Jawa Pos
[ Sabtu, 03 Oktober 2009 ] 

Sejarah Panjang Gempa di Padang 

Oleh : Daryono

BELUM hilang ingatan masyarakat terhadap gempa bumi Tasikmalaya, Jawa Barat, 2 
September 2009, yang menelan banyak korban jiwa dan kerugin harta benda, kini 
kita dikejutkan kembali oleh gempa bumi dahsyat di Padang, Sumatera Barat. 
Gempa bumi berkekuatan 7,6 skala Richter yang berpusat di Samudera Hindia pada 
jarak 57 kilometer arah barat daya Kota Pariaman itu telah menimbulkan 
kerusakan sangat parah dan menewaskan ratusan orang di Kota Padang dan 
sekitarnya. 

Berdasar parameternya, gempa bumi tersebut diklasifikasikan sebagai gempa bumi 
aktivitas subduksi menengah yang terjadi pada litosfer dekat dengan bidang 
kontak antarlempeng Indoaustralia dan Eurasia.

Ditinjau dari sejarah kegempaan di zona gempa bumi Sumatera Barat, gempa bumi 
Padang yang terjadi saat ini sebenarnya hanyalah bagian dari sejarah panjang 
gempa bumi yang sudah berlangsung sejak masa lampau. Data sejarah gempa bumi 
kuat dan merusak di Padang merupakan cermin kondisi tektonik yang merupakan 
kawasan seismik aktif dan kompleks. 

Sejarah Gempa Bumi 

Berdasar catatan data sejarah kegempaan, daerah Sumatera Barat memang sudah 
beberapa kali mengalami gempa bumi merusak. Sejak 1822 hingga 2009, telah 
terjadi setidaknya 14 kali kejadian gempa bumi kuat dan merusak di Sumatera 
Barat dan di antaranya menyebabkan tsunami. Sejarah panjang gempa bumi merusak 
di Sumatera Barat, antara lain, adalah gempa bumi Padang (1822, 1835, 1981, 
1991, 2005), gempa bumi Singkarak (1943), gempa bumi Pasaman (1977), dan gempa 
bumi Agam (2003). Sedangkan gempa bumi yang diikuti gelombang tsunami terjadi 
di Mentawai (1861) dan Sori-Sori (1904).

Catatan paling tua menunjukkan bahwa di Padang pada 1822 telah terjadi gempa 
bumi kuat yang diikuti suara gemuruh yang berpusat di antara Gunung Talang dan 
Gunung Merapi. Meski tidak ada laporan secara rinci, catatan tersebut 
menyebutkan, gempa bumi itu dilaporkan menimbulkan kerusakan parah dan korban 
jiwa cukup banyak.

Pada 28 Juni 1926, gempa bumi dahsyat 7,8 skala Richter juga dilaporkan pernah 
mengguncang Padang Panjang. Akibat gempa bumi ini, tercatat korban tewas lebih 
dari 354 orang. Kerusakan parah terjadi di sekitar Danau Singkarak Bukit 
Tinggi, Danau Maninjau, Padang Panjang, Kabupaten Solok, Sawah Lunto, dan 
Alahan Panjang. Gempa bumi susulan mengakibatkan kerusakan di sebagian wilayah 
Danau Singkarak. Tercatat di Kabupaten Agam 472 rumah roboh, 57 orang tewas, 
dan 16 orang luka berat. Di Padang Panjang, 2.383 rumah roboh serta 247 orang 
tewas. Dampak gempa bumi juga menimbulkan banyak tanah terbelah, longsoran di 
Padang Panjang, Kubu Krambil, dan Simabur.

Gempa bumi kuat dengan magnitudo 5,6 skala Richter juga pernah terjadi pada 16 
Februari 2004. Getaran gempa bumi ini dirasakan di sebagian besar daerah 
Sumatera Barat hingga pada VI MMI (Modified Mercalli Intensity) yang 
menimbulkan korban tewas 6 orang dan meluluhlantakkan ratusan bangunan rumah di 
Kabupaten Tanah Datar.

Beberapa hari kemudian, tepatnya pada 22 Februari 2004, gempa bumi yang lebih 
besar kembali mengguncang Sumatera Barat dengan magnitudo 6 skala Richter. 
Gempa bumi ini mengakibatkan satu orang tewas dan beberapa orang luka parah 
serta ratusan rumah rusak berat di Kabupaten Pesisir Selatan.

Tektonik Sumatera Barat 

Kondisi seismik yang aktif dan kompleks zona gempa bumi Sumatera Barat tersusun 
atas dua generator gempa bumi. Pertama, pembangkit gempa bumi berasal dari 
kawasan barat Sumatera yaitu zone subduksi lempeng yang berpotensi menimbulkan 
gempa kuat yang sangat mungkin diikuti tsunami. 

Sebagian besar hiposenter gempa bumi yang dipicu aktivitas penyusupan lempeng 
berpusat di perairan sebelah barat Sumatera. Hal ini berkaitan dengan adanya 
pertemuan lempeng benua di dasar laut. Untuk kawasan Sumatera Barat, potensi 
gempa besar justru akibat aktivitas lempeng di zona subduksi yang dicirikan 
dengan magnitudo yang relatif lebih besar.

Generator gempa bumi kedua adalah zona patahan Sumatera atau yang populer 
dikenal sebagai Semangko Fault. Semangko Fault merupakan patahan sangat aktif 
di daratan yang membelah Pulau Sumatera menjadi dua, membentang sepanjang 
Pegunungan Bukit Barisan, dari Teluk Semangko di Selat Sunda sampai ke wilayah 
Aceh di utara. 

Gempa bumi berkekuatan 7,0 skala Richter yang mengejutkan masyarakat Sungai 
Penuh pada Kamis (1/10) yang episentrumnya sekitar 160 kilometer dari Kota 
Padang merupakan gempa bumi akibat aktivitas patahan Semangko. Tampaknya, 
pelepasan energi gempa bumi utama Padang berkekuatan 7,6 skala Richter yang 
dibangkitkan oleh aktivitas subduksi lempeng berdampak telah memicu aktivitas 
sesar di daratan.

Berdasar data sejarah gempa bumi Sumatera, dalam 100 tahun terakhir, sudah 
sekitar 20 gempa besar dan merusak terjadi di zona patahan ini. Berdasar 
penelitian, aktivitas gempa bumi di patahan Semangko rata-rata sekitar lima 
tahun sekali. Meski magnitudo gempa bumi di zona patahan itu relatif kecil, 
dampaknya bisa sangat berbahaya. Ini disebabkan sumbernya di daratan yang 
berdekatan dengan kawasan permukiman.

Sebagai kawasan yang sangat rawan gempa bumi, daerah Sumatera Barat akan selalu 
menjadi kawasan yang sering diguncang gempa bumi. Oleh karena itu, kita 
dituntut lebih serius dalam memperbaiki sistem penanganan bencana alam, baik 
dalam memperbaiki sistem pamantauan gempa bumi, pembuatan peta rawan gempa 
bumi, menyusun peta mikrozonasi gempa bumi, merencanakan bangunan tahan gempa 
bumi, maupun pendidikan masyarakat melalui sosialisasi mitigasi bahaya gempa 
bumi. Jatuhnya banyak korban gempa bumi sebenarnya disebabkan kurang pahamnya 
masyarakat dalam menghadapi gempa bumi. (*)

*) Daryono SSi, MSi, mahasiswa Program Doktor Ilmu Geografi UGM serta peneliti 
di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika 


 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke