Unjuk Rasa Mahasiswa
Kecewa pada SBY, Mahasiswa Gantung Diri
Penulis: Imanuel More | Editor: Nasru Alam Aziz 
Rabu, 9 Maret 2011 | 19:43 WIB
 
Humas Front Mahasiswa USNI
Dua mahasiswa melakukan aksi gantung diri di jembatan penyeberangan di depan 
Kampus USNI, Jalan Iskandar Muda, Kebayoran, Jakarta Selatan, Rabu (8/3/2011). 
Aksi ini sebagai simbol kekecewaan terhadap kinerja Pemerintahan SBY-Boediono. 

JAKARTA, KOMPAS.com - Dua mahasiswa menggantung diri di jembatan penyeberangan 
di depan kampus Universitas Satya Negara Indonesia (USNI), Jakarta, Rabu 
(9/3/2011). Mereka melakukan aksi tersebut sebagai ekspresi kekecewaan terhadap 
kinerja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).  

Aksi yang berlangsung sekitar satu jam itu merupakan bagian dari unjuk rasa 
mahasiswa yang tergabung dalam Front Mahasiswa USNI dan Aksi Mahasiswa Nasional 
Demokrat (Amanad) Universitas Bung Karno (UBK). "Rezim SBY-Boediono sudah 
gagal," kata Irwan dari Amanad UBK. 

Irwan menjelaskan, rezim SBY-Boediono telah gagal menyejahterahkan masyarakat. 
Harga bahan bakar minyak naik, tenaga kerja Indonesia tidak memeroleh 
perlindungan, dan jumlah masyarakat miskin meningkat. "Sementara itu, para 
koruptor tidak mampu ditangkap dan kasus Bank Century tidak jelas arah 
penyelesaiannya," tambah Wahyudin, mahasiswa lainnya. 

Selain dua mahasiswa yang menggantung diri di jembatan penyeberangan dengan 
berpakaian jas dan bertopeng wajah SBY dan Boediono, tiga mahasiswa pun 
bertelanjang dada dan mengecat tubuhnya dengan cat putih yang dibubuhi tulisan, 
"Turunkan SBY-Boediono". 

Melalui aksi tersebut, menurut Dwi yang menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri 
Presidium Mahasiswa USNI, mahasiswa mengajak masyarakat bersikap kritis 
terhadap pemerintahan yang gagal menyejahterahkan masyarakat.



150 Kepala Daerah Diperiksa Karena Dugaan Korupsi APBD
 
Republika - Kamis, 10 Maret
REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA-- Banyak kepala daerah di Indonesia menjalani 
pemeriksaan menyangkut temuan Badan Pemeriksa Keuangan terkait dengan anggaran 
yang digunakan, kata Ketua Panitia Akuntabilitas Publik Dewan Perwakilan Daerah 
Farouk Muhammad.

"Presiden sudah menandatangani persetujuan izin pemeriksaan kepala daerah oleh 
aparat yang berwenang lebih dari 150 orang. Hal itu yang menjadi ganjalan bagi 
kami dalam memperjuangkan anggaran bagi daerah," katanya saat melakukan 
kunjungan kerja di Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Istimewa Yogyakarta 
(DIY), di Yogyakarta, Rabu.

Oleh karena itu, menurut dia, Panitia Akuntabilitas Publik (PAP) Dewan 
Perwakilan Daerah (DPD) ingin mencoba mengambil langkah-langkah bagaimana agar 
tertib administrasi bisa betul-betul diwujudkan. "Dengan demikian, pada 
waktunya kami boleh berbicara, boleh bersikap keras dan tegas untuk 
memperjuangkan anggaran pemerintah pusat sebanyak mungkin diturunkan ke 
daerah," katanya.

Ia mengatakan DPD ingin menempatkan diri sebagai mitra pemerintah daerah. 
Namun, dalam memperjuangkan anggaran bagi daerah ada dilema yang harus 
dihadapi. "Anggaran pemerintah pusat sekitar seribu triliun rupiah lebih, 
tetapi hanya 30 persennya yang turun ke daerah, sehingga DPD memandang konsep 
otonomi yang diperjuangkan perlu diluruskan kembali," katanya.

Kirim email ke