KabarIndonesia - Sebelum anda membaca opini yang satu ini, perkenankanlah hamba 
sebagai rakyat jelata bangsa Indonesia terlebih dahulu untuk bersujud syukur. 
Demi rasa hormat dan salut saya kepada lembaga independen Komisi Pemberantas 
Korupsi (KPK), yang telah mendatangi gedung MPR/DPR di Senayan, sehingga 
membuat mereka (anggota DPR) yang biasa bersafari dan sering melakukan sidang 
yang katanya membahas menyangkut soal rakyat menjadi kebakaran jenggot atas 
kedatangan KPK. 
 
 Rasa haru dan bangga saya ini dikarenakan tertetes-nya air mata Saya yang 
mengalir tiada henti. Mungkin kalian (pembaca) bertanya, Why ? Ya, karena 
disaat negeri ini diduduki oleh para koruptor, baik yang masih menjabat maupun 
sudah tidak lagi menjabat di intitusi pemerintahan maupun swasta, ternyata kita 
masih dikaruniaii seorang khalifah yang berani untuk mensucikan bangsa 
Indonesia ini dari tikus-tikus berdasi ( red; Koruptor)
             
 Bagi Saya KPK sebagai lembaga independent, kini telah mulai menjalankan fungsi 
kontrol sesuai dengan emban yang ditugasnya. Meskipun apa yang diamanatkan 
rakyat untuk KPK masih belum semaksimal mungkin memberantas para 
koruptor-koruptor kelas kakap lainnya. 
 
 Yang menjadi pertanyaan batin saya disini adalah, mengapa sebuah lembaga KPK 
saja yang berhasil mengendus para koruptor-koruptor tersebut. Kenapa tidak 
terlebih dahulu yang mengendus mereka (Koruptor), bukan-nya sebuah media, lalu 
apa fungsi dari seorang wartawan, reporter, jurnalis, or what ever- do- you- 
call that , yang ditugaskan oleh seorang redaktur di salah satu Departemen, 
lembaga maupun intitusi pemerintahan maupun swasta? Bukankah mereka seharusnya 
menjadi "Watch Dog" atau anjing penggonggong
 
 Untuk itu, pertanyaan diatas seharusnya kita simak bersama-sama. Apakah media 
yang ada selama ini juga melakukan korupsi, sehingga media tersebut tidak 
berani melakukan kabar yang benar untuk dipublikasikan kepada masyarakat. 
Seperti yang dikutip oleh koran nasional beberapa bulan lalu, bahwasannya 
banyak IKLAN yang berada di tangan media nasional maupun lokal menaruh harapan, 
agar perusahaan-perusahaan tersebut tidak tercium bau bangkai kebusukannya. 
Atau bisa jadi, para pebisnis juga menaruh saham di salah satu intitusi pers 
yang sudah harum nama medianya di tengah-tengah masyarakat , sehingga intitusi 
pers itu sendiri bungkam.
 
 Dan sepatutnya mulai dari sekarang KPK juga harus mengintrogasi media nasional 
maupun lokal untuk menyeret para pelaku bisnis, termasuk para jurnalis maupun 
organisasi pers lainnya yang disinyalir menerima suap dari nara sumber maupun 
para pelaku perusahaan yang melakukan korupsi.
 
 Apalagi kebebasan media mendapatkan sebuah informasi ini telah dibuka oleh 
masa kepresidenan KH. Abdurrahman Wahid (red: Gusdur), yang tercantum dalam UU 
no 40/1999 hingga sampai sekarang, sehingga banyak media berdiri dengan 
bebasnya.Sepatutnya , kita juga tidak boleh memandang dengan sebelah mata 
sebuah intitusi pers yang baru berdiri, karena masyarakat atau nara sumber-lah 
yang memberikan sebuah nilai kinerja media tersebut patut atau tidak layaknya 
dikonsumsi oleh masyarakat. 
 
 Terlebih lagi mereka (masyarakat) mengharapkan sebuah media yang benar-benar 
independen, seperti halnya surat kabar yang pernah dibredel pada masa orde baru 
: Tabloid Detak dan surat kabar Indonesia Raya. Dimana dalam pemberitaan surat 
kabar Indonesia Raya pada masa orde baru itu menyeret Ibnu Sutowo (mantan Dirut 
Pertamaina), salah satu keluarga cendana yang melakukan korupsi untuk 
dijebloskan ke dalam penjara. 
 
 Kalau saja media-media sekarang mencontoh media yang seperti dulu, mungkin 
keberadaan KPK tidak berfungsi lagi ditengah-tengah bangsa Indonesia. 
Sebaliknya, jika media sekarang tidak berani memberikan kabar yang sebenarnya, 
sudah sepatutnya KPK diharapkan untuk memberantas para koruptor yang menjabat 
dinegeri ini, termasuk salah satu diantarnya adalah Media yang kini jumlahnya 
hampir ratusan. 
 
 Meminjam istilah cendikiawan dulu: Kami berfikir, maka kami ada, itulah 
Mahasiswa. (her)
 
 sumber: http://www.kabarindonesia.com/berita...20080519010010

Best Regarts

www.dausmedia.cjb.net

       

Kirim email ke