Kemarau Panjang Ancaman Gagal Panen Petani Karo
Kabanjahe, (Analisa)
Beberapa minggu terakhir ini, masyarakat petani di Kabupaten Karo, khususnya
di Kecamatan Mardingding, Laubaleng, Tigabinanga, Juhar, Kutabuluh,
Tiganderket, Payung dan Kecamatan Munte merasa cemas akan gagal panen akibat
kemarau berkepanjangan yang melanda daerah penghasil jagung terbesar di
Sumatera Utara ini.
Menurut sejumlah petani yang ditemui di lapangan apabila dalam waktu dekat ini
hujan tidak turun di daerah tersebut, besar kemungkinan tanaman jagung dan padi
yang sekarang berumur antara sebulan hingga tiga bulan akan layu dan mati.
Kalaupun ada tanaman yang tidak mati karena sudah berusia diatas tiga bulan
hasilnya pasti tidak memuaskan, ujar salah seorang petani bermarga Sebayang
saat ditemui diperladangan sekitar Desa Tigabinanga.
Kecemasan yang sama juga disampaikan sejumlah petani jagung dan padi di
Kecamatan Laubaleng, Mardingding, Juhar, Kutabuluh, Tiganderket, Payung dan
Munte. Mereka sangat berharap turunnya hujan untuk tanaman mereka, karena pada
saat sekarang ini tanaman jagung dan padi ladang darat para petani sedang dalam
pertumbuhan yang saat-saatnya sangat membutuhkan air.
Kecamatan Mardingding, Laubaleng, Tigabinanga, Juhar, Kutabuluh, Payung dan
Munte, merupakan lumbung padi dan jagung di Kabupaten Karo. Pengamatan wartawan
dilapangan di daerah tersebut, tanaman jagung dan padi milik petani sudah
banyak yang layu, hal ini besar dugaan akibat maraknya perambahan hutan di
Karo, sehingga hutan berfungsi sebagai penyerap air tidak bermanfaat lagi bagi
tanaman petani.
Dalam suasana kecemasan akibat musim kemarau melanda sejumlah anggota
masyarakat di beberapa Desa di Kecamatan Tigabinaga, Juhar dan Munte sejak
beberapa hari ini melaksanakan ritual Ndilo Wari Udan (Memanggil Turunnya
Hujan).
Ritual Ndilo Wari Udan yang dilaksanakan pada musim kemarau yang merupakan
tradisi Karo bersifat turun temurun tersebut, sampai sekarang masih tetap hidup
dan dilaksanakan oleh masyarakat Karo, terutama oleh sebagian masyarakat di
Kecamatan Tigabinanga, Juhar dan Munte.
Ritual itu merupakan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar dapat
mencurahkan hujan ke bumi ketika kemarau panjang melanda. Dengan maksud untuk
menyelamatkan mahluk hidup dan tanaman petani yang sudah sangat membutuhkan air.
Pada pelaksanaan ritual penduduk membuat sesajen, memukul gendang tradisionil
Karo, menari bersama dan saling siram menyiram air antara penduduk. Di
Kecamatan Tigabinanga, Juhar dan Munte, ritual Ndilo Wari Udan tersebut
dilaksanakan selama beberapa hari sampai nanti hujan turun. (ps)
Best Regarts
www.dausmedia.cjb.net