti 
Fadilah melanjutkan perjuangannya supaya indonesia mampu membuat vaksin 
sendiri??? Untuk SDM saya kira tidak ada masalah, yang jadi masalah adalah 
apakah pemerintah mau (dukungan dana dan politik). Kita nantikan saja bagaimana 
nanti jadinya...

NB: Jangan mentang-mentang Indonesia negara miskin secara ekonomi, negara maju 
bisa seenaknya menginjak hak intelektual kita. Ini Harus diperjuangkan...! 
Wahai orang kampus... Center pendidikan dan penelitian medis Indonesia... 
Bagaimana respon anda semua? Ayo bikin vaksin!!!!! Jangan cuma jago teori.....

Jimmy Barus

Warman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                               
Memangnya apa untungnya bagi Indonesia dengan "keberhasilan menembus 
ketidakadilan dari negara raksasa itu"? 
 Apa dengan itu trus harga antivirus turun?
 Walau virusnya dari kita, kita juga harus realistis bahwa kita belum mampu 
menciptakan antivirusnya. Penelitian untuk menciptakan antivirus tentu mahal, 
ya wajar juga kalau antivirusnya dijual mahal.
 Kalau hasil penelitiannya tidak dapat dijual dengan harga yang menguntungkan, 
siapa yang mau melakukan.
  
 wassalam
 satiyawarmantarigan


 2008/2/22 Rudy Surbakti [EMAIL PROTECTED]:
       
 Well, poin dari tulisan ini adalah Indonesia telah berhasil menembus ketidak 
adilan dari Negara raksasa yg memperalat WHO (PBB) untuk menekan negara kecil 
dan meraih keuntungan sebesar besarnya. Virus nya dari kita kok vaksinnya 
dijual ke kita dgn harga mahal. Ternyata PBB itu sarang bandit yg mencari 
keuntungan. Dan virus-virus flu burung tsb diteliti di tempat pembuatan Bom 
atom (kemungkinan) di buat senjata biologi?
  Mungkin membuat vaksinnya kita belum mampu karena kurang dan dan peralatan 
tapi juga kan perlu rekomndasi dari lembaga terpercaya, bisa juga WHO.
  Kabarnya kemarin ada yg bilang Bahwa badan dunia pbb ingin agar penyaluran 
bantaun Tsunami Aceh dan Nias harus melaui mereka tetapi mereka minta imbalan 
sekian persen dari dana tsb. Itu kan namanya agen.
  Yang penting Indonesia telah berhasil mendobrak peraturaan yg tidak adil tsb.
  
 Wassalam,
  
 Rudy




 .

 
 


 
     
                               

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

Kirim email ke