Memang sangat tragis jika dilihat kondisinya saat ini,..orang sekarang tidak 
lagi melihat nilai sejarang namun nilai ekonomi dari setiap benda dihadapan nya 
!
 
Dipinggiran benteng terlihat pembangunan rumah,..saya melihat apakah 
pembangunan tersebut telah memenuhi AMDAL, dan apakah SIMB sudah ada. 
Sepengelihatan saya dilapangan tidak ada dicantumkan papan yang menerangkan 
SIMB seperti biasanya ......................... sangat disayangkan memang !
 
Yang paling lucu sewaktu kita datang melihatnya ada seorang pria bisa dibilang 
sudah berumur, tanpa basa-basi langsung membentak kami,..dan bicara "Ada apa 
kalian kemari, kalian engga tahu apa-apa tentang ini,..Klo mau informasi tanya 
sama saya karena saya yang paling tua dikampung ini"
 
Lho ini orang tahu maksud dan tujuan kami datang melihat ko main bentak saja. 
Tapi kami tidak menghiraukannya. Kami melanjutkan kembali perjalanan kami, 
karena tujuan kami kemari hanya untuk mandi,....he he ehe !
 
 

======================================================================
[EMAIL PROTECTED]




--- On Sun, 7/13/08, Alexander Firdaust <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Alexander Firdaust <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [infokaro] Benteng Putri Hijau Nyaris Punah
To: [email protected], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Date: Sunday, July 13, 2008, 4:14 PM










Sumber: http://www.seputar- indonesia. com/edisicetak/ sumatera- utara/benteng- 
putri-hijau- nyaris-punah- 2.html

Benteng Putri Hijau Nyaris Punah 



Monday, 14 July 2008 

MEDAN (SINDO) – Peninggalan sejarah Benteng Putri Hijau di kawasan Delitua Namo 
Rambe, Medan, terancam punah. Pemerintah belum menunjukkan tandatanda akan 
melindungi kawasan yang menjadi benteng alami peninggalan Kerajaan Aru itu. 


’’Dalam sehari Benteng Putri Hijau peninggalan Kerajaan Aru di Delitua akan 
musnah dibuldoser sebagai korban pembangunan. Sebab, pemerintah tampak tidak 
berniat memugar dan melindunginya,” papar Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu 
Sosial (Pussis) Universitas Negeri Medan (Unimed) Ichwan Azhari kepada SINDO di 
Medan kemarin. Padahal,benteng tersebut tergolong situs local genius karena 
dipadukan dari benteng alami yang secara sengaja dibentuk sedemikian rupa 
berdasarkan topografi wilayah. 

Ichwan menambahkan, tidak ada bangunan kukuh dan kuat di benteng tersebut 
karena dibentuk dari alam. Ini terlihat dari gundukan tanah yang membukit 
sehingga terkesan alami. Begitu juga dengan parit-parit yang dibentuk sepanjang 
gundukan yang dipadukan dengan bambu besar yang ditanam secara rapat. Menurut 
catatan sejarah, Benteng Putri Hijau juga terkenal tak pernah bisa ditaklukkan 
Kerajaan Aceh pada masanya. 

Namun, situs yang tergolong local genius dan pernah diakui sejarawan asing itu 
akan punah begitu saja karena sebagian sisinya telah diratakan oleh program 
pembangunan. Yang lebih ironis, sebagian bangunan tersebut selain dimiliki 
swasta, juga untuk pembangunan Perumahan Nasional (Perumnas) yang notabene 
milik pemerintah. 

Dia menambahkan, yang sangat disayangkan juga adalah masyarakat sekitar yang 
tidak memedulikan kawasan tersebut, misalnya saat ada peninggalan, seperti koin 
emas Kerajaan Aceh, yang ditemukan warga kemudian dijual masyarakat ke toko 
emas. ’’Di sana kami menemukan banyak koin emas yang sebagian dimiliki warga. 
Namun, para warga itu tidak lebih dari barang ekonomi yang dapat dijual di toko 
emas. 

Toko emas juga lebih memilih meleburnya ketimbang menyimpan peninggalan sejarah 
tersebut,” ungkap Ichwan yang juga Ketua Pascasarjana Antropologi Sosial itu. 
Anggota Komisi A DPRD Sumut Sigit Pramono Asri mengungkapkan, perlindungan 
kawasan bersejarah serta pemanfaatannya merupakan wewenang dari pemerintahan 
kabupaten/kota.

Sebab, dalam otonomi daerah, kabupaten/kota yang seharusnya mempunyai peran 
lebih dalam melindungi situs sejarah. Meski demikian,Pemerintah Provinsi 
Sumatera Utara (Pemprovsu) juga harus berupaya mendorong dan memberikan arahan 
untuk menyamakan persepsi dalam pola pembangunan yang tidak melupakan 
peninggalan sejarah. ’’Semuanya sangat bergantung pada pola pikir bupati/ wali 
kota.Apakah mereka punya pandangan pentingnya arti sejarah untuk kepentingan 
pariwisata dan pengembangan ilmu atau tidak,”paparnya. (m rinaldi khair) 


Best Regarts

www.dausmedia. cjb.net

 














      

Kirim email ke