http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009121700590160

      Kamis, 17 Desember 2009 
     
      OPINI 
     
     
     
Saatnya Berubah Jenderal Arif Sugiono

      Staf Pengajar Political Marketing FISIP Unila

      Sejarah kepemimpinan Bangsa Indonesia telah mencatat bahwa sejak merdeka, 
kita telah mengalami enam kali periode kepemimpinan nasional. Mulai dari 
Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, Abdurahman Wahid, Megawati Soekarnopputri, 
dan yang telah berlangsung sampai saat ini, dan mudah-mudahan sampai 2014 
adalah Susilo Bambang Yudhoyono/SBY. (dengan catatan tahun 2012 tidak terjadi 
kiamat dan Century Gate, tidak sampai meng-impeachment Presiden)

      Tentunya kita menyadari bahwa setiap pemimpin (dalam hal ini Presiden) 
akan mempunyai gaya kepemimpinan yang relatif berbeda antara satu pemimpin dan 
pemimpin yang lain. Karena pada dasarnya gaya kepemimpinan seseorang 
dipengaruhi oleh beberapa hal yang dominan di antaranya adalah kepribadian sang 
pemimpin, dinamika lingkungan politik pada saat memimpin, strategi politik yang 
diambil, ideologi dari partai politiknya, latar belakang budaya, pendidikan dan 
pekerjaannya.

      Pembicaraan yang akhir-akhir ini kembali hangat dibicarakan, adalah gaya 
kepemimpinan SBY yang dianggap banyak kalangan "kambuh" lagi. Yaitu gaya-gaya 
melankolis. Tentunya hal ini sangat kontraproduktif dengan latar belakang 
pekerjaan SBY sebagai militer, yang identik dengan tegas, tanggap, trengginas, 
dan keras. Walaupun sudah menjadi seorang purnawirawan, pembaca tentunya 
setuju, kalau saat ini tidak ada salahnya tetap kita panggil Jenderal.

      Catatan penulis dalam satu tahun terakhir, setidak-tidaknya Jenderal kita 
yang satu ini sudah melakukan beberapa gaya politik melankolis. Pertama, pada 
saat kampanye Presiden 2009. Kedua, peristiwa ancaman para teroris terhadap 
dirinya bersamaan peristiwa J.W. Mariot. Ketiga, momen penyusunan Kabinet 
Indonesia bersatu jilid II. Dan keempat, kekhawatiran adanya gerakan politik 
dalam aksi peringatan Hari Korupsi dan HAM sedunia pada tanggal 9 dan 10 
Desember 2009

      Kepribadian jenderal yang cenderung melankolis, dengan karakter yang 
sangat berperasaan berimplikasi pada kepemimpinan yang jenderal lakukan, yaitu 
mengutamakan kesantunan dan menjauhi konflik dengan orang lain. Kepemimpinan 
seperti ini memang mempunyai kelebihan, di antaranya popularitas jenderal akan 
selalu terjaga di mata masyarakat, karena karakteristik masyarakat kita yang 
lebih mengedepankan perasaan daripada melihat suatu realita.

      Tapi kadangkala, gaya kepemimpinan seperti ini akan sulit mencarikan 
sebuah solusi yang mendasar terhadap sebuah masalah. Selain itu, gaya 
kepemimpinan seperti ini kurang efisien karena terlalu bertele-tele. Penundaan 
pengambilan keputusan juga sering menimbullkan persoalan baru. Yang lebih fatal 
lagi, karena terlalu lama mengambil keputusan justru keputusan yang dibuat 
telah kehilangan momen sehingga tidak lagi efektif. Ibarat sebuah penyakit, 
makin ditunda pengobatannya, makin besar dampak patologisnya dan makin kompleks 
penanganannya.

      Krisis multidemensi yang telah lama menggeroti bangsa ini yang berakibat 
pada persoalan mendasar kebangsaan (kedaulatan yang terkikis, ancaman separatis 
di beberapa daerah, korupsi yang menggila, bobroknya mentalitas birokrat) 
menuntut pemimpin yang bisa mengambil keputusan yang cepat, tepat, dan tegas. 
Kondisi bangsa yang memprihatinkan membutuhkan pemimpin yang mampu membuat 
terobosan signifikan. Kompleksitas permasalahan bangsa harus segera ditangani 
dengan langkah nyata dan tidak perlu banyak berwacana bahkan selalu mengeluh 
dan khawatir.

      Untuk itu, tidak ada salahnya apabila Jenderal melakukan perubahan dalam 
gaya kepemimpinan. Kecenderungan untuk terlalu berhati-hati dalam mengambil 
keputusan, menjahui konflik, tidak berani mengambil resiko harus segera 
direduksi. Memang benar bahwa dalam mengambil keputusan perlu analisis 
mendalam, tapi ini tidak menjadi alasan untuk menunda-nunda pengambilan 
keputusan. Sekecil apa pun risikonya, sebuah keputusan harus diambil oleh 
seorang pemimpin.

      Jenderal harus ingat, bahwa Jenderal memiliki otoritas yang kuat dalam 
mengambil keputusan. Jenderal telah dipilih mayoritas rakyat Indonesia, 
Jenderal dari parpol pemenag pemilu. Jenderal berada pada tatanan pemerintahan 
yang menganut sistem presidential, dengan memberikan kewenangan kuat (melalui 
berbagai hak prerogatif) bagi presiden untuk mengambil kebijakan. Jenderal juga 
harus belajar untuk mengurangi kompromi dengan kekuatan politik yang selalu 
mengambil keuntungan dari penundaan sebuah keputusan.

      Sebagai pemimpin bangsa yang besar dengan beragam persoalan, maka 
Jenderal harus bisa lebih tegas dan aktif. Mampu membuat keputusan yang cepat 
dan tepat di tengah kondisi dinamika politik yang semakin dinamis. Akan banyak 
keputusan yang tidak memuaskan pihak tertentu, tapi bagaimanapun juga demi 
kepentingan bangsa dan negara, keputusan harus tetap diambil sekalipun itu 
pahit. Dan yang lebih penting, Jenderal juga harus bisa memastikan bahwa 
keputusan tersebut benar-benar dijalankan para menteri dan pejabat lainnya.

      Rasa empati Jenderal yang tinggi terhadap penderitaan dan kemiskinan 
rakyat seharusnya menjadi motivasi kuat untuk mengambil kebijakan yang cepat 
dan tepat demi kepentingan rakyat. Justru sangat tidak etis ketika penderitaan 
masyarakat yang semakin berat, Jenderal masih berharap empati dari rakyat. 
Justru kita semuanya masih berharap dalam sisa waktu kepemimpinan yang ada, 
Jenderal dapat merubah kepemimpinannya dari terkesan peragu menjadi inisiator 
yang tangguh. Dalam konteks perpolitikan, jika Jenderal tetap mempertahankan 
gaya kepemimpinan poco-poco (sebagaimana yang diistilahkan pihak oposisi), 
tidak menutup kemungkinan Jenderal akan gagal mendapatkan rapor yang 
membanggakan dalam catatan sejarah kepemimpinan nasional. n
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke