http://www.riaupos.com/berita.php?act=full&id=10647&kat=11
Tajuk Rencana Seteru Elit Kapan Berakhir? 17 Desember 2009 DRAMA cicak dan buaya cukup membuat energi sebagian elemen penting di negeri ini terkuras. Tak terkecuali ma-syarakat secara luas. Saking seriusnya, Presiden SBY pun mesti turun tangan. Walau kesan yang muncul ke publik justru tidak seperti yang diharapkan. Tapi paling tidak, drama di awal kepemimpinan SBY Jilid II ini meninggalkan kesan mendalam di hati publik. Bahkan, kesan yang muncul ke permukaan, bila drama seteru antar elit ini tidak cepat diselesaikan, bukan hanya hati publik yang tercabik, tingkat kepercayaan publik terhadap lembaga dan aparat penegak hukum pun akan terus tergerus. Untung saja drama itu berakhir. Walau ada pihak-pihak yang merasa kurang puas, akan tetapi patut juga disyukuri, satu babak drama perseteruan punya ujung juga. Ya, persoalan puas atau tidak puas sebaiknya biarlah diselesaikan sesuai dengan aturan dan koridor hukum yang ada. Namun sedih bercampur duka. Karena belum lagi sepenuhnya bekas luka hati publik itu kering, saat ini muncul lagi seteru baru di kalangan elit. Bailout Gate Bank Century senilai Rp6,7 triliun menggelinding begitu cepat bak bola salju (snowball). Lagi-lagi yang terlibat para pejabat publik, yang semestinya menunjukkan sikap dan kesan baik ke publik. Tapi, justru yang terjadi malah sebaliknya. Hawa panas mulai terasa, ketika elit politik pun mulai ikut campur di ranah ini. Pansus di DPR RI terbentuk, dan nama Presiden pun sempat terbawa-bawa. Isu-isu miring pun mulai beredar, sampai memunculkan statement kalau seteru ini sengaja dihembuskan untuk menurunkan citra satu kelompok elit dan mendongkrak popularitas elit yang lain. Hmmm, entahlah. Pertanyaannya, akankah hati publik kembali tercabik-cabik? Karena publik selalu dihadapkan pada drama-drama seteru antar elit seperti ini. Sampai kapan seteru ini akan berakhir? Karena kesan yang muncul saat ini, saking sibuknya para elit mengurusi perseteruan antar mereka, nasib publik secara luas cenderung terabaikan. Saatnya kalangan elit negeri ini mafhum dengan perasaan publiknya. Semoga.*** [Non-text portions of this message have been removed]
