Dulu pada terpesona, sehingga jargon "Lanjutkan!" jadi begitu populer. Padahal, 
pasti banyak yang gak ngerti apa yang mau dilanjutkan. Ekonomi keliatannya 
bagus, padahal banyak pengangguran terselubung, banyak hal2 yang kurang kena di 
hati - terpaksa harus dipendam dalam hati.

Kini, setelah jalan beberapa bulan, kita sudah berpikir kenapa dulu milih ini, 
kenapa gak milih itu. hati kecil mulai protes, lama lama hati kecil berontak. 
namun nasi sudah jadi bubur, kita sudah sepakat dengan lanjutkan, so...... mau 
gak mau, ya lanjutkan saja.

Perkara hasilnya makin parah, atau mungkin membaik, itu perkara belakang. Namun 
itu konsekuensi yang harus kita bayar mahal. Semoga setelah ini, bangsa ini 
akan makin cerdas dan kritis sebelum memilih.



--- In [email protected], bambang purwanto <mazpoor2...@...> wrote:
>
> Waktu Pemilu yang lalu, rakyat Indonesia dengan sadar memilih Partai Demokrat 
> sebagai Partai Pemenang dan SBY sebagai Presiden.  Inilah konsekuensi kalau 
> memilih hanya berdasarkan Pesona saja.
> Oleh karena itu terimalah resiko ini. Kalau memang tidak mau terima resiko, 
> ya silahkan protes kepada yang dipilihnya.
> 
> 
> 
> 
> ________________________________
> From: sunny <am...@...>
> To: undisclosed-recipi...@...
> Sent: Friday, December 18, 2009 6:05:09
> Subject: [inti-net] Saatnya Berubah Jenderal
> 
>   
> http://www.lampungp ost.com/cetak/ berita.php? id=2009121700590 160
> 
> Kamis, 17 Desember 2009 
> 
> OPINI 
> 
> 
> 
> Saatnya Berubah Jenderal Arif Sugiono
> 
> Staf Pengajar Political Marketing FISIP Unila
> 
> Sejarah kepemimpinan Bangsa Indonesia telah mencatat bahwa sejak merdeka, 
> kita telah mengalami enam kali periode kepemimpinan nasional. Mulai dari 
> Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, Abdurahman Wahid, Megawati Soekarnopputri, 
> dan yang telah berlangsung sampai saat ini, dan mudah-mudahan sampai 2014 
> adalah Susilo Bambang Yudhoyono/SBY. (dengan catatan tahun 2012 tidak terjadi 
> kiamat dan Century Gate, tidak sampai meng-impeachment Presiden)
> 
> Tentunya kita menyadari bahwa setiap pemimpin (dalam hal ini Presiden) akan 
> mempunyai gaya kepemimpinan yang relatif berbeda antara satu pemimpin dan 
> pemimpin yang lain. Karena pada dasarnya gaya kepemimpinan seseorang 
> dipengaruhi oleh beberapa hal yang dominan di antaranya adalah kepribadian 
> sang pemimpin, dinamika lingkungan politik pada saat memimpin, strategi 
> politik yang diambil, ideologi dari partai politiknya, latar belakang budaya, 
> pendidikan dan pekerjaannya.
> 
> Pembicaraan yang akhir-akhir ini kembali hangat dibicarakan, adalah gaya 
> kepemimpinan SBY yang dianggap banyak kalangan "kambuh" lagi. Yaitu gaya-gaya 
> melankolis. Tentunya hal ini sangat kontraproduktif dengan latar belakang 
> pekerjaan SBY sebagai militer, yang identik dengan tegas, tanggap, 
> trengginas, dan keras. Walaupun sudah menjadi seorang purnawirawan, pembaca 
> tentunya setuju, kalau saat ini tidak ada salahnya tetap kita panggil 
> Jenderal.
> 
> Catatan penulis dalam satu tahun terakhir, setidak-tidaknya Jenderal kita 
> yang satu ini sudah melakukan beberapa gaya politik melankolis. Pertama, pada 
> saat kampanye Presiden 2009. Kedua, peristiwa ancaman para teroris terhadap 
> dirinya bersamaan peristiwa J.W. Mariot. Ketiga, momen penyusunan Kabinet 
> Indonesia bersatu jilid II. Dan keempat, kekhawatiran adanya gerakan politik 
> dalam aksi peringatan Hari Korupsi dan HAM sedunia pada tanggal 9 dan 10 
> Desember 2009
> 
> Kepribadian jenderal yang cenderung melankolis, dengan karakter yang sangat 
> berperasaan berimplikasi pada kepemimpinan yang jenderal lakukan, yaitu 
> mengutamakan kesantunan dan menjauhi konflik dengan orang lain. Kepemimpinan 
> seperti ini memang mempunyai kelebihan, di antaranya popularitas jenderal 
> akan selalu terjaga di mata masyarakat, karena karakteristik masyarakat kita 
> yang lebih mengedepankan perasaan daripada melihat suatu realita.
> 
> Tapi kadangkala, gaya kepemimpinan seperti ini akan sulit mencarikan sebuah 
> solusi yang mendasar terhadap sebuah masalah. Selain itu, gaya kepemimpinan 
> seperti ini kurang efisien karena terlalu bertele-tele. Penundaan pengambilan 
> keputusan juga sering menimbullkan persoalan baru. Yang lebih fatal lagi, 
> karena terlalu lama mengambil keputusan justru keputusan yang dibuat telah 
> kehilangan momen sehingga tidak lagi efektif. Ibarat sebuah penyakit, makin 
> ditunda pengobatannya, makin besar dampak patologisnya dan makin kompleks 
> penanganannya.
> 
> Krisis multidemensi yang telah lama menggeroti bangsa ini yang berakibat pada 
> persoalan mendasar kebangsaan (kedaulatan yang terkikis, ancaman separatis di 
> beberapa daerah, korupsi yang menggila, bobroknya mentalitas birokrat) 
> menuntut pemimpin yang bisa mengambil keputusan yang cepat, tepat, dan tegas. 
> Kondisi bangsa yang memprihatinkan membutuhkan pemimpin yang mampu membuat 
> terobosan signifikan. Kompleksitas permasalahan bangsa harus segera ditangani 
> dengan langkah nyata dan tidak perlu banyak berwacana bahkan selalu mengeluh 
> dan khawatir.
> 
> Untuk itu, tidak ada salahnya apabila Jenderal melakukan perubahan dalam gaya 
> kepemimpinan. Kecenderungan untuk terlalu berhati-hati dalam mengambil 
> keputusan, menjahui konflik, tidak berani mengambil resiko harus segera 
> direduksi. Memang benar bahwa dalam mengambil keputusan perlu analisis 
> mendalam, tapi ini tidak menjadi alasan untuk menunda-nunda pengambilan 
> keputusan. Sekecil apa pun risikonya, sebuah keputusan harus diambil oleh 
> seorang pemimpin.
> 
> Jenderal harus ingat, bahwa Jenderal memiliki otoritas yang kuat dalam 
> mengambil keputusan. Jenderal telah dipilih mayoritas rakyat Indonesia, 
> Jenderal dari parpol pemenag pemilu. Jenderal berada pada tatanan 
> pemerintahan yang menganut sistem presidential, dengan memberikan kewenangan 
> kuat (melalui berbagai hak prerogatif) bagi presiden untuk mengambil 
> kebijakan. Jenderal juga harus belajar untuk mengurangi kompromi dengan 
> kekuatan politik yang selalu mengambil keuntungan dari penundaan sebuah 
> keputusan.
> 
> Sebagai pemimpin bangsa yang besar dengan beragam persoalan, maka Jenderal 
> harus bisa lebih tegas dan aktif. Mampu membuat keputusan yang cepat dan 
> tepat di tengah kondisi dinamika politik yang semakin dinamis. Akan banyak 
> keputusan yang tidak memuaskan pihak tertentu, tapi bagaimanapun juga demi 
> kepentingan bangsa dan negara, keputusan harus tetap diambil sekalipun itu 
> pahit. Dan yang lebih penting, Jenderal juga harus bisa memastikan bahwa 
> keputusan tersebut benar-benar dijalankan para menteri dan pejabat lainnya.
> 
> Rasa empati Jenderal yang tinggi terhadap penderitaan dan kemiskinan rakyat 
> seharusnya menjadi motivasi kuat untuk mengambil kebijakan yang cepat dan 
> tepat demi kepentingan rakyat. Justru sangat tidak etis ketika penderitaan 
> masyarakat yang semakin berat, Jenderal masih berharap empati dari rakyat. 
> Justru kita semuanya masih berharap dalam sisa waktu kepemimpinan yang ada, 
> Jenderal dapat merubah kepemimpinannya dari terkesan peragu menjadi inisiator 
> yang tangguh. Dalam konteks perpolitikan, jika Jenderal tetap mempertahankan 
> gaya kepemimpinan poco-poco (sebagaimana yang diistilahkan pihak oposisi), 
> tidak menutup kemungkinan Jenderal akan gagal mendapatkan rapor yang 
> membanggakan dalam catatan sejarah kepemimpinan nasional. n
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
>  
> 
> 
>       New Email names for you! 
> Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and 
> @rocketmail. 
> Hurry before someone else does!
> http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke