http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/10/05/Opini/krn.20091005.178065.id.html



Bangsa yang Amnesia



Bonnie Triyana, sejarawan alumnus Universitas Diponegoro, Semarang. Menulis 
skripsi pembunuhan massal anggota dan simpatisan PKI di Purwodadi 1965-1969. 

Beberapa saat setelah bebas dari Rutan Salemba pada 1977, wartawan senior 
Joesoef Isak dibawa berkeliling Jakarta oleh anak-anaknya. Mereka ingin 
menunjukkan perubahan Jakarta selama Joesoef berada di dalam penjara. "Lihat, 
Yah, sekarang Jakarta banyak gedung tinggi," kata Joesoef (almarhum) menirukan 
anaknya. Mendengar itu, Joesoef menjawab, "Persoalannya terletak siapa yang 
punya gedung-gedung itu dan apakah gunanya buat rakyat? Membangun gedung itu 
bukan perkara susah. Datangkan saja investor, perintah tentara untuk menjaga 
kepentingan mereka. Dalam sekejap, semua sudah jadi." 

Tahun 1965, mengutip pendapat sejarawan Asvi Warman Adam, adalah tahun pembatas 
zaman. Setelah 1965, politik luar negeri berubah total. Dari non-blok menjadi 
pro-Barat, pengikut Amerika Serikat. Ekonomi berdikari berubah jadi ekonomi 
yang bergantung pada modal asing. Dalam bidang sosial-budaya juga terjadi 
perubahan sangat besar. Selain itu, menurut Asvi, pada masa lampau orang boleh 
mempersoalkan tanah, tapi pada masa Orde Baru penelitian tentang agraria 
hilang. Dalam bidang kebudayaan, sebelum 1965, kita bebas berpolemik. Sesudah 
1965, budaya kita seolah-olah satu, menjadi monolitik. Pendeknya, pada masa 
Orde Baru cuma ada penyeragaman, sementara keberagaman cuma ilusi. 

Pada era reformasi, secara perlahan gerbang kebebasan mulai dibuka. Namun, satu 
hal yang belum berubah adalah cara pandang sebagian masyarakat (dan penguasa) 
terhadap peristiwa G-30-S 1965 dan peristiwa pembunuhan massal jutaan anggota 
dan simpatisan Partai Komunis Indonesia pada kurun 1965-1969. Peristiwa G-30-S 
masih diwarnai perdebatan karena ada begitu banyak versi yang menyelubungi 
peristiwa itu, sementara fakta baru dan sahih mengenai siapa aktor utama di 
balik peristiwa itu belum juga ditemukan. 

Sejarawan John Roosa dalam bukunya, Dalih Pembunuhan Massal: G.30.S dan Kudeta 
Soeharto, mengatakan, tanpa informasi baru mengenai G-30-S, orang hanya dapat 
mengunyah ulang fakta-fakta yang sudah diketahui umum yang tidak memuaskan dan 
menambah spekulasi yang sudah demikian banyak. Kendati demikian, perdebatan 
masih saja menyoal siapa dalang pembunuhan jenderal dan sibuk menuduh tanpa 
dilengkapi bukti kuat, kecuali serangkaian asumsi yang nilai kebenarannya masih 
perlu dikaji lagi. Sementara itu, sebagian besar masyarakat (dan sebagian 
elite) telanjur percaya pada monoversi Orde Baru yang menjadikan PKI 
satu-satunya dalang. 

Roosa berpendapat bahwa Orde Baru adalah rezim yang setia kepada sesuatu yang 
bukan peristiwa, melainkan kepada suatu fantasi yang dibuatnya sendiri. Sebuah 
"Kesetiaan kepada citra khayali (simulakrum)," tulis Roosa, mengutip filsuf 
Alain Badiou. Sehingga "kebenaran" dalam narasi versi Orde Baru diupayakan agar 
bisa menjadi seolah-olah menyerupai peristiwa yang sesungguhnya. Dan itulah 
yang selama bertahun-tahun disebarluaskan dan diajarkan kepada masyarakat 
secara berulang-ulang sampai pada titik kebohongan itu menjadi kebenaran yang 
tak bisa lagi digugat bahkan dipertanyakan. 

Berbeda dengan peristiwa G-30-S yang selalu ramai dibahas pada tataran publik, 
peristiwa pembantaian massal anggota dan simpatisan PKI jarang dibahas. Setelah 
Orde Baru tumbang, mulai ada pembahasan lebih luas mengenai hal ini. Puluhan 
judul buku, dari karya sejarawan, memoar, sampai kesaksian korban, terbit. 
Anehnya, ada beberapa pihak yang menganggap penerbitan buku-buku tersebut 
sebagai bagian dari upaya membangkitkan kembali ajaran komunisme di Indonesia. 
Beberapa kali terjadi peristiwa pembakaran buku, penyitaan buku, dan malah pada 
2007 Kejaksaan Agung RI melarang penggunaan buku pelajaran sejarah yang 
menuliskan G-30-S tanpa embel-embel PKI. 

Selain pembakaran buku, para penulis sejarah yang memfokuskan penelitiannya 
pada soal peristiwa pembunuhan massal pun mendapat tuduhan sebagai "advokat 
PKI". Asvi Warman Adam, sejarawan yang getol mengungkap peristiwa ini, sempat 
dikirimi "surat peringatan" oleh sebuah organisasi antikomunis agar tidak lagi 
"membela PKI". Perlakuan itu menjadi kendala tersendiri bagi para peneliti yang 
memang beritikad melakukan penelitian serius untuk mengkaji tragedi yang 
disebut-sebut sebagai genosida terbesar seusai Perang Dunia II itu. Padahal 
seorang sejarawan yang menulis tentang sejarah kolonial bukan berarti pula ia 
pembela penjajahan. 

Selain itu, mulai muncul anggapan pada beberapa kalangan yang mewajarkan 
terjadinya pembunuhan massal kaum komunis di Indonesia sebagai perlakuan 
setimpal atas dosa pemberontakan PKI yang dilakukan sejak 1926, 1948, sampai 
1965. Pendapat itu jelas tidak berdasar dan ahistoris, karena setiap peristiwa 
memiliki latar belakang, dan pola-pola khusus kejadiannya tidak bisa 
digeneralisasi begitu saja. Kecuali pola umum yang serupa, revolusi di Prancis 
pada 1789 dengan revolusi di Indonesia 1945 punya jalan cerita yang berbeda. 

Pendapat yang kurang berimbang itu didukung oleh anggapan bahwa hampir bisa 
dipastikan seorang anggota atau simpatisan PKI adalah ateis, anti-Tuhan dan 
agama. Dalam beberapa penelitian yang saya lakukan di Grobogan, ada seorang 
modin (petugas masjid) yang turut ditahan di Pulau Buru. Seorang guru Katolik 
dihajar sampai tewas oleh pihak antikomunis pada saat itu. Beberapa tahun lalu 
terbit memoar Dari Gontor ke Pulau Buru karya Haji Ahmadi Mustahal, seorang 
muslim taat yang juga ditahan di Pulau Buru. Tidak ada korelasi antara keimanan 
seseorang dan partai politik afiliasinya. Masih lekat dalam ingatan tentang 
video adegan mesum seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang juga bertugas 
menjadi ketua bidang kerohanian di partainya. 

Sejarawan Baskara T. Wardaya mengatakan bahwa ingatan bangsa Indonesia selektif 
dan parsial. Ini akibat dari penyeragaman memori kolektif yang selalu mengacu 
pada keterangan resmi pemerintah. Hitam kata penguasa, (harus) hitam pula kata 
rakyat, itu yang terjadi pada masa Orde Baru. Berani tak membeo, hadiahnya 
hotel prodeo. Akibatnya, bangsa Indonesia jadi cepat lupa karena hegemoni 
ingatan terletak di tangan penguasa. 

Sampai kini pengaruh kebiasaan dari zaman Orde Baru itu rupanya masih terasa. 
Ketika mencuat wacana mengadili mendiang mantan presiden Soeharto, beberapa 
elite mengatakan sebaiknya masa lalu dilupakan dan menatap masa depan. Jawaban 
itu pula yang didapat ketika ada gagasan mengangkat kembali kasus-kasus 
pelanggaran berat hak asasi manusia di masa lalu. Berpikir masa depan tentu 
penting, tapi alangkah baiknya jika melaju ke masa depan tanpa dibebani masalah 
dari masa lalu. 

Ketidakmampuan mengingat, kebiasaan mengabaikan, dan ketidakmauan untuk tetap 
bertanya menjadi penyebab kenapa ada begitu banyak persoalan yang tak 
terselesaikan dilupakan begitu saja. Kebiasaan untuk melupakan (dan 
mengabaikan) itu pada akhirnya menimbulkan sikap permisif terhadap reproduksi 
kesalahan yang pernah terjadi pada masa lalu di masa kini. 

Walhasil, jangankan soal pembunuhan massal komunis tahun 1965-1969, 
pengungkapan pembunuhan Munir pun tak tuntas dan perlahan mulai terlupakan. 
Sampai detik ini tak satu pun orang (juga media massa) yang bertanya di mana 
koruptor Edi Tansil berada. Belum beres urusan Edi Tansil, Joko Tjandra 
menyusul kabur, menambah panjang daftar koruptor buron di negeri ini. 
Permasalahan itu hanyalah sekelumit dari begitu banyak kasus yang tak beres 
atau (sengaja) tidak dibereskan. Kalau sudah begini, masa depan seperti apa 
yang dapat diharapkan oleh rakyat Indonesia?


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke