http://www.gatra.com/artikel.php?id=146014

Pemulangan
TKI Asal Magetan Sakit Misterius


Madiun, 7 Maret 2011 14:08
Sulastri, 40 tahun, TKI asal Desa Botok, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan, 
Jatim, yang bekerja di Arab Saudi, dipulangkan ke Tanah Air, karena menderita 
penyakit misterius.

Saat ini, ia sedang dirawat di Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Aisyah, Kota 
Madiun. Akibat sakit misteriusnya tersebut, gajinya selama bekerja sebagai 
pembantu rumahtangga di Arab Saudi pun habis. Namun hingga kini, penyakit yang 
belum diketahui itu, tak kunjung menunjukkan perbaikan.

"Kami tidak tahu ia sakit apa. Dokter sendiri tidak menyebutkan sakitnya apa. 
Mulai dari pinggul sampai kaki bengkak. Tubuh Sulastri juga tidak bisa 
diterlentangkan karena sakit. Gajinya sudah habis untuk berobat ke sana 
kemari," ujar adik Sulastri, Yayuk, yang menunggui di RSI Madiun, Senin (7/3).

Menurut Yayuk, dari rumah sakit di Arab Saudi sudah ada hasil rekam medis, 
termasuk foto rontgen. Namun setelah dilihat di RSI, hasil rontgennya tidak 
jelas. Saat tiba di Indonesia, Sulastri sempat dirawat di Rumah Sakit 
Kepolisian Republik Indonesia (RS Polri) Jakarta.

"Namun karena di Jakarta tidak ada sanak saudara, akhirnya saya bawa pulang 
dari RS Polri ke Magetan pada Kamis (24/2) dan berobat ke pengobatan 
alternatif, namun belum ada hasilnya. Akhirnya, keluarga memutuskan untuk 
membawa ke RSI sejak Kamis (3/3)," kata Yayuk.

Sulastri bekerja menjadi TKI di Arab Saudi sejak 2 Februari 2009. Di Arab 
Saudi, Sulastri sudah pernah dirawat, namun tidak sembuh-sembuh dan akhirnya 
pulang ke Indonesia.

Sebelum dipulangkan ke Indonesia, Sulastri sempat ditampung di lokasi 
penampungan bersama TKI-TKI lainnya di Arab.

"Teman-temannya sesama TKI akhirnya menyarankannya pulang ke Tanah Air untuk 
mengobati sakitnya yang misterius itu. Namun, Sulastri tidak menyebutkan apakah 
penyakit yang dideritanya itu akibat perlakuan majikan di Arab Saudi atau 
bukan," tutur Yayuk lagi.

Sulastri juga tak menjelaskan bagaimana perlakuan majikannya selama ia bekerja. 
Ia juga tidak menjelaskan di kota mana ia bekerja serta Perusahaan Pengerah 
Tenaga Kerja Indonesia (PPTKI) mana yang memberangkatkannya.

Atas kondisinya ini, pihak keluarga berharap kepada pemerintah daerah setempat 
untuk membantu kakaknya. Apalagi, gaji selama menjadi TKI sudah habis untuk 
berobat.

Sebelumnya, nasib nahas juga dialami TKI asal Desa Tunggur, Kecamatan Lembeyan, 
Magetan, Silam (40), yang pernah bekerja di Hongkong dan akhirnya meninggal 
dunia, karena menderita tumor payudara dan asam lambung.

Jenazah TKI itu akhirnya dimakamkan di kampung halamannya pada 23 Februari 
lalu, setelah pemerintah daerah dan pusat bekerja sama memulangkannya. [TMA, Ant

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke