http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2009121700590116

      Kamis, 17 Desember 2009 
     
      BURAS 
     
     
     
Pansus, Potret Elite Suka Berlebihan! 

       
      H. Bambang Eka Wijaya



      SEORANG anak menangis dalam acara ulang tahun di rumah tetangga. "Dibagi 
cokelat satu seorang sama dengan teman-teman lainnya, kok malah menangis?" 
tanya guru TK, sang pembawa acara.

      "Kalau memegang makanan cuma sebelah tangan dia menangis!" jelas baby 
sitter pendamping si anak. "Maunya kedua tangannya memegang!"

      "O.., bakat elitenya, suka berlebihan, sejak kecil sudah menonjol, ya?" 
sambut bu guru. "Seperti Pansus Skandal Bank Century, merekrut tenaga ahli 
pendamping tugasnya sampai 24 orang!"

      "Itu mah bukan mau kerja, tapi kenduri!" timpal seorang ibu yang menemani 
anaknya. "Mangan ora mangan asal ngumpul!"

      "Ora mangan gimana?" entak ibu lainnya. "Dana Pansus sudah mereka usulkan 
Rp5 miliar! Dengan honor tenaga ahli Rp7,5 juta seorang per bulan, untuk tenaga 
ahli saja sebulan Rp180 juta!"

      "Untuk anggota DPR yang terima lebih Rp40 juta sebulan, uang segitu 
kecil!" tukas ibu pertama. "Apalagi tenaga ahli itu amat mereka perlukan untuk 
menggantikan pekerjaan, agar mereka bisa tinggal terima bersih hasilnya dan 
dijamin lebih baik ketimbang kalau mereka kerjakan sendiri!"

      "Jadi dengan gaji anggota DPR yang besar itu, tugasnya malah disuruh 
kerjakan orang lain yang dibayar DPR dengan honor relatif jauh lebih kecil dari 
mereka?" timpal ibu kedua.

      "Mereka kan orang-orang terhormat, jadi tidak harus kerja keras untuk 
menyelesaikan tugasnya!" tegas ibu pertama. "Itulah potret elite kita, panutan 
bangsa! Jadi kalau warga masyarakat juga ikutan maunya dapat uang banyak tanpa 
kerja keras, sehingga siap berbuat apa saja demi meraih tongkrongan untuk itu, 
wajar saja! Semangat kerja keras jadi langka, karena bukan lagi penentu sukses 
yang diteladankan elite!"

      "Selain langka semangat kerja keras, juga tak bisa menajamkan fokus pada 
inti masalah!" timpal ibu kedua. "Lihat saja setiap Pansus rapat, bicaranya 
bertele-tele, melebar tak menentu, lantas terjebak ke masalah tetek-bengek, 
berputar-putar habis waktu di sudut yang tak relevan!"

      "Seperti semestinya fokus membahas sepeda, sepeda ada rodanya, pada roda 
ada pentil terbuat dari karet, lantas semua bicara membahas kebun karet!" tukas 
ibu pertama. "Lucunya, mereka menyadari itu, sehingga merekrut sebanyak mungkin 
staf ahli agar ada yang menangani inti masalah secara fokus! Dengan begitu, 
meski mereka tak bisa menghentikan kebiasaannya suka berlebihan, tugas mereka 
diharapkan bisa diselesaikan oleh tim ahli! Nantinya, mereka tinggal membacakan 
kesimpulan akhir dan rekomendasi yang telah disiapkan tim ahli!"

      "Sudah ibu-ibu, kita mulai acara ulang tahunnya!" potong ibu guru. "Kalau 
kita bicarakan sikap elite yang suka berlebihan, tak pernah habis! Karena, hal 
itu mereka lakukan berkelanjutan dengan setiap kali pakai modus baru!" n
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke