http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2010012101321968


Kamis, 21 Januari 2010

OPINI


Agama, Negara, dan Kemiskinan 

Muslim
Alumnus IAIN Raden Intan Lampung, Pemimpin Umum Lembaga Pers Mahasiswa
Islam (LAPMI) Cabang Bandar Lampung.


FENOMENA kemiskinan di negeri ini ternyata semakin memprihatinkan. Mereka yang 
tidak tersapa oleh kelayakan hidup telah menjadi pemandangan biasa yang acap 
kita pergoki dalam setiap berita di koran maupun televisi. Faktor utamanya, tak 
lain diakibatkan dari telikungan kapitalisme global, keserakahan penguasa, dan 
kekurangpedulian para agamawan.

Proses pemiskinan ini pun kian menjadi-jadi ketika tingkat pengangguran semakin 
tinggi, daya beli rakyat semakin merosot, kelangkaan bahan pangan, dan 
melambungnya harga kebutuhan pokok masyarakat. Kemudian diperparah lagi dengan 
kondisi perekonomian dunia yang kacau-balau. Sedemikian miskinnya masyarakat, 
sehingga pembagian beras bulukan tetap ditunggu dan nasi aking menjadi santapan 
sehari-hari.

Dalam menghadapi kegetiran hidup dan kenestapaan ini, tak sedikit warga yang 
frustrasi. Bahkan, yang lebih tragis, seorang bapak tega bunuh diri karena 
merasa tak sanggup memenuhi kebutuhan keluarganya. Kita tidak bisa membayangkan 
akan seperti apa masa depan bangsa ini. Berbagai bentuk kejahatan, manipulasi, 
korupsi, dan kecurangan yang dilakukan pejabat negara telah menjadi kebudayaan 
akut yang membutuhkan rentang waktu panjang untuk menguranginya.

Penggusuran tanah kaum miskin yang hampir tiap saat ditayangkan di televisi 
dengan dalih pembangunan untuk kepentingan umum, adalah fenomena biasa yang 
akan terus kita tonton. Padahal, yang dibangun adalah jalan tol untuk 
kepentingan pemilik mobil mewah dan kendaraan mahal lainnya. Pengendara sepeda 
atau becak tak bisa lewat di sana. Yang dibangun adalah mal untuk berbelanja 
bagi orang berduit. Yang dibangun adalah ruko untuk para pedagang besar. Lalu, 
di mana slogan ekonomi rakyat selama ini yang selalu dilontarkan pemerintah?

Di sisi lain, puluhan anak jalanan harus merelakan dan menukar masa indahnya 
dengan menjadi peminta-minta di lampu merah. Menjadi pemulung sampah dari satu 
tempat ke tempat lain. Tragisnya lagi, nun jauh di sana, sekelompok orang Islam 
"menikam" saudaranya sendiri dengan dalih sesat.

Anehnya, para agamawan kita tampak tidak mau ambil pusing. Buktinya, belum ada 
sikap tegas dari mereka atas privatisasi perusahaan negara atau penggusuran 
lahan pedagang kaki lima, misalnya. Padahal, yang paling dirugikan dari 
kebijakan itu adalah mayoritas masyarakat bawah, yang rata-rata menggantungkan 
hidupnya dari pertanian, bekerja menjadi buruh pabrik, dan pemulung sampah.

Kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan menjadi pemandangan yang lazim di 
negeri ini. Mereka menjadi marginal, akibat tiadanya aksesibilitas yang 
menjembatani kesempatan kerja dan dikuasainya tanah oleh koorporasi megaraksasa 
dari kapitalisme global. Jangankan untuk meningkatkan taraf hidup menjadi lebih 
baik, bisa membuat perut kenyang saja merupakan sebuah kebahagiaan yang tak 
terhingga.

Inilah "lingkaran setan kemiskinan" yang mesti diputus. Karena miskin, 
anak-anak mereka tak bisa mengenyam pendidikan dengan layak. Ujung-ujungnya, 
mereka tak mendapatkan pekerjaan yang baik dan memiliki penghasilan rendah. 
Karena berpenghasilan rendah, mereka tak bisa memenuhi kebutuhan hidup yang 
paling mendasar. Akhirnya, mereka kembali menjadi miskin. Dan begitu 
seterusnya. Sikap menerima kemiskinan sebagai takdir (given) adalah suara 
lantang yang acap didengungkan agamawan kita selama ini. Tuhan hanya 
dipersepsikan sebagai perumus absolut yang mengatur nasib perubahan manusia.

Ternyata, fatalisme yang disebabkan oleh kesadaran naif ini terus berkembang ke 
tengah-tengah kehidupan beragama. Seperti sebuah virus, ia terus menjalar dan 
menjadi mapan dalam pemikiran keagamaan. Tumbuhnya fatalisme ini diakibatkan 
sulitnya umat Islam menerima ide-ide pembaruan, karena menganggapnya sebagai 
tidak islami. Sehingga, mereka melulu meneguhkan cara beragama yang 
kontraproduktif dengan semangat zaman. Kedangkalan pemahaman agama tentang etos 
kemajuan ini pun menjadi akibat yang tak terelakkan.

Selain itu, keculasan negara melalui paham pembangunanismenya juga bisa kita 
tunjuk sebagai penyebab terjadinya kemiskinan. Sebab, sampai kini sedikit 
sekali proyeksi pembangunan yang dapat merangsang tumbuhnya produktivitas 
kerja. Pembangunan yang dijalankan pemerintah terbukti telah melemahkan sektor 
riil masyarakat (umat) level bawah. Hadirnya supermarket di tengah-tengah pasar 
tradisional, misalnya, adalah dampak paling gamblang darinya. Pasar modern itu 
memberikan pelayanan dan keasyikan tersendiri bagi para konsumen. Akibatnya, 
pedagang tradisional yang berteduh di pasar yang sumpek tak dapat meraup 
keuntungan, tapi malah kerugian dan kehilangan lapangan pekerjaan.

Begitulah realitas yang tengah terpampang lebar di depan kelopak mata kita. Di 
satu sisi, suara lantang agamawan yang menyeru kedamaian dan kebahagiaan hanya 
terdengar dari menara gading; dan di sisi lain, negara terus melancarkan misi 
pembangunannya meski harus menyingkirkan rakyat yang kerap dianggap "sampah".

Rentetan fakta dari beragam problem kemanusiaan yang membuat miris ini, 
ternyata belum menyadarkan kita bahwa sebagai bangsa, Indonesia sedang 
menyongsong krisis sosial yang sangat menakutkan. Kehidupan beragama kita pun 
menjadi tak tentu arah, karena umatnya, khususnya kalangan elite agama, tak 
mampu mewujudkan bahwa Islam sebagai rahmatan lil'alamiin.

Maka, sah-sah saja jika ada yang menggugat di mana tanggung jawab profetik 
negara atas berbagai peristiwa memilukan itu? Ke mana para agamawan? Sungguh 
amat jauh bentangan antara retorika yang didengungkan pejabat dan agamawan kita 
di hotel mewah dengan fakta empiris di lapangan. Seharusnya mereka mau dan 
mampu terjun ke bawah melihat segala patologi sosial yang terjadi, daripada 
mengeluarkan undang-undang dan fatwa-fatwa yang kurang terasa manfaatnya bagi 
kehidupan rakyat kecil.

Alhasil, agenda utama yang musti segera diselesaikan adalah bagaimana agama 
mampu membuktikan ia benar-benar membawa keberkahan bagi umat manusia. Selain 
itu, negara juga musti memperkuat sistem kenegaraan dengan mewujudkan good 
governance yang bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) serta 
menyediakan segala kebutuhan rakyat tanpa ada diskriminasi kaya-miskin ataupun 
mayoritas-minoritas.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke