http://www.radartarakan.com/berita/index.asp?Berita=UTAMA&id=158528


senin, 14 September 2009



Cari Geraham Emas dalam Tengkorak
Identifikasi Jenazah yang Diduga Tan Malaka


JAKARTA - Pemeriksaan terhadap jenazah yang diduga Tan Malaka tak hanya 
mengandalkan tes DNA (deoxyribonycleic acid). Tapi juga ciri fisik khas Tan 
Malaka yang dikenal kerabat dekatnya. Salah satunya adalah geraham dari emas 
yang terdapat di antara gigi geligi tokoh pergerakan kemerdekaan itu. 
Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Asvi Warman Adam 
mengatakan, Tan Malaka tak memiliki keturunan. Satu-satunya garis keluarga yang 
masih tersisa adalah Zulfikar Kamarudin. Dia adalah anak dari adik laki-laki 
Tan Malaka, Kamarudin Rasyad. Dua saudara Zulfikar sudah meninggal. 

Karena itu, DNA jenazah yang diambil dari desa Selopanggung, Kecamatan Semen, 
Kabupaten Kediri, itu akan dibandingkan dengan DNA Zulfikar. 

"Selain DNA, juga diperiksa ciri fisik Tan Malaka yang diketahui kerabat 
terdekatnya. Pokoknya ada gigi emasnya. Zaman dulu orang kan suka mengganti 
gigi yang lepas dengan gigi palsu dari emas," kata kata Asvi kepada JPNN di 
Jakarta kemarin (13/9). 

Asvi juga ikut mendampingi sejarawan Belanda Harry Poeze saat penggalian makam 
di Selopanggung, Kediri, itu. 

Seperti diwartakan, sebuah makam yang diduga berisi kerangka Tan Malaka di Desa 
Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, dibongkar Sabtu lalu (12/9). 
Seluruh kerangka yang diambil dari makam yang berada di lereng Gunung Wilis itu 
kemudian dibawa ke Jakarta untuk tes DNA. 

"'Prosesnya diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tiga minggu," ujar Ketua Tim 
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) dr Djaja Surya Atmadja di 
sela-sela pembongkaran. Pembongkaran makam itu merupakan buah penelitian Harry 
Poeze selama 22 tahun merunut jejak Tan Malaka. 

Lantas, dari mana Harry Poeze bisa menduga makam itu adalah makam tokoh yang 
ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 1963 itu. 

Kata Asvi, ada sebuah tugu kecil di pinggir Kali Brantas. Tepatnya di Desa 
Petok, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri. Di desa tersebut dibangun tugu untuk 
menandai tempat pembuangan jenazah Tan Malaka ke Kali Brantas. 

"Harry Poeze mewawancarai banyak saksi sejarah untuk merunut, apa memang 
jenazah Tan Malaka dibuang di Kali Brantas," katanya. 

Harry Poeze, kata Asvi, merunut ke mana saja perjalanan Tan Malaka. Kemudian, 
di mana tokoh yang dikenal berseberangan dengan Sjahrir itu ditangkap dan 
ditembak. 

"Harry Poeze menemukan bahwa Tan Malaka ditangkap kemudian ditembak di sekitar 
kaki Gunung Wilis. Itu yang akhirnya membawa dia ke desa Selopanggung," 
katanya. 

Kata Asvi, Tan Malaka ditangkap oleh Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, 
Divisi Brawijaya. Penangkapan Tan Malaka itu sebenarnya tidak atas perintah 
atasan Soekotjo. Namun, saat itu Soekotjo yang memimpin gerilya dan operasi di 
kawasan tersebut menemukan bahwa Tan Malaka adalah sosok yang dinilai 
membahayakan negara. 

"Apalagi, dia berbeda pendapat dengan Sjahrir. Zaman dulu di militer kan 
begitu. Kalau tidak sependapat, diculik," katanya. 

Tan Malaka pun ditangkap. Tanggal penangkapannya antara 19-21 Februari 1949. 
Asvi mengaku tak tahu pasti. Yang jelas, pada 21 Februari warga desa menemukan 
jenazah tersebut. Mereka kemudian menguburkannya sebagai "orang luar desa" yang 
meninggal tanpa identitas. 

Kemudian ada cerita ada sebuah makam yang dipindahkan di samping makam Mbah 
Selo, seorang pendiri Desa Selopanggung. Makam itu tanpa identitas. Nah, di 
makam Mbah Selo itu terdapat sebuah pohon Kamboja besar. 

"Dari situ kita tahu kalau makam di samping Kamboja besar itu adalah makam yang 
diduga jenazah Tan Malaka," katanya. (aga/oki/jp


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke