Refleksi: Kalau tidak gagal berarti terdapat kemajuan signifikan bagi perbaikan 
hidup rakyat mayoritas dan juga tidak perlu diminta militer amankan 
pemerintahan dalam 5 tahun.
  
Jawa Pos 
[ Selasa, 26 Januari 2010 ] 



SBY Dituding Gagal Menjalankan Pemerintahan 
Respons atas Rencana Demonstrasi 28 Januari 

JAKARTA - Rencana demonstrasi besar-besaran aktivis Gerakan Indonesia Bersih 
(GIB) dengan dukungan kelompok mahasiswa yang terhimpun dalam Kelompok Cipayung 
Plus mengusik kubu SBY. Sebab, aksi demonstrasi yang digelar pada 28 Januari di 
depan Istana Negara itu mengusung isu yang sangat sensitif, yakni SBY dituding 
gagal menjalankan pemerintahan.

''Bagaimana dasar rasionalitas pemerintahan divonis gagal dengan ukuran program 
seratus hari. Apalagi, program seratus hari di semua departemen dan kementerian 
sejauh ini berjalan baik,'' ujar Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum di 
gedung DPR kemarin (25/1).

Menurut dia, demonstrasi memang suatu proses yang wajar dan sah dalam 
demokrasi. Tapi, pelaksanaannya harus sejalan dengan prinsip-prinsip demokrasi 
itu sendiri. Dalam konteks itu, tegas Anas, mosi tidak percaya, apalagi 
tuntutan mundur kepada SBY, termasuk berseberangan dengan prinsip demokrasi.

''Bagaimana ada mosi tidak percaya dari ribuan orang kepada pemerintahan baru 
yang dipilih secara demokratis oleh lebih dari 70 juta pemilih,'' katanya.

Anas menambahkan, demokrasi akan sehat dan berguna bagi rakyat kalau dijalankan 
secara konstitusional. Bukannya dijalankan dengan mengikuti selera 
masing-masing orang. ''Kalau itu sampai terjadi, demokrasi akan jatuh ke jurang 
anarki. Itu memang harapan orang-orang yang pantas diragukan kewarasannya,'' 
kritik Anas, pedas.

Ada rencana untuk menggelar aksi tandingan? ''Tidak terpikir oleh Demokrat 
untuk bikin demo tandingan. Agenda lain sebagai penanda seratus hari itu juga 
tidak ada,'' jawab mantan ketua umum PB HMI itu.

Terpisah, puluhan aktivis GIB kemarin mematangkan rencana aksi demonstrasinya 
di Sekretariat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Jalan 
Sam Ratulangi, Jakarta Pusat. Tampak hadir sejumlah pentolannya, seperti Yudi 
Latief, Effendi Gazali, Usman Hamid, Ray Rangkuti, Chalid Muhammad, Dita 
Indahsari, Marwan Batubara, dan Haris Rusli Moti.

Mewakili para aktivis, Usman Hamid menjelaskan bahwa massa akan berkumpul di 
depan gedung Indosat, Jalan Medan Merdeka Barat. Tepat pukul 13.00, mereka akan 
melakukan long march menuju Istana Presiden. ''Kami mengajak seluruh rakyat 
untuk menggabungkan diri,'' kata koordinator Kontras itu.

Pakar komunikasi politik UI Effendi Gazali, dengan nada bercanda, mengatakan, 
dalam aksi demonstrasi nanti, mereka akan me-launching lagu berjudul Ku Yakin 
SBY Gagal. ''Kami menilai SBY gagal memimpin negara ini,'' ujarnya.

Dia juga memastikan GIB dalam melakukan aksinya selalu mengedepankan etika. 
Yang mereka lakukan juga aksi damai dan tidak ditunggangi atau dibiayai siapa 
pun. Bahkan, gerakan tersebut steril dari peran tokoh-tokoh parpol.

GIB mencatat lima bentuk kegagalan pemerintahan SBY. Yakni, gagal melindungi 
kedaulatan dan ketahanan ekonomi nasional; gagal menegakkan negara hukum; gagal 
melakukan pemberantasan korupsi; gagal menyejahterakan dan melindungi petani, 
buruh, nelayan, kaum miskin perkotaan, dan buruh migran; serta gagal 
mencerdaskan dan menyehatkan kehidupan bangsa.

''Penyebab kegagalan itu adalah faktor kepemimpinan SBY yang lemah, yang lebih 
mengutamakan program pencitraan ketimbang program riil dalam kehidupan 
rakyat,'' ungkap Usman Hamid. (pri/tof)







[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke