Jawa Pos
 

[ Kamis, 17 Desember 2009 ] 


Panglima OPM Kelly Kwalik Tewas Tertembak 
Polisi Yakin Kelly Kwalik, Tetap Tunggu Tes DNA 

TIMIKA - Operasi tim khusus Mabes Polri berhasil menewaskan panglima Tentara 
Pembebasan Nasional Operasi Papua Merdeka (TPN-OPM) Kelly Kwalik. Selain itu, 
tim operasi khusus menangkap lima orang yang diduga sebagai anggota 
komplotannya. 

Hingga tadi malam, tim identifikasi forensik Mabes Polri masih mengecek 
identitas secara lengkap. ''Tim akan berada di Jayapura sampai selesai. 
Peralatan juga sudah dibawa ke sana,'' jelas Kepala Divisi Humas Mabes Polri 
Irjen Nanan Soekarna kemarin. 

Jika peralatan identifikasi di Jayapura tidak cukup, sampel akan diterbangkan 
ke Jakarta. ''Tapi, itu nanti kalau di Jayapura memang kurang,'' katanya.

Kelly roboh tertembus peluru anggota Densus 88 Mabes Polri pada Rabu (16/12) 
dini hari di sebuah rumah di RT 2, RW 1, Jalan Freeport Lama, Kompleks 
Gorong-Gorong, Timika. ''Penggerebekan dilakukan sekitar pukul 03.00 WIT,'' 
ungkapnya. 

Kelly terluka dan sempat dievakuasi di Klinik Kuala Kencana guna dirawat. 
Namun, sekitar pukul 08.00, dia meninggal karena mengalami perdarahan hebat. 
Kelly tertembak pada pinggang kiri hingga menembus pangkal paha bagian kiri. 

Tim khusus yang meringkus gembong OPM yang diburu sejak 1996 itu merupakan 
gabungan dari kesatuan Brigade Mobil Mabes Polri, Densus 88, dan Badan 
Intelijen Keamanan Mabes Polri. ''Tim dikoordinasi oleh Deputi Operasi Kapolri 
Irjen S.Y. Wenas,'' jelas Nanan. 

Posisi Kelly berhasil dikunci setelah tim khusus melakukan investigasi dan 
penyelidikan tertutup selama dua bulan. ''Bukan hanya KK (Kelly Kwalik, Red) 
yang diburu, tapi juga empat orang lainnya,'' tegasnya. 

Berdasar informasi yang diperoleh tim, Kelly sering singgah di sebuah rumah di 
hutan sekitar Mile 26 kawasan Freeport, Mimika. ''Setelah dipastikan valid dan 
akurat, tim bergerak ke lokasi,'' ungkap mantan Kapolda Sumatera Utara 
tersebut. 

Awalnya tim sudah berusaha memberi peringatan agar semua penghuni rumah keluar 
dengan tangan di atas kepala. ''KK berusaha keluar dari pintu belakang. Tapi, 
karena terkepung, dia kembali lagi ke dalam rumah dengan menodongkan revolver 
kepada petugas,'' ujarnya.

Karena dinilai membahayakan keselamatan petugas, dia terpaksa ditembak. Kelly 
dilaporkan berusaha melarikan diri sambil menodongkan senjata api jenis 
revolver. ''Dia terjatuh dalam posisi masih memegang revolver,'' kata Nanan. 

Oleh tim, Kelly dilarikan ke Klinik Kuala Kencana. ''Sekitar lima jam kemudian 
atau pukul 08.00, dia dinyatakan meninggal,'' ucapnya. 

Di rumah itu ada lima orang lain. Yakni, Jeep Murip, 24; Noni Sanawarme, 35; 
Martimus Katarame, 21; Yosep Kwantik, 60; dan Yoni Murip yang masih berusia 10 
tahun. ''Lima orang itu dibawa ke Polres Mimika. Untuk pengembangan penyidikan, 
mereka akan dibawa ke Jakarta,'' imbuh Kapolda Papua Irjen Pol Bekto Suprapto 
saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos (Jawa Pos Group).

Tim khusus juga menyita dokumen OPM yang menyatakan bahwa Kelly adalah pimpinan 
OPM. Berdasar data di lapangan yang dihimpun Radar Timika (Jawa Pos Group), tim 
khusus berhasil menemukan beberapa barang bukti di rumah tersebut.

Di antaranya, tiga butir peluru kaliber 5,56 mm; 28 butir peluru revolver 
kaliber 38; serta sebuah senjata api revolver jenis S & W kaliber 38. Ada pula 
senjata tradisional sebilah celurit, dua busur panah, dan dua belas anak panah. 
''Sekarang, prioritas kami adalah memastikan identitas jasad dan melanjutkan 
pengejaran,'' tegas Nanan.

Empat orang yang disebut sebagai lingkaran terdekat Kelly diduga sudah 
mengetahui penjajakan oleh tim khusus tersebut. ''Identitasnya belum bisa 
dipublikasikan,'' katanya. 

Nama Kelly tenar sejak 1996. Saat itu, 8 Januari 1996, pasukan Kelly menyandera 
Adinda Saraswati, Jualita Maureen Tanasale (keduanya anggota Biology Science 
Club Universitas Nasional), serta Markus Warip dari Universitas Cenderawasih. 
Mereka adalah tiga sandera Indonesia. 

Kemudian, peneliti dari Cambridge University Daniel Start, William P. Oates, 
Annete van der Kolk, dan Anna McIvor. Lalu, Mark van der Wal (orang Belanda 
dari World Wide Fund for Nature) serta Martha Klein dari UNESCO. Mereka 
diselamatkan tim Kopassus pimpinan Prabowo Subianto pada 15 Mei 1996. Dua orang 
meninggal dalam penyanderaan itu. Yakni, Yosias Matheis Lasamahu dan Navy 
Panekenan.

Sandera yang selamat mengenali Kelly sebagai pribadi yang keras dan tak kenal 
kompromi. Dia dikelilingi oleh pasukan khusus dari Suku Amome yang tinggal di 
sekitar Tembagapura. Pasukan Amome dikenal ahli melempar kapak dan memanah. 

Nama Kelly juga disebut-sebut berada di balik peristiwa penembakan di Mile 62 
pada 31 Agustus 2002. Saat itu ada 14 korban. Tiga di antaranya meninggal. 
Kasus tersebut terungkap pada 2004 dengan tersangka Antonius Wamang. Dari 
berita acara pemeriksaan Wamang disebutkan, operasi penyerangan tersebut 
dilakukan atas perintah Kelly. 

Berdasar itu, nama Kelly resmi masuk daftar pencarian orang Mabes Polri sejak 
2006. Yang terbaru, namanya disebut-sebut sebagai dalang penembakan beruntun 
antara 8 Juli 209 sampai 2 November 2009. Dalam rentang waktu itu, delapan 
orang dinyatakan tewas dan 37 lainnya terluka. 

Polda Papua meringkus komplotan Simon Benai yang beranggota tujuh orang. Dari 
keterangan selama pemeriksaan, serangan-serangan itu juga dikoordinasi oleh 
Kelly. 

Pada 15 Juli 2009, Kelly menyebar bantahan melalui pernyataan resmi di 
internet. Dalam situs www.fpcn-global.org, Kelly menyebut dirinya berpangkat 
jenderal dan memimpin Markas Komando Pembebasan (Makodap) III. Dia menuding TNI 
dan Polri justru mendalangi serangkaian penembakan itu untuk menyudutkan OPM.

Polisi, kata Irjen Nanan Soekarna, tidak akan menambah pasukan di Papua setelah 
Kelly tertembak. ''Laporan dari Polda Papua, kekuatan sudah cukup. Kalau 
dibutuhkan, nanti kami pertimbangkan lagi. Tapi, itu nanti,'' ujarnya. 
(rdl/fal/jpnn/iro)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke