Keributan kembali terjadi di Pansus Hak Angket Bank Century. Kali ini ribut-ribut terjadi antara anggota pansus dari Fraksi Partai Demokrat Ruhut Sitompul dan anggota pansus dari Fraksi PDI Perjuangan Maruarar Sirait. Pangkal persoalan adalah soal aliran dana.
Saat itu Ruhut kebagian bertanya kepada mantan Kabareskrim Komjen Pol Susno Duadji yang menjadi saksi kunci dalam pemeriksaan pansus Rabu 20 Januari 2010. Saat itu Ruhut meminta klarifikasi dari Susno soal aliran dana yang disebut-sebut mengalir ke sejumlah petinggi Partai Demokrat dan lingkaran terdekat Presiden SBY, seperti keluarga Mallarangeng, Hatta Rajasa, Edi Baskoro Yudhoyono alias Ibas. Sebelumnya Ruhut menyiindir soal rekan pansus lainnya yang selalu menyoroti soal aliran dana bank. "Pertanyaan ini seperti yang selalu ditanyakan rekan yang dipojokan sana," kata Ruhut. Semula Maruarar yang biasa dipanggil Ara, menahan diri. Namun ia akhirnya terpancing pernyataan Ruhut, sehingga melakukan interupsi saat Ruhut sedang bertanya. "Kalau Anda dengan santai bisa menyebut Presiden SBY, kenapa Anda tidak langsung menyebut nama saya. Kenapa?" tanya Ara. Ara lalu mempertanyakan kepada pimpinan pansus, Saca Wirya dari Demokrat soal etika pansus karena sesuai kesepakatan anggota tidak diperkenankan mengomentari satu-satu di antara anggota pansus. "Kalau mau konsekuen sebagai fraksi pansus, jangan mengomentari. Ayo, saya bisa saja komentari satu per satu orang kalau mau, tapi saya menahan diri, saya konsekuen. Kita fokus tanya kepada Pak Susno, jangan komentar ini itu," kata Ara. Ara atas nama PDI Perjuangan mengaku konsekuen tidak akan menyebut nama partai. "Kita harus konsekuen. Mengutip pernyataan Bung Karno, satukan perkataan dan perbuatan, bukan hanya perkataan saja," tegas Ara. Tidak mau kalah, Ruhut yang sejak tadi sudah hendak bicara dengan kencang berkata. "Saya juga penyambung pesan Bung Karno, penyambung lidah Partai Demokrat. Ingat Ara, semangat kita Fraksi Pansus. Saya tidak sebut Ara atau partai tadi. Ingat jangan diputar balik, saya ini pengacara," kata Ruhut yang di rapat pansus mengaku sebagai salah satu dari tiga pengacara besar di Indonesia. Ara yang terlihat emosi menyahut omongan Ruhut. "Kalau begitu kita juga tidak perlu mengomentari orang-orang di pansus. Pimpinan tolong tegas, ini supaya jelas, tolong dengar, apakah semua bisa berkomentar soal anggota pansus lain. Kalau iya katakan, kalau jangan ya jangan. kalau boleh mulai sekarang saya akan komentari orang per orang," teriak Ara. Saca kemudian menegaskan bahwa sesuai kesepakatan sebagai fraksi pansus, maka semua pertanyaan harus fokus kepada saksi. Meski Saca sudah menegaskan hal itu, sesama anggota pansus tetap ribut. Bahkan Bambang Soesatyo dari Partai Golkar berteriak soal ketidaksenangannya dengan ulah Ruhut yang terus menerus menyebut nama Jusuf Kalla. "Kami keberatan nama JK terus disebut-sebut," cetus dia. Tidak hanya Bambang, Akbar Faisal dari Partai Hanura juga ikut berkomentar. Kali ini Akbar mengingatkan soal etika pansus yang dikritik masyarakat, termasuk Presiden SBY. "Pansus ini tidak menyangkut satu orang. Karena ulah satu orang kita kena semua. Kita dikritik soal etika, jangan sampai karena etika satu orang kita kena semua. Siapa sebenarnya pelanggar etika itu?" tanya Akbar. Ruhut akhirnya terdiam dan kembali fokus bertanya kepada Susno soal aliran dana dan peran Menkeu dalam pengungkapkan kasus kejahatan bank yang dilakukan Robert Tantular. Ini bukan pertama kalinya Ruhut bikin ribut, sebelumnya sia juga ribut dengan anggota Pansus lain, Gayus Lumbuun. Bahkan sampai keluar kata-kata kotor dari mulutnya. Ruhut juga sempat membuat sejumlah anggota Pansus tersinggung saat dia memanggil Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla dengan sebutan Daeng.
