Refleksi : Agaknya DPD dalam kamus kekuasaan di NKRI tidak mempunyai fungsi 
menentukan selain menerima dan melaksanakan perintah pusat tachta kekuasaan.

Jawa Pos
[ Minggu, 04 Oktober 2009 ] 

Kiemas Terpilih jadi Ketua MPR tanpa Dukungan DPD 


JAKARTA - Taufiq Kiemas akhirnya terpilih menjadi ketua Majelis Permusyawaratan 
Rakyat (MPR). Sidang paripurna MPR tadi malam menyepakati paket pimpinan MPR 
yang terdiri atas Kiemas (ketua) dan empat wakil ketua. Wakil ketua itu adalah 
Melani Lemeina Suharli (Demokrat), Hajrianto Y. Tohari (Golkar), Lukman Hakim 
Saefuddin (PPP), dan Ahmad Farhan Hamid (Dewan Perwakilan Daerah/DPD).

Paket tersebut disepakati secara aklamasi setelah hampir seluruh fraksi DPR 
secara bulat mengajukan paket yang sama. Hanya PKS yang awalnya berniat 
mengajukan Hidayat Nur Wahid dan kelompok kerja DPD yang memilih tidak 
mengajukan paket calon.

Komposisi pasti pimpinan MPR itu baru muncul pada saat-saat akhir menjelang 
pemilihan. Saat lobi pimpinan terakhir pada sore sebelum pemilihan, nama Melani 
Leimena tiba-tiba masuk. Anggota Dewan Pembina DPP Partai Demokrat itu otomatis 
menggusur calon dari PKB.

Sejumlah anggota DPD yang memboikot, antara lain, Laode Ida (Sulawesi 
Tenggara), John Pierris (Maluku), dan Aksa Mahmud (Sulawesi Selatan). Aksi 
tersebut diikuti mayoritas anggota DPD. Di antara 132 senator, hanya 25 orang 
yang menghadiri sidang paripurna MPR. Bahkan, tak satu pun unsur pimpinan DPD 
yang tampak.

Sikap mereka itu didorong kekecewaan atas komposisi pimpinan MPR yang 
didominasi perwakilan anggota DPR. "Padahal, DPD sudah mengambil sikap harga 
mati, bahwa proporsi itu seharusnya 3:2 (tiga dari wakil DPR dan dua dari wakil 
DPD, Red)," kata Laode.

Sejak tahapan proses pemilihan MPR beberapa hari sebelumnya, DPD terus ngotot 
agar komposisi pimpinan memasukkan secara definitif dua anggota DPD dalam tata 
tertib pemilihan. Namun, usul tersebut hingga akhir pengesahan tatib tetap 
ditolak kalangan parpol. Mayoritas fraksi yang lebih menghendaki komposisi 4:1 
lebih sepakat sistem paket yang telah disepakati bersama tanpa menyebut hal itu.

Laode juga menyebut DPD sebenarnya punya paket alternatif yang memasukkan PKS 
dan PKB. Tokoh yang dijagokan menjadi ketua MPR adalah Hidayat Nur Wahid dari 
PKS. 

Menurut Laode, para anggota DPD sebagai suatu kekuatan politik tidak boleh 
di-faith accomplie oleh DPR atau parpol. ''Kami tidak ingin membangun demokrasi 
yang terkesan mencerminkan arogansi kekuatan mayoritas,'' ujarnya.

Ketidakhadiran unsur pimpinan DPD itu sempat diinterupsi anggota Fraksi 
Kebangkitan Bangsa (FKB) Ana Muawanah. Menanggapi hal tersebut, Ketua DPR 
Marzuki Alie menjelaskan bahwa dirinya sudah menghubungi Ketua DPD Irman 
GusĀ­man. Irman, kata Marzuki, masih memimpin rapat anggota DPD. ''(Irman 
bilang, Red) silakan dilanjutkan. Beliau tidak bisa meninggalkan rapat di 
DPD,'' kata Marzuki.

Ketua Fraksi Partai Demokrat (FPD) Anas Urbaningrum mengatakan, fraksinya 
mendorong Melani sebagai representasi politisi perempuan. ''Beliau mampu dan 
kompeten,'' kata Anas. Pemilihan tersebut langsung dirangkai dengan acara 
pelantikan. Dilaksanakan sekitar pukul 22.45, pelantikan yang dihadiri Presiden 
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu dilakukan langsung oleh Ketua Mahkamah Agung 
(MA) Harifin Tumpa. (dyn/pri/agm)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke