Waktu Pemilu yang lalu, rakyat Indonesia dengan sadar memilih Partai Demokrat 
sebagai Partai Pemenang dan SBY sebagai Presiden.  Inilah konsekuensi kalau 
memilih hanya berdasarkan Pesona saja.
Oleh karena itu terimalah resiko ini. Kalau memang tidak mau terima resiko, ya 
silahkan protes kepada yang dipilihnya.




________________________________
From: sunny <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Friday, December 18, 2009 6:05:09
Subject: [inti-net] Saatnya Berubah Jenderal

  
http://www.lampungp ost.com/cetak/ berita.php? id=2009121700590 160

Kamis, 17 Desember 2009 

OPINI 



Saatnya Berubah Jenderal Arif Sugiono

Staf Pengajar Political Marketing FISIP Unila

Sejarah kepemimpinan Bangsa Indonesia telah mencatat bahwa sejak merdeka, kita 
telah mengalami enam kali periode kepemimpinan nasional. Mulai dari Soekarno, 
Soeharto, B.J. Habibie, Abdurahman Wahid, Megawati Soekarnopputri, dan yang 
telah berlangsung sampai saat ini, dan mudah-mudahan sampai 2014 adalah Susilo 
Bambang Yudhoyono/SBY. (dengan catatan tahun 2012 tidak terjadi kiamat dan 
Century Gate, tidak sampai meng-impeachment Presiden)

Tentunya kita menyadari bahwa setiap pemimpin (dalam hal ini Presiden) akan 
mempunyai gaya kepemimpinan yang relatif berbeda antara satu pemimpin dan 
pemimpin yang lain. Karena pada dasarnya gaya kepemimpinan seseorang 
dipengaruhi oleh beberapa hal yang dominan di antaranya adalah kepribadian sang 
pemimpin, dinamika lingkungan politik pada saat memimpin, strategi politik yang 
diambil, ideologi dari partai politiknya, latar belakang budaya, pendidikan dan 
pekerjaannya.

Pembicaraan yang akhir-akhir ini kembali hangat dibicarakan, adalah gaya 
kepemimpinan SBY yang dianggap banyak kalangan "kambuh" lagi. Yaitu gaya-gaya 
melankolis. Tentunya hal ini sangat kontraproduktif dengan latar belakang 
pekerjaan SBY sebagai militer, yang identik dengan tegas, tanggap, trengginas, 
dan keras. Walaupun sudah menjadi seorang purnawirawan, pembaca tentunya 
setuju, kalau saat ini tidak ada salahnya tetap kita panggil Jenderal.

Catatan penulis dalam satu tahun terakhir, setidak-tidaknya Jenderal kita yang 
satu ini sudah melakukan beberapa gaya politik melankolis. Pertama, pada saat 
kampanye Presiden 2009. Kedua, peristiwa ancaman para teroris terhadap dirinya 
bersamaan peristiwa J.W. Mariot. Ketiga, momen penyusunan Kabinet Indonesia 
bersatu jilid II. Dan keempat, kekhawatiran adanya gerakan politik dalam aksi 
peringatan Hari Korupsi dan HAM sedunia pada tanggal 9 dan 10 Desember 2009

Kepribadian jenderal yang cenderung melankolis, dengan karakter yang sangat 
berperasaan berimplikasi pada kepemimpinan yang jenderal lakukan, yaitu 
mengutamakan kesantunan dan menjauhi konflik dengan orang lain. Kepemimpinan 
seperti ini memang mempunyai kelebihan, di antaranya popularitas jenderal akan 
selalu terjaga di mata masyarakat, karena karakteristik masyarakat kita yang 
lebih mengedepankan perasaan daripada melihat suatu realita.

Tapi kadangkala, gaya kepemimpinan seperti ini akan sulit mencarikan sebuah 
solusi yang mendasar terhadap sebuah masalah. Selain itu, gaya kepemimpinan 
seperti ini kurang efisien karena terlalu bertele-tele. Penundaan pengambilan 
keputusan juga sering menimbullkan persoalan baru. Yang lebih fatal lagi, 
karena terlalu lama mengambil keputusan justru keputusan yang dibuat telah 
kehilangan momen sehingga tidak lagi efektif. Ibarat sebuah penyakit, makin 
ditunda pengobatannya, makin besar dampak patologisnya dan makin kompleks 
penanganannya.

Krisis multidemensi yang telah lama menggeroti bangsa ini yang berakibat pada 
persoalan mendasar kebangsaan (kedaulatan yang terkikis, ancaman separatis di 
beberapa daerah, korupsi yang menggila, bobroknya mentalitas birokrat) menuntut 
pemimpin yang bisa mengambil keputusan yang cepat, tepat, dan tegas. Kondisi 
bangsa yang memprihatinkan membutuhkan pemimpin yang mampu membuat terobosan 
signifikan. Kompleksitas permasalahan bangsa harus segera ditangani dengan 
langkah nyata dan tidak perlu banyak berwacana bahkan selalu mengeluh dan 
khawatir.

Untuk itu, tidak ada salahnya apabila Jenderal melakukan perubahan dalam gaya 
kepemimpinan. Kecenderungan untuk terlalu berhati-hati dalam mengambil 
keputusan, menjahui konflik, tidak berani mengambil resiko harus segera 
direduksi. Memang benar bahwa dalam mengambil keputusan perlu analisis 
mendalam, tapi ini tidak menjadi alasan untuk menunda-nunda pengambilan 
keputusan. Sekecil apa pun risikonya, sebuah keputusan harus diambil oleh 
seorang pemimpin.

Jenderal harus ingat, bahwa Jenderal memiliki otoritas yang kuat dalam 
mengambil keputusan. Jenderal telah dipilih mayoritas rakyat Indonesia, 
Jenderal dari parpol pemenag pemilu. Jenderal berada pada tatanan pemerintahan 
yang menganut sistem presidential, dengan memberikan kewenangan kuat (melalui 
berbagai hak prerogatif) bagi presiden untuk mengambil kebijakan. Jenderal juga 
harus belajar untuk mengurangi kompromi dengan kekuatan politik yang selalu 
mengambil keuntungan dari penundaan sebuah keputusan.

Sebagai pemimpin bangsa yang besar dengan beragam persoalan, maka Jenderal 
harus bisa lebih tegas dan aktif. Mampu membuat keputusan yang cepat dan tepat 
di tengah kondisi dinamika politik yang semakin dinamis. Akan banyak keputusan 
yang tidak memuaskan pihak tertentu, tapi bagaimanapun juga demi kepentingan 
bangsa dan negara, keputusan harus tetap diambil sekalipun itu pahit. Dan yang 
lebih penting, Jenderal juga harus bisa memastikan bahwa keputusan tersebut 
benar-benar dijalankan para menteri dan pejabat lainnya.

Rasa empati Jenderal yang tinggi terhadap penderitaan dan kemiskinan rakyat 
seharusnya menjadi motivasi kuat untuk mengambil kebijakan yang cepat dan tepat 
demi kepentingan rakyat. Justru sangat tidak etis ketika penderitaan masyarakat 
yang semakin berat, Jenderal masih berharap empati dari rakyat. Justru kita 
semuanya masih berharap dalam sisa waktu kepemimpinan yang ada, Jenderal dapat 
merubah kepemimpinannya dari terkesan peragu menjadi inisiator yang tangguh. 
Dalam konteks perpolitikan, jika Jenderal tetap mempertahankan gaya 
kepemimpinan poco-poco (sebagaimana yang diistilahkan pihak oposisi), tidak 
menutup kemungkinan Jenderal akan gagal mendapatkan rapor yang membanggakan 
dalam catatan sejarah kepemimpinan nasional. n


[Non-text portions of this message have been removed]


 


      New Email names for you! 
Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke